Tags

,

: kepada laki-laki berjarak 5507 kilometer

 

Barangkali kau lupa, atau tak merasa ada ingatan yang melekat perihal pertemuan pertama kita. Bukan kali pertama juga, cerita yang sama kuulangi dalam tulisan. Kau tahu benar, aku adalah perempuan yang begitu gemar melupa; perihal segala yang membuat dadaku terasa sesak, atau isi kepala yang gemar memainkan langkah untuk terus meledak-ledak. Tapi tidak untuk hal-hal yang membawa di mana saat ini aku berada.

Ingatah kau, kali pertama kita bertemu?

Setelah ribuan kalimat dan pikiran kita tukar dalam banyak tulisan, menukarkan waktu dengan tawa dan imajinasi yang kerap menjadi mahkota. Datanglah saat itu. Ketika aku yang tak memiliki perasaan terkejut, ketika mendapati diri berada di kamarmu. Ruang itu bernuansa hangat, dengan wallpaper berwarna kuning kecoklaklatan. Kau dengan bangga menunjukkan ruang yang berisi rak-rak yang dipenuhi heroes figures koleksimu. Entah berapa jumlahnya, yang kutahu kau tiba-tiba mendekatiku dan… ah, sudahlah.

Ingatkah kau, kali pertama kita bertemu lainnya?

Ketika entah-kapan-kau-kembali-ke-Indonesia, kau sedang berada di Chipmunks saat itu, dan kau dengan segera menghubungiku untuk menemuimu, sebab katamu, kita akan hendak membelikan hadiah kelahiran untuk Astu –anak dari Elwa, sahabatku . Tak berapa lama, aku tiba di sana dan kita saling bertegur sapa saat itu. Selayaknya dua orang yang telah mengenal lama, tak ada canggung di antara kita. Setelah berputar-putar di antara rak-rak mainan, dan setelah perdebatan yang tak menghasilkan apa-apa, kau memutuskan untuk memulangkanku ke rumah. Saat itu aku marah, sebab membuang waktu hanya untuk memilih mainan, namun malah tak memilih apa-apa. Ingatkah kau perdebatan kita saat itu? Bukan perdebatan pertama, sebab kita gemar sekali berdebat perihal banyak hal; dari bagaimana mengatasi masalah yang ada, hingga perdebatan mengenai  bibir bebek yang melengkung ke bawah.

Ah, aku tahu benar. Kau pasti tak mungkin lupa pertemuan pertama kita yang itu, bukan?

Ingatkah juga kau, perihal kali pertama kita bertemu lainnya?

Ketika kau dengan tiba-tiba berada di depan rumahku. Ah, aku benci sekali denganmu saat itu. Kau hanya bilang akan kembali ke Indonesia dank kau akan sangat sibuk sekali, sesampainya di sini. Tak tahunya, kau malah membuat kejutan itu. Kau tahu kan, aku baru saja bangun tidur? Bagaimana kalau aku terlihat jelek di depanmu? Ugh.

Saat itu kau membawakanku bunga plastik, sebab kau tahu, aku benci sekali bunga-bunga yang dipaksa mati hanya untuk manifestasi cinta dan sebagainya. Saat itu kau mengenakan kemeja putih, dengan celana berwarna cappuchino. Kau mengenakan helm, meski kau membawa sebuah mobil. Persis dengan janjimu, jika suatu saat kita bertemu. Aku pemalu¸katamu. Sebab itu kau berjanji akan mengenakan helm untuk menutupi wajahmu. Aku hanya tertawa, dan segera memelukmu. Kau tak terasa asing, meski inilah kali pertama bertemu. Kau tahu, jauh sebelum hari itu, aku merindukanmu lebih banyak dari yang kau tahu.

Tak lama, aku membawamu masuk untuk kukenalkan dengan kedua orangtuaku. Sebelum aku mengenalkanmu, kau terlebih dahulu membuka helm dan mengulurkan kedua tanganmu kepada ibuku, serta langsung mencium tangan ibuku dan mengenalkan diri secara langsung. Kau tahu, tuan? Kau lebih dewasa dari yang kukira. Ketika papaku tampak dari belakang, kau pun melakukan hal yang sama. Menyalami beliau dan mengenalkan diri dengan senyuman yang akhirnya kulihat secara langsung – bukan hanya dari layar ponselku saja. Tak butuh waktu lama untuk kau berbaur dengan keluargaku. Ingatkah kau, ketika kau begitu iri dengan suasana yang kerap ada di keluargaku? Ingatkah juga kau, bahwa kau kuizinkan untuk menganggap keluargaku ialah keluargamu juga? Dan aku menghela napas lega, melihatmu bahagia dengan banyak tawa di sana.

Untuk yang terakhir ini, barangkali kau tak ingat. Atau barangkali, aku yang lupa untuk mengingatkanmu perihal yang sejatinya kau lupa untuk kau ingat. Begitu banyak pertemuan kita, dari yang kuingat atau yang segaja kubunuh dalam ingatan.

Dan barangkali, kehidupan hanyalah perihal pengulangan. Di mana manusia kerap diberikan kesempatan oleh Tuhan, untuk memperbaiki kesalahan, berulang-ulang hingga kedua belahan jiwa dengan sempurna saling menyempurnakan.

Barangkali, apa yang dikatakan salah seorang sufi yang kukenal benar adanya, perihal “mimpi ialah ingatan-ingatan yang kerap kita putar dari kehidupan sebelumnya.”

O perhaps, baby.

Your soul knew mine, and we loved each other in the past life.

Sebab itu kau dan aku, selalu merasa mengenal lama, bukan? Seperti telah melewati banyak peristiwa yang serupa, entah di mana.

 

Untuk kau, laki-laki yang kerap kudekap lewat doa.

Jika kau membaca surat ini, kuharap kita tak perlu lagi mengulang ingatan di kehidupan yang lalu dan dapat membuat cerita baru. Entah di mana, kuharap pertemuan pertama denganmu akan menjadi nyata, sebelum ragu membunuh langkahku satu persatu, menujumu.

 

 

Tertanda,

Perempuan yang melupa caranya lupa.