Tags

,

Ehehe. Get well soon, dear you. :3

A video posted by Iit Sibarani (@iitsibarani) on

Dear Iron Man,

Hai kamu, laki-laki yang (ngakunya) tak pernah sakit. Bagaimana keadaanmu hari ini? Aku harap, keadaanmu sudah membaik sekarang. Aku suka sekali jika dalam keadaan burukmu, kau mengingatku untuk sekadar menyapa atau sedikit mengeluh. Tidak, bukan dalam arti aku suka melihatmu sakit. Tapi aku suka melihat diriku sendiri mengkhawatirkanmu dan menjadi orang yang kau ingat, meski hanya di saat terburukmu.

Maaf jika terdengar egois, tapi di seperti saat itu, aku mencintai caraku mencintaimu.

Ada beberapa hal yang tak ingin kusampaikan, namun ingin sekali kusampaikan. Beberapa hal yang kurasa tak perlu kusampaikan, sebab tak hanya sekali bukan hanya kusampaikan, namun juga kubuktikan; baik dari yang mampu kau jangkau lewat mata, atau yang kerap hatimu ingkar perihal sesuatu yang nyatanya selalu ada.

Perihal waktu yang kerap mereka sebut “sia-sia”, atau perihal rasa yang semakin lama berkuasa, bukan hanya di hati dan kepala, tapi juga dalam setiap doa.

Usiaku tak lagi muda, untuk sekadar mengada-ada sesuatu yang nyata. Dalam hal ini, aku suka sekali melihat diriku sendiri serupa gadis kecil, yang kali pertama mengenal seorang pria dan ikhlas menjatuhkan cinta. Seorang gadis kecil yang masih mempercayai dongeng-dongeng dalam buku cerita, dan perihal keajaiban di tangan Tuhan. Dalam waktu yang bersamaan, aku menjadi seorang nenek tua yang mencintai cinta terakhirnya; yang begitu pandai memintal tabah dalam balutan doa,  yang kerap menghargai kehadiran, meski harus terjerat dalam ribuan mil di antaranya, yang tak kan lelah menanti langkah kaki untuk kembali pulang, ke dalam sebuah pelukan.

Barangkali, bukan hanya sekali. Aku menjadi gadis berusia belasan, yang kerap dirundung emosi yang tak berkesudahan. Seorang gadis, yang membuatku merasa menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang menghujani dirinya sendiri dengan harapan dan kekecewaan, dan bukankah itu yang sepatutnya kusyukuri? Ketika hatiku telah berfungsi sempurna, sebab mampu mengakui keberadaan sebuah luka.

Dan saat seperti itu, aku mencintai caramu membuatku mencintaimu.

Aku hanyalah perempuan biasa, yang menghangatkan diri dengan cinta namun akhirnya terbakar sendiri dengan banyak luka. Aku yang mampu mencinta, terkadang mampu juga untuk merasa patah; ketika isi kepala mulai dihujani rasa tak percaya dengan banyak tanda tanya. Aku pun hanya perempuan sederhana, yang begitu berbeda dengan mereka yang memiliki segala. Aku tak punya apa-apa yang bisa kau banggakan, dan kau tak kan mendapat apa-apa selain ketulusan merawat cinta dengan banyak doa. Sesuatu yang tak mampu dibanggakan oleh mata atau isi kepala, namun sesuatu yang bisa membuatmu (ny)aman untuk jutaan kelak.

Aku hanyalah perempuan biasa yang ikhlas terjatuh, yang mampu cemburu ketika perempuan lain kau cumbu.

Percayalah, kau tak perlu mempercayaiku. Percayalah pada Allah, sebab Ia lebih pandai meyakinimu dengan banyak kejujuran, daripada kata-kata dari lidah seorang manusia. Tentu saja, bukan? Jika memang cinta ini adalah setulusnya bagian dari Tuhan, aku yakin, kelak kau akan diyakini dengan banyak pertanda, yang kuharap masih sempat kaubaca sebelum akhirnya sesal mendiami di banyak sudut rumah.

Dan saat seperti itu, kau tahu, Allah begitu mencintaimu, melalui aku.

“sehat-sehat yah nak cuaca sedang tidak bagus jadi rentan dengan penyakit.” Kamu ingatkan pesan dari siapa ini? Sampaikan salamku untuk beliau. Terima kasih sudah melahirkan seorang anak yang luar biasa, yang mampu membuat seorang perempuan jatuh cinta lebih dalam dengan Tuhan.

‘Jagalah dirimu di sana baik-baik. Istirhatlah yang banyak.’

Aku selalu benci melihatmu sakit. Kau tahu itu kan, iron man? Ah, aku rasa kau sudah mulai bosan, karena hanya kedua kalimat itu yang tak pernah lelah kuucapkan. Kau harus kembali sehat, ayo semangat! Masih banyak cita-cita yang ingin kau wujudkan, bukan? Dan seperti halnya aku yang tak lelah menjadi pengingat, aku tak pernah lelah mencintaimu lewat doa-doa yang tak pernah terlewat. Sebab, bukankah cara terbaik untuk mencintai, ialah dengan berdoa?

Ada samudera yang kerap menghalangi jemariku mengusap peluhmu, ketika kau jenuh ataupun terjatuh; sebab itu, hanya doa-doaku -yang sekiranya- mampu menyentuhmu. Teruslah melaju, raih apapun yang ingin kau tuju. Kelak, kuharap kau tahu ke mana sebaik-baiknya perahumu selamanya berlabuh, meski bukan aku.

 

 

Tertanda,

Fans Nomor Wahid,

Bebek Kuning.