20140623-010610-3970967.jpg “Di mana?”

“Di sana.”

Kau menunjuk dua kursi dengan meja yang dilapisi kain putih menjulur ke pasir, di bawah tenda putih yang dilapisi kain coklat di tiap tiangnya. Raut mukaku sedikit terkejut, untuk kejutan yang kau bilang dari lima belas menit yang lalu. Kau bahkan tak membiarkan angin pukul lima membelaiku terlebih dahulu, tanganku sudah menjadi milikmu untuk kautarik ke salah satu kursi itu.

“Ini… Euh, apa?” Tanyaku setelah tubuhmu duduk dengan sempurnanya di kursi sebelah kananku.

“Kejutan!” Katamu dengan ekspresi muka, yang lebih mirip bocah laki-laki yang baru saja dibelikan mainan.

“Tunggu dulu,” kataku kemudian sesaat kau merapikan gulungan kemeja putih di lenganmu, “kejutan untuk?” Tanyaku lagi.

“Untuk kita.” Jawabmu singkat dengan senyum yang sama membuatku jatuh hati untuk pertama kali —senyum yang membuatku jatuh hati untuk ribuan kali. “Untuk kita yang masih terus saja percaya, bahwa ada sesuatu yang jauh lebih berharga untuk dijaga, daripada ribuan mil depa yang ada. Iya, sih. Makan malam ini mungkin gak sebanding untuk kesabaran yang terus dijaga, tapi setidaknya aku pengen apapun itu, akan jadi momen yang spesial untuk kita.” Sambungmu lagi.

Aku tertunduk, tak kubiarkan kau melihat rona pipiku yang memerah karena malu. Kulihat kau lagi dengan mengigiti bibirku, “makasih ya? untuk selalu percaya bahwa kita ada untuk dijaga.”

Kau tak menjawab, tanganmu asik merapikan rambut-rambutku yang dipermainkan angin ke mukaku. Tentu saja, masih dengan senyum itu. Aku mendengar alunan bozza nova dari speaker restoran ini, di antara deburan ombak dan ciuman yang kaudaratkan tepat di bibirku. Manis. Kedua tanganmu masih begitu hangat kurasakan di pipi kiriku dan leher sebelah kananku, sedang punggungmu masih sedikit membungkuk ke arahku sebab tinggi badanmu yang jauh di atasku.

“Kita mengajarkan bahwa, jarak hanyalah hitungan angka yang gak akan berarti apa-apa, kalo ada percaya untuk saling menjaga. Terima kasih untuk menjadi perempuan yang begitu sabar menanti pertemuan, begitu sabar untuk menjaga perasaan, terima kasih untuk menjadikan aku laki-laki yang begitu beruntung dan bahagia memiliki perempuan seperti kamu. Dan aku,” tanganmu mulai merogoh kantung celana sebelah kirimu. Kaubuka kotak kecil itu dengan jemari yang sama, dan menatapku dengan begitu rakus, seakan aku adalah mangsa terakhirmu, kemudian kau menghembuskan napas yang begitu panjang, “aku akan lebih bahagia jika anak-anakku kelak memiliki ibu sepertimu. Mariah Magdalena, maukah kau menjadi ibu yang begitu sabar untuk anak-anakku kelak, anak kita, dan menjadikanku laki-laki yang paling beruntung untuk bisa menua bersamamu? Would you marry me?

Ada hujan yang begitu gembira dirayakan di mataku, aku tahu laki-laki inilah yang pantas untuk kucintai dengan penuh. Kepalaku tertunduk, sebelum akhirnya kujawab, “of course, idiot. I do. You know that i love you, don’t you? I do. I do.

Kupeluk dirimu begitu kencang, seakan inilah kesempatan terakhirku. Kaumelepaskan pelukanku setelah beberapa menit yang begitu membahagiakan sepanjang hidupku, kau mengambil cincin di kotak itu untuk kaupakaikan ke jemariku.

“Setelah ini, akan banyak tempat jauh yang akan kita kunjungi. Bersama-sama. Dan barangkali, kita akan mengulang kebahagiaan ini berkali-kali.” Katamu dengan angin yang mulai mengapus sedikit demi sedikit wajahmu.

“Di mana?” Tanyaku. Kali ini tak ada jawaban. Wajahmu ditelan deburan ombak yang mulai tak sabaran menjamah bibir pantai. Matahari pun mulai memeluk laut, sedang aku kembali mengulang semuanya, seperti katamu. Kau tak pernah tahu, aku benci untuk mengatakan kau benar dan salah dalam waktu yang bersamaan. Benar, karena kita nyatanya bersama-sama pergi meski dengan tujuan masing-masing. Salah, karena kita tak lagi mengulang ini semua bersama-sama. Nyatanya, sekarang, hanya aku yang mengulang semua kejadian setahun yang lalu di sini. Sendiri. Di kepalaku.