Barangkali, waktu begitu ganjil mengulurkan jemarinya. Menyambut kedatangan langkahmu yang enggan tergesa-gesa; dan saya, ialah perempuan yang patah dipeluk kelembutan.

Barangkali, kita ialah keinginan-keinginan di catatan pinggir dalam kitab suci; tertulis meski sulit tuk dipercayai. Dan upaya-upaya berdiri kerap nihil, sebab kita begitu ikhlas terjatuh di hati masing-masing.

Saya, perempuan yang begitu iri dengan matahari pagi. Ketika ia dengan mudahnya mengecup kening dan kulitmu setiap hari —sedang saya hanya mencaci diri, sebab hanya mampu menyentuhmu lewat doa-doa yang terbalur di sela jemari.

Dan katakan pada saya, tuan. Apakah kita hanyalah kemungkinan-kemungkinan yang takut memeluk langit? Ketika waktu ialah desember paling kemarau yang menanti dihujani; ketika kesepakatan manusia lebih berkuasa dari dua hati yang sempurna terlengkapi. Sebab diam-diam kau begitu mahir membunuh waktu dengan diam paling belati —memaksa rasa perlahan membunuh diri.

Berhentilah menyalahkan waktu yang begitu muda, atas detak prematur yang terlahir sebelum senja. Barangkali, Tuhan tak sengaja sedang bercanda dengan kita, tuan; memaksa kita luruh dalam keinginan-keinginan, segala kemungkinan dan ketakutan-ketakutan dalam satu wajah. Sebelum akhirnya, penyesalan berkuasa menjadi tuan rumah.

Atau barangkali, Tuhan memang tak pernah bercanda —hanya kita saja yang gemar membunuh detak dalam detik perlahan.

Katakan padaku, tuan.
Apa yang sebenarnya hendak kita bunuh diam-diam?

Jakarta, 150504.
04:36