“Ibu bohong! Katanya bianglala warna-warni, kenapa cuma hitam?”

Aku diam lalu menggenggam tongkatnya. Mata Sachi sudah dialiri kesedihan yang tak henti, hidungnya mulai memerah beriringan dengan isaknya –dan isakku sendiri, yang kutahan dalam diam. Aruna menolak untuk menerima tongkat yang kucoba beri padanya, ditepisnya tanganku dan tongkat itu. Tubuh Sachi berbalik arah, membelakangi bianglala, Sachi mencoba berjalan sendirian.

“Sachi! Nak? Tunggu Ibu!” Seruku sambil mengambil tongkatnya, kulihat lagi dari kejauhan, Sachi yang berjalan tak tentu arah akhirnya terjatuh. “Sachi!”  Segera kuberanjak dan berlari menuju kearahnya. Pipiku mulai memanas, air mataku sudah terjun bebas di kedua pipiku yang memerah.

“Maafkan ibu, nak. Maafkan ibu.” Kurengkuh kepalanya ke dalam pelukku, Sachi mengerang kesal, sedang asin air matanya terus saja membasahi luka di dadaku yang enggan mereda. Maafkan ibu, Sachi. Seandainya saja ibu bisa menghentikan penderitaanmu, ibu rela melakukan apa saja. Maafkan ibu.

**

Sore itu, seperti biasa, Sachi enggan beranjak dari tempat duduknya yang menghadap ke jendela besar di kamarnya. Untuknya, dengan duduk seperti itu ia mampu melihat dunia melalui telinga. Melalui jendela besar berdaun dua, menghadap langit yang dibatasi atap-atap rumah berwarna jingga dan merah. Dari jendela itu, angin membelai rambutnya yang lurus sebahu, serta membuat sinar matahari menari-nari di kulitnya. Wajah Sachi terlihat sangat cantik sekali, meski ia tak mampu untuk bercermin lagi kini.

Rencanaku untuk membawanya ke taman hiburan, benar-benar ide yang buruk. Kau tak pernah tahu rasanya, melihat orang yang kaucintai tumbuh akibat kesalahanmu sendiri dan kau harus membayarnya sepanjang tahun dalam penyesalanmu sendiri. Aku hanya ingin membuat Sachi tersenyum lagi setelah kejadian setahun yang lalu, dan kupikir, membawanya ke taman hiburan adalah ide yang baik. Tapi aku salah. Aku hanya semakin menegaskan keadaannya sekarang, membuat ia semakin membenci keadaan dan ibunya sendiri.

Knock! Knock!

“Siapa?” tanyaku, ketika seseorang mengetuk pintu rumah kami.

“Aku, kak.” Suara yang kukenali sebagai suara Anne, adikku, menjawab dari balik pintu.

Segera kuberanjak dari depan kamar Sachi ke pintu depan rumah kami. Memutar kuncinya ke sebelah kanan dan menekan gagang pintu tersebut. Ketika daun pintu itu terbuka, kami saling melempar senyum dan segera saja kupeluk dirinya sebentar, sebelum kupersilakan ia masuk.

**

Setelah ketukan pintu itu, kudengar ibu berbincang dengan seorang perempuan di ruang tamu. Suara seorang perempun yang sepertinya sangat familiar, seperti suara tante Anne. Suara yang tadinya diliputi sapa dan tawa, tiba-tiba mereda. Membuat telingaku kelaparan untuk mengetahui, apa yang sebenarnya mereka bicarakan. Kuberanikan diri untuk beranjak dari kursi ini, dan menuju ke arah pintu kamarku. Mungkin, dari sana aku bisa mendengar lebih perbincangan mereka.

Kuraba sisi kursi ini, kemudian kulanjutkan untuk meraba pinggiran tempat tidurku, yang akhirnya membawaku ke dinding dan menuju pintu kamarku. Kurapatkan telingaku dari sela pintu ini, agar aku bisa mendengar pembicaraan mereka. Sebab aku tahu, ibu enggan memperbolehkan tante Anne datang, kalau tidak ada masalah yang serius untuk dibicarakan. Ibu adalah perempuan angkuh, yang enggan menerima pertolongan orang lain selama ia masih mampu untuk mengerjakan suatu hal dengan tangannya sendiri. Semenjak kepindahan kami ke rumah ini, ibu selalu menolak kehadiran tante Anne, ia benci jika merasa dikasihani dengan keadaan kami yang seperti ini.

“Entahlah, Anne. Sachi kayanya ngebenci aku sejak kejadian setahun yang lalu. Seandainya, sejak awal aku gak perlu maksain Sachi untuk jadi pelukis; seandainya juga, Sachi gak aku paksain buat ikutan lomba itu, kami gak perlu datang saat itu.” Kudengar isak ibu dengan sedikit tertahan, “seandainya juga, aku gak perlu marahan sama Mas Raka, Sachi gak perlu kupaksa untuk duduk di depan. Seandainya, saat itu aku gak perlu berdebat dengan mas Raka; kecelakaan itu gak perlu terjadi, Anne. Gak perlu terjadi…” tangis ibu semakin menjadi-jadi.

“Sudah, sudah. Iya, Kak.” Tante Anne sepertinya mencoba untuk menenangkan ibuku yang masih saja terisak di tengah ceritanya.

“Kecelakaan itu gak perlu terjadi, Anne. Semua karena obsesiku sendiri. Mas Raka harus merenggang nyawa dan Sachi harus buta seperti sekarang. Semua salahku, Anne. Salahku!” Suara ibu merongrong cukup besar sekali, hingga suaranya mereda entah karena pelukan tante Anne atau apa.

Tubuhku seketika rubuh bersamaan air mataku. Benar bahwa aku membenci ibu karena membuat Ayah tiada, benar bahwa aku membenci ibu karena membuat aku buta. Aku membencimu, bu. Sungguh.

**

Hari ini, di akhir September, bertepatan dengan hari kelahiran Sachi. Sudah kupersiapkan kue ulang tahun yang kubuat dari semalam tadi, dengan dua lilin berbentuk angka 2 di atasnya. Biasanya, Aruna akan memanggilku setiap dia bangun tidur; agar aku bisa membantunya ke kamar mandi atau hanya sekedar ke ruang makan untuk menikmati teh hangat.

Sudah lewat pukul 8 dan Sachi pun tak kunjung memanggilku. Akhirnya kuputuskan untuk beranjak menuju ke kamarnya, kuketuk pintu kamarnya dan memanggil namanya beberapa kali, tapi tak ada jawaban dari Sachi. Asumsi mulai lincah mempermainkan isi kepalaku. Dengan perlahan, kutekan gagang pintu kamarnya.

“Sachi? Nak?” Kataku pelan, sambil mencoba menengok isi kamarnya. Dari sela pintu yang terbuka sedikit itu, kudapati Sachi yang ternyata sudah duduk di kursi dekat jendela kamarnya. Kuputuskan untuk melangkah mendekatinya, “nak? Kok gak panggil ibu kalau udah bangun, nak?” kataku sambil membelai lembut rambutnya. Sachi seketika langsung menepis tanganku. Wajahnya seperti dirundung mendung, matanya masih saja mengarah pada angin yang datang dari jendela.

Aku menarik napasku dan melepaskannya dengan perlahan, kemudian tersenyum.  Kurengkuh kepalanya masuk ke dalam dadaku, “selamat ulang tahun ya, sayang. Semo…”

“Lepasin, Sachi!” Ia mendorong tubuhku hingga aku terjatuh ke atas kasur miliknya.

“Kamu kenapa sih? Ibu salah apa lagi?” kataku sambil beranjak duduk. Kutarik dan kuhembuskan napasku sekali lagi, perlahan sekali. “Ibu udah buatin kue ulang tahun, ibu cuma pengen bisa ngerayain ulang tahun kamu, meski cuma secara kecil-kecilan, dan ibu minta maaf kalau cuma itu yang bisa ibu lakukan. Kamu tahulah, sejak kejadian setahun yang lalu ibu harus menjual…”

“Kalau saja ibu gak maksain obsesi ibu; ayah gak perlu meninggal, ibu gak perlu jual mobil dan isi rumah, dan Sachi… Sachi gak perlu buta!” Napasnya menderu-deru, dadanya mulai mengembang dan mengempis, dan perlahan air matanya mulai jatuh di pipinya.

Aku bergeming sejenak, seperti ada petir yang menderu hebat di dalam dadaku; membuat napasku sedikit tertahan.”Ibu tahu, ibu salah. Ibu minta maaf… I-Ibu, hanya ingin memperbaiki keadaan kita yang cukup buruk setahun belakangan ini. Maafkan ibu, nak…” Kepalaku tertunduk, gemuruh di dalam dadaku kini menjadi hujan di mataku – yang kusembunyikan diam-diam dalam suaraku.

“Oh, jadi ibu mau memperbaiki keadaan? Gimana, udah berhasil? Hmm?” Nada suaranya mereda, “berhasil ngebuat ayah hidup lagi? Berhasil ngebuat Sachi gak buta lagi? Berhasil??? Hah? Makasih ya, bu. Berkat ibu, Ayah meninggal; berkat ibu, kita udah gak punya apa-apa; berkat ibu juga, aku harus buta dan Deva langsung ninggalin aku gitu aja. Hahaha, sekarang, mana ada laki-laki yang mau sama perempuan buta kaya aku? Mana ada? Selamat ya, berkat ibu, aku mungkin akan jadi perawan tua selamanya.” Sachi tertawa dengan kencangnya.

“Tutup mulutmu!” Dadaku semakin sesak mendengar kata-katanya, tangis yang sengaja kutahan di balik lidah akhirnya goyah juga dalam isakku. Kakiku memilih untuk berdiri, agar tangisku tak menjadi-jadi. “Kalau ibu bisa nukar nyawa ibu buat bikin ayah hidup lagi, ibu pasti lakuin itu. Kalau ibu bisa nukar mata ibu agar kamu bisa melihat lagi, ibu pasti rela!”

“Oh ya? ya udah, donorin aja mata ibu buat Sachi. Katanya rela?”

Napasku seakan-akan terputus saat itu juga, “ka-mu… kamu gak pernah tahu sesayang apa ibu sama kamu, nak. Karena kamu gak pernah ngebiarin diri kamu untuk menerima ibu… i-ibu, ibu selalu coba untuk menebus kesalahan ibu, ibu juga selalu meminta maaf. Tapi apa? Apa? Kamu selalu menolak kehadiran ibu, kamu selalu menepis pelukan ibu, dan semua… semua selalu terasa sia-sia rasanya…” Pipiku semakin basah, dan mataku adalah hujan yang gemar tinggal. “Ibu sayang sama kamu, nak. Maafin ibu…” Kuputuskan untuk beranjak pergi, meninggalkan Sachi di dalam kamarnya. Aku hanya tak ingin Sachi lebih jauh lagi, melihatku terluka karena belati yang kutancapkan sendiri.

**

Ini adalah kali pertama kulihat Sachi tersenyum lagi, sejak kejadian setahun yang lalu. Pagi sekali, ia kembali memanggilku dengan manja, untuk membantunya mandi dan berpakaian. Entah apa yang membuat Sachi berubah pagi ini, senyum dan tawanya merekah setelah kejadian kemarin. Mataku tak henti-hentinya tersenyum melihat Sachi yang begitu menikmati kue ulang tahun yang kubuatkan. Entah apa yang membuatnya berubah seperti ini, aku tak perlu tahu; aku hanya ingin seperti ini, selamanya.

“Bu?” Tangan sachi seperti mencari-cari tanganku, kudekap punggung tangannya dengan tanganku.

“Iya, sayang?”

Sachi memeluk punggung tanganku dengan tangannya yang satu, “makasih ya, bu?” Sachi tersenyum meski tak melihat ke arahku.

Alisku mengerut seketika, “untuk?”

“Semuanya.”

Aku beranjak dari kursiku, menuju ke arahnya, dan memeluknya dari belakang. “Apapun sayang, ibu sangat ikhlas untuk melakukan semuanya; tanpa perlu kamu minta, tanpa perlu juga terima kasih yang berlebihan. Melihatmu bahagia, adalah satu-satunya yang mampu membuat ibu bahagia.” Kueratkan lagi pelukanku, kucium pelipisnya.

Sachi tertawa kecil, kemudian menggenggam lenganku yang membelenggu dadanya “Sachi… sachi sayang sama ibu. Jangan tinggalin Sachi ya, bu?” Seketika lenganku basah oleh tetesan matanya.

“Ibu jauh… jauh lebih menyayangimu, nak.”

Jika bisa kubekukan waktu, aku ingin seperti ini saja. Selamanya.

**

“Sayang, kamu udah siap?” Suara tante Anne terdengar dari kejauhan. Kudengar bunyi hak sepatunya menuju ke arahku.

“Tante Anne?”

“Iya, sayang?”

“Ibu di mana?”

Cukup lama tante Anne terdiam, sebelum akhirnya ia menghembuskan napasnya. “Ibu akan datang terlambat, tapi tadi ibumu pesan; agar kamu segera melakukan operasi, gak perlu nungguin beliau datang.”

Tiba-tiba suara hak sepatu yang kuterka milik para suster memasuki ruangan ini.

“Mbak Sachi Kirana? Sekarang pindah dulu ke ruang operasi ya? Sudah ditunggu dokter, yuk?” Suara perempuan-perempuan beraroma obat-obatan itu mulai mengambil kendali kursi roda yang kududuki sedari tadi.

“Tante Anne? Tapi ibu pasti akan datang kan? Tante Anne?” Tidak kudengar suara tante Anne menjawab pertanyaanku, aku bahkan tak tahu sudah sejauh apa aku dan tante Anne sekarang.

**

Beberapa hari setelah operasi dan recovery di rumah sakit, dokter akhirnya memperbolehkanku pulang. Entahlah, hanya wajah-wajah asing yang ada ketika perban mataku mulai dilepas dan aku sudah kembali bisa melihat. Bukan ibu, bukan juga tante Anne. Aku bahkan tak tahu, harus pulang dengan siapa sekarang.

“Sachi?” Tiba-tiba suara perempuan yang begitu familiar datang dari arah pintu.

“Tante Anne?” Seruku sambil menoleh ke arah pintu. Kucari-cari sosok ibu di belakangnya, “ibu mana, tante?”

Wajah tante Anne tertunduk, “ibu…”

Ibu pasti mau memberi kejutan buat aku, ah ini pasti akal-akalan mereka saja, seruku dalam hati. Aku tersenyum, seakan-akan tahu semuanya. “Bu? Ibu? Sudah keluar saja, kejutanmu akan gagal kali ini. Cepat keluar, gak kangen apa sama Sachi? Bu?”

“Ibumu sudah meninggal.”

Senyumku melayu seketika, mataku terbelalak besar sekali. Napasku berhenti seketika, seperti ada belati yang begitu tajam di antara kata-kata tante Anne barusan, menembus tepat di jantungku. “A-Apa?” Tubuhku seperti hilang tenaga, hampir terjatuh ke balakang. Tak perlu waktu lama untuk membuat aliran mataku jatuh. “I-Ini… ini bener-bener gak lucu. Tante, kumohon… Jangan bercanda seperti ini. Kumohon…” kataku masih tidak percaya.

“Ibu mengalami kecelakaan tepat beberapa jam sebelum operasimu dilaksanakan.”

“A-Apa?” Tubuhku semakin terhuyung ke belakang, kucari sofa panjang yang tak jauh dari tempatku berdiri. Napasku menderu dan tertahan berkali-kali, tidak. Tidak mungkin. “Bawa aku ke makam ibu sekarang, kumohon.”

“Tante sempat bertemu ibumu sebelum menghembuskan napas terakhirnya, ia meminta untuk mendonorkan semua organnya yang masih berfungsi, kemudian sisanya… “Tante Anne mengernyitkan dahinya, bibirnya digigit dan matanya nyalang ke arah lantai, “si-sisanya… dibakar dalam upacara ngaben*.” Tante Anne segera merogoh sesuatu dari dalam tasnya, ia mengeluarkan toples bulat kecil berisi abu. “Ini…”

Dadaku seperti remuk dari dalam, tangisku semakin menjadi-jadi melihat abu di dalam toples kecil yang di pegang tante Anne, adalah abu ibuku sendiri. “Tapi kenapa harus dingabenin segala sih, tante? Kenapa?” Tanyaku setengah menjerit. Ibu bukan orang Bali, dan tidak seharusnya perlu dingaben segala.

“Ibumu yang meminta untuk dingaben seperti adat Bali, ibumu yang meminta untuk merahasiakan ini, hingga kamu benar-benar pulih keadaannya. Ma-Maafin tante.” Tante Anne beranjak mendekatiku dan kemudian memelukku, ia sama halnya denganku, menangis dan kehilangan orang yang disayanginya; ibuku.

 

Setelah kami sudah mampu meredakan tangis, Tante Anne mengajakku untuk pulang. Selama perjalanan, mataku tetap kosong memandang jendela mobil yang diselimuti hujan; sedang tanganku, masih memeluk toples bulat tersebut. Apa artinya penglihatanku kembali, jika ibu yang harus pergi? Aku ingin ibu kembali, aku ingin ibu.

Kepalaku masih saja dipenuhi episode-episode terbaik yang kumiliki bersama ibu sebelum operasi mataku. Sebelum kejadian malam itu, atau bahkan sebelum kejadian setahun yang lalu, aku dan ibu memang tak pernah akur. Ibu yang terlalu banyak menuntut, sedang aku yang enggan menurut. Keinginan ibu untuk menjadikanku seorang pelukis terkenal, memaksaku untuk mengambil kuliah seni lukis di salah satu institut seni di Jakarta ini. Jurusan yang sebenarnya tak kusukai, sebab aku lebih suka menulis; dan ibu, tak pernah mau tahu semua mimpi-mimpiku.

Ada penyesalan yang tak henti-hentinya menjarah isi kepalaku; perihal sisa waktu yang tak mampu kugunakan, perihal hadir yang selalu kusia-siakan, perihal maaf yang selalu enggan kusampaikan.

“Sachi?” Seketika suara tante Anne mengejutkanku, membuyarkan segala lamunanku.

“Iya, tante?” Jawabku cepat, mataku mulai menelanjangi sekitar. Mobilnya berhenti tepat di depan sebuah rumah minimalis, sepertinya ini berada di dalam sebuah perumahan.

“Umn, tante… mau bicara sesuatu sama kamu. “

Dahiku mulai mengernyit, “ya, udah ngomong aja.”

“Ibu kamu…”

“Ibu?”

“Ibu kamu, umn… sebenernya, ibu kamu…” Tante Anne mulai menggigit-gigit bibir bawahnya, persis sekali seperti ibu. Ada yang tidak beres dengan arah pembicaraan ini, ada yang tidak beres dengan semua ini. Apa ini ada hubungannya dengan ibu?

 

[BERSAMBUNG]

 

 

 

 

*ngaben: upacara pembakaran mayat pada masyarakat Bali yang beragama Hindu.

 

|“Ibu bohong! Katanya bianglala warna-warni, kenapa cuma hitam?” Aku diam lalu menggenggam tongkatnya. – diambil langsung dari akun mas @Momo_DM|