Tags

:Kepadamu Tuan

yang namanya mengabadikan diri dalam ingatan,

 

Barangkali, yang mereka bilang perihal “jika kau ingin membunuh seseorang, katakanlah kau mencintainya dan menghilanglah” benar adanya. Barangkali pun, mati tak lagi asing bagiku. Dan barangkali, jika masih ada nanti, bukankah lebih baik kubunuh diriku sendiri sebelum belati yang lain mengulitiku lagi?

Percayalah, bukan hanya sekali aku menitipkanmu pada samudra, membiarkan doa-doa dipeluk ombak menuju senja. Ketika kutahu mencintaimu tak pernah semudah menapakkan jejak, yang kelak mudah menghilang hanya dalam satu sapuan ombak.

Sebab, aku hanyalah satu dari banyak kemungkinan yang tak kau inginkan. Ketika jemariku tak mampu meraih apa-apa yang tak kau izinkan, atau ketika senja lebih menarik hatimu daripada perempuan yang hanya mampu mencintaimu melalui doa, atau ketika kedua isi kepala kita yang gemar menjadikan prasangka sebagai tuannya.

Aku bukanlah perempuan yang pandai menerka isi dada, ketika kakimu  lebih mahir menciptakan jeda, sedang lidahmu tak berkata yang sama. Bukan juga langkahku yang kian menua, sebab kau adalah ingatan yang tak seharusnya menjajah isi kepala.

Bagiku, cinta ialah bagian dari Tuhan yang tak terpisahkan.

Dan mencintaimu, ialah keikhlasan untukku beribadah.

Tahukah kau tuan,

Menujumu, ialah apa yang kujaga selama kita ada. Maafkan, jika aku begitu gigih memintal sabar untuk mempertahankan rasa. Aku pun tak tahu, jika kau di sana, menginginkan hal yang sama ataukah penat dengan kebodohanku yang itu-itu saja?

Jika kita adalah sebuah tujuan, bersediakah kau bunuh jarak dan jeda di antara samudra, kemudian menjadikan aku satu-satunya perempuan, yang tak kan berhenti bersyukur atas namaNya? Atau jika kelak tak pernah ada untuk kita, pintalah aku melumpuhkan langkah, bukan hanya membunuhku dalam diam yang tak berkesudahan.

 

 

Tertanda,

Perempuan yang gemar menghukum dirinya sendiri dengan tanda tanya.

PS: Barangkali kau lupa, aku hanya ingin mengingatkan;

Aku (masih) mencintaimu, tuan.