Tags

MemelukKetakutan(mu)

MemelukKetakutan(mu)

 

Aku tak akan berhenti menuliskan surat untukmu, tiap tahun, pada hari yang sama, di tanggal yang (mungkin) paling kaubenci. Hingga musim yang berhalimun kembali; hingga gemuruh mereda dari hati; atau hingga pagi ialah doa-doa yang buncah dari mimpi.

Tidak kah kau lelah, sayang?

Mencari arti yang paling hakiki, sedang kautahu menepaki bumi tak mungkin berakhir dari satu sisi. Bersembunyi dari hari, meski kautahu jarum jam belum ingini berhenti. Mencuri angin yang mati, sementara kautahu tubuhmu lebih perlu dilindungi daripada dikuliti.

Biarkanlah waktu mengurai serpihan tahun yang kerap kau coba mengerti, mengapa diharuskan terjadi. Petang tak kan bergegas datang, sayang – hingga siang mengulurkan nadinya untuk berbagi. Dan kau tak perlu menghantui langkahmu sendiri, sebab aku ditakdirkan untuk memeluk ketakutanmu yang kerap kaudustai.

Lenganku ialah keberanianmu, dan dadaku ialah kesabaranmu. Di sana, bermainlah dengan ketakutanmu. Percayalah, ada aku yang percaya –bahwa ada perempuan yang lebih kuat dari masa lalu.

Bukalah matamu, sayang.

Banyak buku yang bisa kaubaca, banyak kertas yang perlu dituliskan sejarah; dan kau, meski dengan kaki yang penuh luka, hanya perlu menggunakan sepatu yang tepat – untuk berlari lebih kencang, ke arah mimpi yang kelak meluruhkan segala duka.

Terkadang, terlalu banyak arah hanya akan membuatmu melupa, bagaimana seharusnya melangkah. Kumohon, berserah meski sekadar, berhentilah memaksa arah yang kerap menjarah isi kepala. Beri aku sedikit cinta, meski pelukanku tak lagi menjadi rumah.

Setubuhi perihmu dengan cuka paling sunyi, ketika dunia memperolok-olokan ketololanmu memilih tirai lain daripada bercerai. Tahu apa mereka perihal senja yang mati bunuh diri; dan perihal malam yang tak berjanji apa-apa, selain pagi yang kerap merenggut mimpi?

Rebahlah di dadaku, ketika kau lelah. Biarkan lenganku, menjadi pengingat –untuk apa kakimu berada di sini. Biarkan luka-luka itu tetap menjadi sejarah meski dimakan usia, agar kelak menjadi lidahmu untuk menertawakan dunia.

Berjuanglah meski hari ini, kembali kau diluruhkan usia. Dan aku minta maaf, jika kerap kali aku mendustai bahwa kau pantas untuk dicintai.

Terima kasih, untuk tetap kuat.

 

 

Tertanda,

Dirimu Sendiri.