Tags

 

Redupkan lentera, nyalakan lilin di atas altar. Surat ini mungkin tak mampu menahan napas, hingga pagi datang.

 

Duhai pagi yang ganjil,

Kukirimkan surat yang lupa alamat, mungkin ia geram, menggantikan malam dengan sehunus pedang. Dua musim, sebelum akhirnya kutuliskan lagi, surat untukmu yang gemar menelan getir. Anggap saja, jika ini bukan surat cintaku yang terakhir, kau bisa membakarnya sebab cinta yang satir.

Kakimu ialah siratan takdir, yang tak mampu kausuratkan kepadaku, anjing yang mencari bau tuannya. Mengenduskan napas, sebab menariknya ke dalam terlalu nyeri dikabarkan. Katakan saja pada angin, yang mencuri waktu dari dahan yang kering. Di mataku, debu-debu melekat menanti berkarat. Pada pintu yang tak terkunci rapat, aku menaruh berlembar-lembar doa, mengharapkanmu membaca – meski dekap kini menua.

Mungkin kau lelah, ditikam usia dan dipaksa untuk bercinta. Pada tradisi yang ingin dilupa, atau dahaga yang kian memerah. Pada detik-detik yang gagal kita terjemahkan, selalu ada hati yang terpatahkan. Entah karena jelaga yang tak mampu marah, atau kita yang melupa bagaimana seharusnya ada.

Adakah diharuskan untuk menghancurkan cermin di hadapan kita? Menyimpan kepingan yang patah di masing-masing dada. Hingga kelak, uban-uban mewarnai rambut di kepala, menyisakan kotoran-kotoran berepitaf penyesalan. Aku tak mampu memintamu untuk melukiskan sejarah dengan tinta berwarna ganda, yang nantinya membuat depa di antara kita semakin besar kepala; atau memintamu untuk menyemai episode-episode yang terlanjur berusia, yang nantinya pun hanya tertinggal mendung di masing-masing kita.

Katakanlah padaku,

Bagaimana seharusnya langit memeluk bumi tanpa perlu menangis? Jika bumi begitu setia menanti langit, adakah ia merasakan daun yang rela mati sebab cintanya kepada bumi. Mungkin kau akan menyalahkan angin, yang terus menggoda ranting, untuk memeluk bumi meski dipaksa mati. Haruskah kau begitu tinggi mencari arti, hingga lupa segala yang mati mampu membuatmu hidup kembali?

Ah, lupakan saja. Aku bukan langit yang mampu memberimu cermin surgawi, mungkin aku hanya daun kering – yang kelak hanya menanti waktu untuk bunuh diri atau ditanggalkan demi ikatan suci.

Berbahagialah dengan doa-doaku di genggaman. Sejauh apapun kakimu melangkah, kau tahu, kau bisa pulang kapan saja.

 

Terima kasih untuk tetap setia merentangkan pelukan,

meski kutahu tak bisa lagi kusebut rumah.

 

 

Tertanda,

Perempuan yang lahir dari rahim yang sama.