“Sachi?” Seketika suara tante Anne mengejutkanku, membuyarkan segala lamunanku.

“Iya, tante?” Jawabku cepat, mataku mulai menelanjangi sekitar. Mobilnya berhenti tepat di depan sebuah rumah minimalis, sepertinya ini berada di dalam sebuah perumahan.

“Umn, tante… mau bicara sesuatu sama kamu. “

Dahiku mulai mengernyit, “ya, udah ngomong aja.”

“Ibu kamu…”

“Ibu?”

“Ibu kamu, umn… sebenernya, ibu kamu…” Tante Anne mulai menggigit-gigit bibir bawahnya, persis sekali seperti ibu. Ada yang tidak beres dengan arah pembicaraan ini, ada yang tidak beres dengan semua ini. Apa ini ada hubungannya dengan ibu?

Tante Anne menghembuskan napasnya, perempuan setengah baya dengan rambut yang diikat setengah itu mematikan kontak mobilnya, menggambil tas di tempat duduk belakang, kemudian tersenyum ke arahku. “Kita turun dulu yuk?” Ajaknya sambil menunjuk ke arah satu rumah, menggunakan kepalanya.

Mataku cukup terbelalak melihat ke sekitar mobil ini berhenti dan rumah yang ditunjukkan tante Anne, “i-ini, rumah tante yang baru?” Kataku sambil menunjuk rumah dengan gaya minimalis tersebut.

Tante Anne tersenyum, “ini rumah kamu, sayang.” Jawabnya, sambil membuka pintu mobil. Kemudian, kakinya dengan segera turun dari mobil dan menutup pintu mobilnya kembali.

Tidak, tidak. Aku hanya operasi mata, dan bukan operasi otak. Ingatanku masih cukup baik untuk mengingat rumah terakhir yang kutempati sebelum operasi. Rumah kecil yang terpaksa kusebut rumah –dengan dua kamar tidur kecil serta ruang tamu dan dapur yang menjadi satu– di kawasan rumah susun yang cukup kumuh seperti yang ibu bilang dulu, bukan di perumahan seperti ini. Aku hanya tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.

Kepala tante Anne melonggok dan mengetuk kaca jendela, “ayo keluar.”

Segera saja kuputuskan untuk beranjak keluar dari mobil, kakiku sedikit tergesa mengikuti langkah kaki tante Anne yang sudah memasuki halaman depan rumah tersebut. Tante Anne langsung mengunci mobilnya dengan remote kecil di tangannya. Mataku langsung liar menelanjangi area depan rumah tersebut, dengan taman kecil berisi beraneka macam tanaman dan dominasi bunga mawar putih, rumah ini terlihat manis sekali.

“Ibu mewariskan rumah dan tabungan yang dimilikinya untuk kamu. Di wasiatnya, ibu menginginkan tabungannya digunakan untuk membiayai kuliahmu di jurusan sastra, seperti yang kamu inginkan.” Jelas tante Anne, sambil merogoh isi tasnya. “Ah, ini dia.” Desisnya ketika menemukan kunci yang dicarinya.

“A-Apa?” Mataku terbelalak mendengar ucapan dari tante Anne. Kejutan macam apa lagi ini, bu? Tanyaku dalam hati. “Enggak… Enggak mungkin. Untuk biaya operasi aja ibu minjem uang dari tante Anne, kan? Dari mana ibu punya uang sebanyak ini untuk membeli rumah dan tabungan untuk kuliahku nanti? Tante Anne bercanda.” Kataku dengan bibir yang menyeringai dan wajahku melayu ke bawah.

Tak lama, tante Anne berhasil membuka pintu berwarna kayu tua tersebut, setelah mencoba beberapa kunci yang dijadikan satu olehnya. Kami berdua disambut oleh sebuah foyer dengan kaca lonjong berbingkai emas dan meja bulat kecil di bawahnya. Seperti sudah hapal dengan rumah ini, tante Anne segera mengajakku masuk ke arah kanan foyer tersebut. Foyer ini menghubungkan ke sebuah ruang tamu dari kedua sisinya. Tak terlalu banyak perabotan di dalam rumah ini, ruang tamu ini pun hanya diisi dengan satu buah sofa hitam besar berbentuk persegi panjang, dua sofa single di depannya, sebuah meja kaca di tengahnya, dan sebuah karpet bulu berdominasi warna hitam dan abu-abu.

Tante Anne segera saja merebahkan badannya di sofa besar itu, dan menggambil bantal kecil berwarna merah ke pangkuannya. Setelah merasa cukup nyaman, ia  merogoh isi tasnya. Tak lama kemudian dia mengeluarkan sebuah buku kecil berwarna biru, dan menyerahkannya kepadaku, “ini. Kamu lihat saja sendiri, kalau tidak percaya.”

Dengan ragu, kuambil buku kecil yang ternyata adalah buku tabungan ibu, dari tangannya dan kuapit toples kecil ‘berisi’ ibu di antara lengan dan dada kiriku. Mataku semakin nyalang, ketika mendapati angka hingga ratusan juta tertera di saldo terakhir buku tersebut. “I-Ini… Ini gak mungkin. Ibu kerja apa sampe punya uang sebanyak ini, tante?”

Tante Anne hanya tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan tertunduk, “Ibumu itu, sangat pandai menyimpan hartanya. Dia tahu, suatu saat, semua itu akan berguna untukmu. Entahlah, mungkin dari gajinya sebelum pensiun, atau dari hasil  bisnis tante dan ibu, atau mungkin hasil menjual rumah dan mobil, atau… Entahlah, nak. Yang pasti, ibumu sempat berpesan; dia ingin kamu mewujudkan mimpimu sendiri, bukan mimpinya. Mungkin dengan begitu, dia bisa ikut berbahagia.”

Mulutku sedikit menganga mendengar penjelasan tante Anne. Terlalu banyak untuk bisa kuterima dalam akal sehat. Ibu yang akhirnya meninggalkanku untuk selamanya, jasad ibu yang dibakar, rumah ini, dan tabungan yang entah disimpan berapa lama oleh ibu untuk bisa memiliki saldo sebanyak ini. Kuputuskan untuk menaruh toples kecil yang dari tadi kupegang itu di atas meja tamu, kemudian meletakkan buku tabungan ibu di atasnya. Kepalaku rasanya berat sekali, segera saja kurebahkan badanku di sebelah tante Anne. Aku masih belum percaya dengan semua ini.

Kepala tante Anne melihat ke sekitar ruangan ini dan sesekali melihat ke arahku, “perabotan dari rumah lama, belum sempet tante pindahin ke sini. Baru baju-bajumu, peralatan mandi, beberapa buku dari rak kamarmu, dan beberapa barang kecil yang tante pikir mungkin kamu butuhkan. Mungkin besok, atau akhir pekan ini ya? Gak apa-apa kan?”

“Rumah yang lama, dijual?” tanyaku sambil menoleh ke arahnya dan sedikit mengerutkan dahiku.

“Umn… Ibu kamu gak ngijinin buat ngejual rumah itu.” Jawab tante Anne sambil menundukkan matanya, dan menggigit kecil bibirnya. Tante Anne melihat jam kecil di tangan kanannya, “Hmm, sudah jam 3. Tante pamit dulu ya, takut telat jemput Lita.” Ucapnya sambil beranjak berdiri sambil mengambil tasnya di antara kami, dan merogoh kembali ke dalam tasnya untuk mencari kunci mobilnya.

“Ah, iya tante. Makasih ya,” kataku sambil beranjak berdiri. “Udah jemput Sachi ke rumah sakit, udah repot-repot ngurusin ibu dan semua ini. Makasih ya, tante? Salam buat Lita ya. Kapan-kapan, ajak Lita ke sini juga ya.” Kataku sambil tersenyum.

Tante Anne mengusap kepalaku sambil tersenyum, dan mengecup pelipisku. “Sama-sama, sayang. Kalau ada apa-apa, telpon tante ya? Ponsel lama kamu sepertinya tante taruh di kardus kecil di dalam kamarmu yang ada di rumah ini.”

Aku mengangguk dan tersenyum, “Iya, tante. Makasih ya.”

“Oh, ya. Ini,” tante Anne merogoh kembali tasnya dan mengambil dompet kulit berwarna hitam persegi panjang, “buat pegangan kamu beberapa hari ini.” Tante Anne menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah dan biru yang ia ambil dari dompetnya kepadaku. “Peralatan dapur belum sempet tante pindahin ke sini, tempat-tempat makan juga adanya di luar komplek ini. Kalau kamu lapar, delievery order atau beli ke depan komplek aja, ya? Di pertigaan dekat sini, ada tukang ojeg rasanya.”

Seketika saja, kupeluk tubuh tante Anne. “Tante… makasih banyak ya? Sachi gak tahu kaya gimana, kalau gak ada tante Anne.”

Tante Anne membalas pelukanku lebih erat, dengan membelai rambut belakangku. “Iya, sayang. Kamu udah tante anggap anak sendiri, jangan sungkan ya?” ucapnya sambil mengecup lembut ubun-ubun kepalaku. “Ya, udah. Tante pamit dulu ya?” Tante Anne melepaskan pelukannya dan mengusap lembut kedua lenganku. “Kamu langsung istirahat aja. Biar nanti tante yang tutup pintu, gak usah kamu anterin gak apa-apa, kok.”

“Siap, laksanakan!” Jawabku dengan posisi hormat ke arahnya, tante Anne hanya tertawa, meski dengan mata yang mendung, sebelum akhirnya kakinya beranjak pergi. Tante, jangan tinggalin Sachi. Sachi gak mau sendiri, bisikku dalam hati.

 

Rumah ini perlahan diselimuti sunyi,tak lama kemudian. Hanya samar kudengar, suara air mancur yang mengalir dari arah belakang rumah ini. Kepalaku masih terasa berat sekali, entahlah. Mungkin akibat dari pencangkokan kornea yang kulakukan beberapa hari yang lalu, atau mungkin, karena semua kenyataan ini? Uang yang diberi tante Anne, segera saja kumasukkan ke belakang saku celana jeansku. Tak lama kemudian, kuambil buku tabungan ibu yang kutaruh di atas meja kaca itu, dengan kanan kananku. Kemudian, mengambil toples yang berisi abu itu, dengan kedua tanganku, dan mengapitnya di depan dada dengan tangan kiriku. Dengan segera, kucari kamar yang disebutkan tante Anne tadi, untuk sekadar merebahkan badanku. Ruang tamu ini menghubungkan langsung dengan ruang keluarga, dengan dua anak tangga menurun untuk menuju ke sana. Ruang keluarga ini tak berbeda jauh dengan ruang tamu, dengan dominasi berwarna abu-abu, hitam dan merah. Mata dan kakiku langsung tertuju pada sebuah pintu di pojok kanan ruang keluarga tersebut.

Kubuka perlahan pintu tersebut, ini pasti kamarku, pikirku. Mataku langsung menelanjangi isi kamar berukuran 5×5 meter ini. Ruang tidur ini cukup manis, dengan berlantai parket solid berwarna kayu tua dengan kombinasi warna coklat dan putih untuk dindingnya. Wallpaper berwarna coklat muda di dinding yang menempel dengan kepala tempat tidur itu, sangat cocok sekali dengan tempat tidur berukuran 200×200 berwarna putih polos, seprei berwarna serupa, serta meja tidur berwarna putih  yang menggantung dari tembok tersebut.

Keinginan untuk beristirahat seketika memudar, ketika kulihat tumpukan kardus dan tas-tas yang dikumpulkan satu di salah satu sudut ruang ini. Entah kenapa, kakiku malah melangkah ke sana dan mengambil kardus berukuran kecil yang berada di atas salah satu kardus.

Kubuka perlahan kardus itu, seketika senyumku mengembang ketika melihat  dua buah foto berukuran kecil berbingkai emas. Kutaruh segera toples kaca dan tabungan ibu yang kupeluk dari tadi, di atas meja kecil samping tempat tidur. Seketika jantungku terasa diremas-remas melihat kenangan yang tersimpan rapi di sana. Sebuah foto, di mana ayah dan ibuku mencium pipiku di kedua sisi; dan sebuah foto terakhir aku dan ibu yang rasanya diambil sebulan sebelum operasi mataku.

Saat itu, kami menghadiri ulang tahun tahun Lita, anak semata wayang tante Anne, yang kelima. Hari di mana, ibu memberikanku kejutan dengan kehadirannya di rumah tante Anne. Selama dua pekan, aku dititipkan di rumah tante Anne, karena ibu yang diharuskan keluar kota untuk urusan bisnis yang dijalankan bersama tante Anne. Menyebalkan, tidak pernah rasanya aku begitu merindukan kehadiran ibu, setelah hubungan kami membaik beberapa pekan sebelumnya. Di sela-sela acara yang dilakukan di taman belakang rumah tante Anne, tiba-tiba saja aku dikejutkan dengan suara ibu dari arah belakang telingaku. Aku berteriak dengan serta merta meraih tubuhnya dan mengeratkan pelukanku di pinggangnya. Dengan setengah menangis, aku seperti kembali pulang di dadanya. Ibu memelukku dengan sangat hangat. Saat itu tante Anne mengabadikan kenangan tersebut dengan menggunakan ponsel canggih miliknya, yang kemudian dihadiahkan tante Anne dua hari sebelum operasi mataku dilakukan. Ia bilang, foto ini adalah foto yang harus kulihat jika mataku telah bisa melihat; sebab dalam sebuah foto, kenangan akan terus abadi. Dan, ia benar.

Kini, aku baru mampu melihat betapa kayanya kenangan yang dibingkai dalam foto ini. Aku yang memeluk pinggang ibu dengan erat, dan ibu yang memeluk lengan dan kepalaku dengan kedua matanya yang tertutup. Tanganku mencoba mengelus wajahnya di dalam foto itu, dan tanpa sadar hujan telah berpesta dengan meriah di kedua mataku.

Ibu, Sachi kangen banget sama ibu. Ibu bohong, katanya janji kalau ibulah wajah pertama yang Sachi liat, kalau Sachi bisa melihat lagi. Ibu bohong.

Kakiku memeluk lantai dengan lumpuhnya, rasanya penglihatanku benar-benar sia-sia jika bukan ibu yang menghuni kedua mataku; sia-sia untuk apa yang kumiliki sekarang tanpa ibu di dalamnya. Kulihat kembali foto itu, mata ibu begitu sembab meski dalam keadaan tertutup. Aku yakin, air mata ibu lebih banyak jatuh daripada aku sekarang. Dadaku semakin sesak rasanya, ketika kurengkuh kedua foto itu ke dalam pelukanku.

Isakku teralih, ketika kulihat sebuah kumpulan kunci milikku dulu. Tangan kananku dengan segera meraih kumpulan kunci tersebut, dan memutar-mutarnya mencari sebuah kunci berwarna perak, dengan kepala kunci  yang pernah kuwarnai dengan spidol hitam permanen dulu.

Ah, ini dia, desisku. Kutaruh kunci dan kedua foto itu di pangkuanku, tangan dan mataku kembali sibuk mencari ponsel yang mungkin ada di kardus itu. Dapat! Kataku dalam hati, ketika menemukannya terselip di bagian dasar kardus tersebut. Segera saja kutaruh kedua foto itu kembali ke dalam kardus, dan memegang erat kunci dan ponselku ketika beranjak berdiri. Kuambil salah satu tas hitam milikku secara asal, yang digeletakkan begitu saja di atas kardus-kardus tersebut. Kumasukkan kunci, ponsel dan tak lupa buku tabungan yang kuletakkan di atas meja kecil itu,  ke dalam tas tersebut. Dengan segera, kuputuskan saja untuk pergi.

Meskipun aku tak tahu perumahan ini di daerah mana dan di mana persisnya Rumah Susun Sedoyo yang merupakan rumahku dulu berada, tak menghentikan keinginanku untuk pulang kembali. Aku bisa saja bertanya sama orang-orang yang lewat atau mungkin ke kantor polisi untuk menanyakan arah, kenapa tidak? Apapun, untuk pulang.

**

Kuseka keningku, ketika menemukan pintu yang kukenali saat kuraba dulu. Perjuanganku untuk sampai ke rumah susun ini akhirnya membuahkan hasil. Langkahku terhenti, sebelum kuputuskan untuk memutar kunci di pintu ini. Ini kali pertama kulihat rumah ini dengan mataku. Tak begitu susah menemukan pintu ini. Selama setahun kebutaanku, membuat ingatanku menjadi begitu tajam tentang hitungan langkah dan arah -dari lantai dasar hingga lantai 3 pintu ini berada. Dulu aku suka sekali menikmati sore di taman depan bangunan ini, memaksaku untuk mampu berjalan sendiri dari lantai rumahku menuju ke sana. Meski awalnya, ibu lah yang menuntunku dan mengajariku mengingat arah dengan hitungan langkah.

Entah apa yang membuatku ingin sekali datang ke rumah ini lagi, meski kutahu, tak kan kutemui ibu di sini. Mungkin di sini; dinding, langit-langit, kasur, kursi meja, pintu ataupun jendela dapat bersuka hati untuk merayakan kenangan bersama. Kemudian, mereka akan bicara banyak tentang apa saja; perihal cinta yang melekat di masing-masing mereka, atau rahasia-rahasia yang tak tertangkap oleh mata dan telinga.

Kuputar kunci itu akhirnya, bersiap menelan pahit yang mungkin masih bermukim manja di dalam rumah. Kugigit bibir ketika melihat ruang tamu yang menyapaku dari balik pintu. Ruang tamu kecil ini, begitu minim cahaya. Mataku mulai mencari tempat saklar di dinding-dinding ruang ini. ah, ini dia, desisku. Kutekan ke bawah saklar yang ternyata berada tepat di dinding sebelah pintu yang kubuka. Kakiku melangkah begitu saja, menuju kamarku –yang kuterka dari hitungan langkah. Tak perlu waktu lama untuk sampai ke kamarku yang berada paling pojok rumah ini, tak lebih dari sepuluh langkah, kakiku sudah berada di depan pintu kamarku yang setengah terbuka.

Tangan kiriku sudah berada di gagang pintu, sedang kepalaku bersandar di ambang pintu. Bibirku tersungging ke atas, melihat isi ruang yang tak lebih dari 3×4 meter ini. Kamar ini, tepat seperti yang kubayangkan di kepalaku. Sepertinya tidak ada yang berubah, selain barang-barangku yang sudah dipindahkan ke rumah baruku. Kasur berukuran satu orang dewasa yang menempel di salah satu pojok ruang ini pun masih beraroma yang sama. Beberapa waktu yang lalu, kepalaku begitu raja menghuni rumah di dalam rengkuh ibu. Meski dengan kasur yang begitu sempit ini, tubuh kami tak mengeluh untuk saling merapat melewati malam dengan banyak cerita.

Jendela besar yang terbuka entah sejak kapan dan kursi yang menghadapnya, masih setia bersama. Di kursi itu, jendela kerap bercerita tentang apa saja melalui angin yang dipersilakan masuk olehnya. Aku, hanya pendengar setia yang melihat melalui telinga. Baru kali ini kulihat secara langsung, pemandangan di luar jendela ini. Hamparan langit yang luas, yang menutupi atap-atap rumah milik warga di sebelah kawasan rumah susun ini. Langit sudah mulai meredup setengah, antara langit yang berduka dan matahari pukul lima yang saling berlomba-lomba.

Kututup mataku seperti biasa, ketika gemuruh sedang berjatuhan. Angin membisikkan gerimis yang sebentar lagi bercinta dengan tanah, dengan wangi petrichor yang dibawanya. Kutarik dan kuhempaskan napasku dengan berat, kuseka pipiku perlahan. Tak kusangka, gerimis sudah lebih dulu tiba di kedua mata. Kututup pintu kamarku, kakiku segera beranjak menuju kamar ibu yang berada di balik badan. Aku ingin memeluk ibu di sana. Entahlah, aku yakin, kasur ibu masih menyimpan hangatnya yang tertinggal.

Dengan langkah yang sedikit terhuyung, kakiku berhasil menuju kasur ibu yang berukuran sama denganku. Kujatuhkan setengah tubuhku di atas kasur kapuk itu dengan kaki yang masih berpijak di atas lantai, kemudian memeluk bantal satu-satunya yang berada di atasnya. Ibu… Sachi kangen, lirihku dalam hati, dengan isak yang semakin menjadi-jadi. Tanganku semakin erat memeluk bantal itu, hingga sesuatu yang keras kurasakan terselip di bawah bantal itu. Kuputuskan untuk beranjak duduk, dan memutar balik bantal itu. Kuraba perlahan sarung bantal bercorak bunga itu, sebelum akhirnya kutemukan sebuah buku yang diselipkan di antara bantal dan sarungnya tersebut. Ada sebuah pena yang menggantung di atas sampul depan buku tersebut.

Kutaruh pena itu di atas kasur dan memutuskan untuk membuka buku itu, buku harian ibu? Tanyaku dalam hati. Gigiku mulai saling bergesekan, ada ragu yang menghantui isi kepalaku. Aku tahu, tak seorang pun yang berhak membaca buku harian orang lain, namun dadaku mendesakku untuk tetap membalik halaman selanjutnya. Mataku mulai membaca perihal apa yang dituliskan ibu di dalamnya, sesekali tulisannya mengajakku tertawa, meski kerap bibirku menganga dibuatnya. Ketika kubaca satu persatu kalimat-kalimatnya, suaranya menggema di kepalaku – membuat seakan-akan ibu bercerita langsung kepadaku.

Ibu bercerita betapa ia mencintai aku dan ayah; betapa ia bersyukur memiliki kami berdua meski telah divonis belasan tahun yang lalu, tak bisa mengandung lagi karena rahimnya yang terlalu lemah. Napasku tertahan, saat membaca tulisan ibu di salah satu tanggal.

 

 23 Mei 2012

Terima kasih, Tuhan. Tidak ada laki-laki yang lebih pantas dari Daundra Mahesvari, untuk meminang Sachi Kayana, putriku. Dia laki-laki yang baik, dan yang terpenting, aku tahu, betapa ia mencintai orang yang paling kucintai selain suamiku, anak semata wayangku. Berbahagialah kau, nak. Namamu tak kan pernah terlepas dalam setiap doaku.

 

Jantungku rasanya berhenti sepersekian detik, ketika mendapati nama Daundra disebutnya. Laki-laki yang pernah kucintai, tapi dengan bodohnya malah kukhianati. Aku ingat betul, betapa marahnya ibu mengetahui aku berselingkuh dengan Deva. Bukan hanya pertunangan yang batal secara tiba-tiba sejak kejadian itu, tapi ibu sedih ketika aku membuang kesempatan untuk bisa benar berbahagia dengan laki-laki yang pantas.

Aku terkekeh, dengan air mata yang menjatuhi buku yang kupegang itu. Betapa bodohnya aku, jika selama ini menyalahkan ibu atas kebutaanku. Bukankah aku sudah lama ‘buta,’ jauh sebelum kecelakaan itu? Bodohnya lagi, aku bukannya belajar dari kesalahanku dulu; aku malah memilih mengulangnya dengan membuang kesempatanku untuk berbahagia dengan orang yang sepantasnya kucintai –ibu. Selama setahun, aku memintal benci dan membuang kesempatanku sendiri untuk membahagiakan ibu. Kesempatanku usai sudah, dengan usia ibu yang terpotong seketika. Mungkin Tuhan lebih menyayangi ibu daripada aku, hingga ibu dipelukNya kembali. Maafkan Sachi, ibu. Maafkan Sachi.

Kuputuskan untuk melanjutkan kembali membaca halaman-halaman berikutnya, tak hanya sekali kupukul-pukulkan dadaku sebelah kiri –merutuki diriku sendiri. Napasku kembali tertahan di tenggorokanku, ketika mendapati tulisan ibu di akhir Agustus.

 

27 Agustus 2012

Tak hanya sekali ingin kurutuki diriku sendiri. Mengapa bukan nyawaku saja yang diambil? Mengapa bukan mataku saja yang buta? Maafkan aku, mas. Maafkan ibu, nak. Aku adalah perempuan paling egois, yang terobsesi dengan impianku sendiri.

Aku tak kan mampu memaafkan diriku sendiri untuk apa yang terjadi hari ini. Tidak.

 

15 Desember 2012

Sudah hampir 4 bulan, nak. Lidah kita tak lagi saling menyapa, pelukan pun menjadi asing di antara kita. Begitu berdosanya kah, ibu? Maafkan ibu, nak. Maafkan… Ibu tahu, ibu sangat berdosa. Tapi jangan hukum ibu dengan membiarkanmu berlarut dalam kesedihan. Maafkan ibu juga, kita harus pindah ke rumah sempit ini. Ibu harus menjual rumah, mobil dan segala yang bisa ditukar dengan rupiah; demi tabunganmu kelak, Nak. Tabungan yang nantinya berguna entah untuk apa.

 

2 Februari 2013

Usiaku semakin bertambah hari ini. Tuhan, jika boleh aku meminta satu permintaan untuk ulangtahunku ini;

Berikanlah anakku penglihatan kembali.

Itu saja, dan aku ikhlas jika setelah itu, aku berpulang kepadaMu. Aamiin.

 

Ingin sekali kurutuki doa yang dituliskan ibuku itu. Semua yang dia doakan menjadi kenyataan sekarang. Aku yang bisa lagi melihat, dan ia yang akhirnya berpulang. Membaca buku hariannya ini mengikis pelan-pelan hatiku, menjadikannya serpih yang tak mampu kutata ulang. Untuk apa aku bisa melihat, jika harus dibayar tunai dengan nyawa? Tanyaku dalam hati. Rasanya aku tak sanggup membalik halaman-halaman di buku ini, tapi tangan dan mataku masih saja melakukan yang sebaliknya.

 

5 Maret 2013

Sudah tanggal segini dan uang pensiunku belum ditransfer juga. Beras juga akan habis besok, bagaimana caranya Sachi makan? Meski sudah puasa selama sepekan, beras semakin lama semakin habis juga. Ya, Tuhan… apa yang harus kulakukan?

Tidak, tidak. Aku tidak boleh menyerah. Tidak juga akan kugunakan tabungan milik Sachi ini. Besok hingga uang pensiunku cair, aku akan tetap berpuasa. Teh manis sudah cukup mengenyangkan. Tenang saja, nak. Ibu kuat! Ibu kuat!

 

18 Maret 2013

Nak, tahu kah kau? Skenario Tuhan memang sering sekali jenaka. Kerap sulit diterima akal sehat manusia. Tapi percayalah, mungkin itu terbaik yang seharusnya. Perihal hilangnya fungsi mata; atau perihal kita yang lebih gemar menggunakan lidah, untuk amarah daripada tawa; atau perihal cintamu yang tutup usia, sedang cintaku yang enggan menua.

 

11 Mei 2013

rumah ini begitu meriah dirayakan oleh sepi

peluk dan tawa telah lama mati bunuh diri

hantu-hantu bernamakan sesal kerap menghantui

di sepanjang kaki, di sepanjang waktu yang inginnya kuakhiri

kini, aku baru mengerti.

Jarak terjauh sebuah pergi bukanlah hidup dan mati

Tapi ialah pengabaian dari orang yang kaucintai.

 

Aliran mataku mengalir dengan sunyi, tanpa suara, tanpa isak. Sepertinya ada yang menanti untuk meledak dari dalam dadaku. Entahlah, gemuruhnya semakin keras kurasa. Seburuk itu kah aku, hingga membuat ibu kesepian begitu lama seperti itu? Maafkan Sachi, ibu, kataku dalam hati. Kutarik dalam napasku dan kukeluarkan perlahan. Jemariku masih lincah untuk membalik ke halaman berikutnya, meski mataku sudah cukup berembun untuk membaca kata-kata yang ibu tulis. Kata-kata paling belati yang tak sabar mengiris-iris hatiku menjadi potongan terkecil.

 

22 Juni 2013

BODOH‼‼‼‼‼‼ Harusnya kaudengarkan hati kecilmu‼‼‼ Bodoh! Bodoh! Bodoh! Dalam semalam uang tabungan untuk Sachi hilang begitu saja! Liana itu penipu! Dia itu jahat! Harusnya kaupercaya dengan hati kecilmu katakan. Bukan mulut manis milik perempuan itu! Sekarang apa? Investasi macam apa? Semua habis sudah… habis, tak tersisa.

Ya, tuhan… apa yang harus kulakukan?

Maafkan ibu, nak. Ibu memang bodoh! Kalau saja ibu tahu, ibu hanya akan ditipu seperti ini, ibu tak mungkin berani mengeluarkan sedikit pun tabunganmu.

Sudah sepantasnya memang kau membenci ibu hingga kini, ibu memang bukan perempuan yang bisa dijadikan contoh yang baik. Maafkan ibu, nak…

 

“Apa? Ibu ditipu?” kataku pelan. Segera kutaruh buku harian ibu, dengan cepat tangan kananku melepaskan tas yang kulingkarkan dari tadi di tangan kiriku. Kutaruh tas itu di depanku, dan mulai merogoh ke dalam tas itu, mencari buku kecil berwarna biru milik ibu. Ketika kutemukan buku itu, segera kucari tanggal yang sama dengan buku harian ibu.

Mataku menyalang dengan bulatnya, ketika melihat saldo di tanggal 22 Juni 20013 itu, “apa? 26.700 rupiah? Lalu…” Kubalikkan lagi lembaran di buku itu hingga ke saldo terakhir, “tapi ini…? kenapa bisa sampai sebanyak ini jadinya?”

Kepalaku dipenuhi dengan banyak asumsi dan tanda tanya. Aneh rasanya jika ibu bisa memiliki uang sebanyak ini dalam waktu kurang lebih empat bulan, hanya dengan mengandalkan uang pensiunannya saja. Tidak-tidak. Ada yang ganjil di sini, desisku dalam hati. Kuputuskan untuk meneruskan membaca buku harian ibu, berharap menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalaku.

 

[Bersambung]