Tags

Harga Sebuah Pelukan; Di Manakah Rumah Tuhan, Tuan?

Harga Sebuah Pelukan;
Di Manakah Rumah Tuhan, Tuan?

Kepada tuan yang enggan kudekap,

Katakan padaku, bagaimana lagi aku harus memulai surat ini? Surat kesekian yang kuhancurkan sebelum sampai tanganmu. Surat fasid yang kerap dilumat harkat, sebab pelukan lebih mahal dari nilai jual rumah dan segala materi yang kaupunya. Katakan padaku, tuan. Perlukah kujual perpisahan untuk mengemis hangat lengan –yang mulai hilang sejak aku dirajah usia?

Terkadang, aku ingin sekali meminjamkan pundak. Tidak, tuan, kau tidak perlu mengeluarkan rupiah. Gunakan saja, jika itu mampu memupuskan lelah. Gantilah, mungkin dengan telinga yang mau bekerja; jemari yang mampu menggerus ragu di helai poni yang kubelah dua – tentu saja, kuharap jemarimu tak kan berat sebelah; atau dengan lengan yang kerap lupa jalan pulang, namun tetap kunantikan tiap senja tiba.

Bisakah kita berhenti mencaci dan mulai mencintai lagi? Sebab aku tak punya banyak rupiah untuk menukar sebuah pelukan. Katakan padaku, tuan. Berapa harga sebuah pelukan yang telah lama hilang?

Adakah depa yang hilang, sebab kita lupa bahwa detak tak selamanya ada? Ataukah sebab kita yang terlalu mengingat, mengapa Tuhan kita bernama dua?

Tuan,

Tawa adalah hidangan manis di meja makan, tapi tak kan berarti apa-apa, jika itu tak mampu menghapus luka yang berkarat di masing-masing dada. Jangan biarkan tehmu dingin dicekik persepsi manusia, terisi penuh atau tidak, bisakah kita habiskan dalam satu masa?

Berhentilah memaksa kakiku untuk melangkah, itu hanya rumah, tuan –bukan, rumah Tuhan. Tuhan ada di masing-masing dada manusia, dan kitalah yang merawat bagaimana seharusnya rumah itu ada.

Jika yang kukatakan salah, katakan padaku,

di mana rumah Tuhan, tuan?

Adakah berada di sana menjadi harga mati untuk pelukan seorang ayah?

Tertanda,

Gadis kecilmu yang merindukan pulang.