Wahai diam yang gamang,

Setelah kita berpisah ratusan ribu kilo mil, dengan banyak batas negara yang perlu dilewati atau musim-musim yang gugur sebelum ini; adakah nama kami pernah menjamah di antara doamu paling getir?

Aku kerap melihat ibu membelah diri dalam cermin, menyusun kitab-kitab yang tak berpenghuni, demi mendengar suaramu meski sedikit. Ia merindukanmu seperti kami di sini. Tak jarang pula kulihat Ayah merapikan dasi atau mengurangi nasi, agar kau mampu membeli segala yang kaupilih.
Sudah sampai mana kakimu mendaki? Adakah gunung dengan puncak tertinggi, mampu melebihi kasih kami? Ataukah sebab perempuan berkulit bulan mati; yang membuat langkahmu mati suri bernavigasi?

Wahai diam yang mandul gravitasi,

Adakah kabut terlalu tebal menyelimuti? Hingga sulit matamu untuk tetap mencintai. Berapa musim lagi yang perlu kami aborsi, untuk mendapatkan lima cangkir kopi yang kauseduh sendiri? Kau melewatkan banyak tawa yang menelanjangi bumi, melewatkan banyak sungai yang perlu kami semai sendiri, agar kelak nanti, rumah ini mampu membuat kakimu berhenti –tanpa makna-makna ganjil yang perlu kaugenapi.

Kembalilah,
Wahai diam yang patah hati.

Pulang sesungguhnya tak sejauh ujung bumi. Apalah arti sebuah rumah jika keluarga nihil terisi? Percayalah, kami lebih dari sebuah tradisi. Sebuah arti yang kelak kau sesali sebab kakimu memilih pergi. Rupiah yang kaucari tak kan pernah sebanding dengan keriput-keriput yang menjajah pagi atau detik yang kelak dipaksa bunuh diri.

Berhentilah di ujung ranjang, sebelum lampu kota bercinta lagi; sebelum ibu menusuki hati dengan belati; sebelum malaikat bertamu di rumah kami. Simpanlah amis darah itu di saku kiri, biar kukunci mulut ini hingga rumah ini melahirkan pagi.

Wahai diam yang lahir dari sungai seperti kami,
Bisakah kau kini memfungsikan lidah yang tercuri? Mampukah kau menjawab semua pertanyaan ini, tanpa perlu menulisi nama masing-masing di epitaf sendiri?
Kembalilah, wahai diam yang berlirih nyeri.

 

 

Tertanda,

Adik-adik kecilmu yang merindukan kakaknya kembali.