20140210-175044.jpg

Senja-senja masih saja jatuh ke atas paha ringkih milik perempuan itu. Matanya serupa gadis kecil yang melihat gulali di pasar malam, tapi tidak dengan isi kepalanya —serupa mimpi buruk lucifer yang diputar berulang-ulang.

**

Malam tidak pernah ingkar akan gelapnya, begitu juga dengan mata yang ditelanjangi kejujuran oleh nyatanya kehidupan. Melalui celah pintu lemari ini, mataku dihujani musim yang memuakkan. Dua orang laki-laki besar bergantian menunggangi ibuku seperti kuda liar. Meski ibuku sudah berkali-kali memohon untuk berhenti, telinga kedua binatang itu ditulikan oleh nafsu mereka sendiri. Kugenggam pemberian ibu erat-erat, dadaku terlalu bergemuruh hebat untuk menuruti ibu, agar tidak keluar dan menggunakannya.

Tanpa menunggu lama lagi, segera kuberanjak dan keluar dari lemari itu. Sebelum kepala dua binatang itu menoleh kutarik pelatuknya dengan cepat.

Dorr! Dorr!

Dua peluru langsung menembus kepala mereka yang kuyakini tak ada isinya, dan menjatuhkan tubuh mereka ke atas lantai.

“Denias!!!” Teriak ibu. Segera saja kuberlari sambil memunguti sekenanya pakaian yang berserakan di lantai. Kututupi tubuh ibu yang penuh dengan memar itu.

Kurengkuh kepalanya, “maafkan Denias, Ibu. Seharusnya Denias tidak menunggu terlalu lama untuk menyelamatkan ibu. Maafkan, Denias.” Tangisku makin buncah, mendapati diriku yang terlalu bodoh menanti keajaiban di balik pintu, yang nyatanya, tak pernah lahir kecuali dari tanganku sendiri. “Mereka menyebut tentang hutang ayah, berapa besar hutang ayah hingga ibu harus seperti ini? Katakan, bu!”

Ibu menarik napasnya di sela tangisnya, “100juta. Dan ini hanyalah bunga yang harus dibayarkan dengan cara… menyetubuhi ibu.” Hujan semakin buncah di mata ibu, dan aku tak sanggup melihat ini untuk kedua kalinya.

“Di mana aku bisa nemuin si keparat untuk membayar hutang ayah?”

“Basecamp mereka ada di ruang bawah tanah Bornuise Cafe.”

Segera kutaruh kepala ibu dengan pelan-pelan dan beranjak pergi dengan terburu-terburu.

“Tapi kita tidak punya uang sebanyak itu, Denias! Kembali, nak! Kembali!” Teriakan ibu samar-samar kudengar ketika kakiku sudah berlari cepat keluar rumah.

Denias bersumpah, Denias tidak akan kembali ke rumah sebelum si keparat itu mengembalikan keluarga kita dengan utuh. Setelah ayah dan adikku diculik, kemudian Ibu yang disetubuhi, tidak akan ada yang lebih buruk dari ini. Denias berjanji. Maafkan Denias, bu.

**

“Berhenti di sini.”
“Mau melanjutkan cari uang di Bornuise? Hahaha, apa segini tidak cukup?” Setelah menginjak rem, pria tua berkumis yang menyetir di sebelahku itu melemparkan seikat 100 ribu ke wajahku, uang itu berjatuhan. Kupungguti yang terjatuh di paha dan kakiku, kumasukan ke dalam saku jaketku dengan terburu-buru. Meski dalam kegelapan, kulihat uang itu pun jatuh di dekat kaki sepatu milik pria tua itu. Saat tanganku ingin meraih uang itu, kurasakan ngilu dan perih di bagian kemaluanku, kulihat sekilas, ada darah yang menembus rok mini yang kugunakan. Aku memilih untuk tidak peduli dengan perih yang kurasakan, segera saja kuraih selembar uang itu.

Berapapun nominal yang tertulis di atas selembar uang itu, sangat berarti bagiku, bagi keluargaku. Aku tak peduli jika harus menjual kemaluanku demi berlembar-lembar rupiah. Rupiah yang akan menukar keutuhan keluargaku.

Maafkan Denias, bu.