Tags

Lembongan, 2012.

Lembongan, 2012.

 

Kepada,

Perempuan yang gemar sekali menari; Soloist Danseuse.

 

Padaku, semua begitu samar di dua September lalu. Perkenalan ragu dengan tawa yang masih semu. Mungkin diperlukan dua pulau, untuk kita ditakdirkan bertemu. Tempat yang cukup jauh untuk dua perempuan yang memiliki mimpi ini-itu, yang pada akhirnya pun kembali ke ketiak ibu.

Bagaimana kabarmu?

Terima kasih untuk surat penyambutanmu kemarin. Kau benar, perihal ibu yang akan selalu merentangkan pelukan, teh hangat yang terisi penuh, atau tentang lelucon tahun yang baru. Buku yang tak ingin kututup nyatanya lebih suka menuliskan sejarahnya, meski jarang kutemukan utuh di tiap halamannya.

Masih ingatkah kau? Perihal mimpi yang kita lukis di langit-langit kamar? Bagaimana kaki-kaki kita menari melewati samudra, sebab rumah lebih gemar berdusta daripada bercinta. Atau ingatkah kau? Perihal malam yang kita rayakan dengan menghitung bintang siapa yang pecah; dengan sebotol minuman bercap orangtua? Di pantai-pantai yang entah kita namakan apa, dua orang perempuan dari tempat yang sama jauhnya dan satu mimpi yang tak seorangpun percaya.

Lihatlah sekarang?

Bintang-bintang yang kita lukis di langit-langit kamar, buncah di kaki masing-masing kita. Membuat mimpi lebih mudah melangkah, tanpa perlu menutup mata. Kita, ialah doa-doa yang malaikat aaminkan saat mendung masih menjamah dada kita; saat episode baru merengkuh memar di kepala; saat malam lelah berusia. Mengalah bukan berarti kalah, sayang. Kita adalah pemenang bagi ego yang mampu kita tahan; sebab janin kesabaran akan menemukan wajah, dan kita hanya perlu merawat dengan bergelas-gelas doa.

Tak perlu bersusah, bukan berarti kita berhenti berusaha dan percaya. Terima kasih untuk mengerti, bahwa jeda tak perlu ada, meski isi kepala berbeda. Kau tahu? Mungkin itu yang kuperlukan sekarang.

Menarilah di atas samudra, tuliskan sejarah dengan sepatu merah muda. Simpan cemasmu di langit biru. Jika ketakutanmu mengetuk pintu, persilakan saja masuk. Beri secangkir teh hangat dan sepotong cerita; perihal mimpi dua orang perempuan yang dilukiskan di langit-langit kamar, setahun lalu.

 

Terima kasih, bajingan… uhm, maksudku, terimakasih untuk tetap ada, sayang.

I hate you… umn, typo. I love you.

 

 

Tertanda,

Perempuan yang selalu marah untuk menunjukkan cinta.

 

 

[PS: Jika surat ini sudah kaubaca lebih dulu, pura-pura saja terkejut ya. Anggap saja, ini surat cinta pertamamu dariku.]