Tags

; Teruntukmu puan,

Izinkan saya menyampaikan beberapa hal, perihal kecemasan di dada seorang perempuan. Ketika masa lalu ialah jarum jam yang tak mampu kau putar ulang. Di mana tak hanya sekali kau berputar arah, sebelum segala menjadi apa yang tak ingin kau sesalkan sekarang. Tak mudah, tak pernah dan tak akan pernah mudah untukmu, wahai puan, namun kau ialah perempuan yang begitu pandai menyulam sabar. Di sepanjang jalan yang kau sinari melalui doa, kau selalu percaya, bahwa Tuhan tak mungkin mematahkan langkah tanpa ingin membuat hambaNya belajar.

Puan,

Tahukah kau berapa banyak musim yang saya lewati, hanya untuk memahami? Ketika inginmu ialah petaka bagi masing-masing; menjadikan kita semakin asing. Meskipun kita terlahir dalam satu takdir, terkadang, kepadamulah puan, segala amarah saya berotasi.

Maafkan, jika kata maaf tak pernah bertamu di lidah saya. Maafkan, jika hanya goresan yang gemar saya toreh di dadamu, puan. Maafkan, jika langkahmulah yang kerap menjadi alasan-alasan kesalahan.

Berhentilah, kumohon puan.

Mengutuk masa lalu, dengan ribuan kecemasan yang baru. Bukankah kita satu? Bukankah sudah seharusnya kau bagi deruan sesakmu, untuk kemudian mengeratkan gengaman pada kelak paling abu-abu? Bukankah sudah seharusnya, saya turut andil menggantikan kehilanganmu bertahun-tahun?

Terima kasih untuk segala luka yang kerap mencekik leher kita berkali-kali. Terima kasih, untuk keputusan yang tak pernah ingin kita sesali. Terima kasih, untuk membuat saya lebih mengerti, mengapa saya sudah seharusnya berada di sini.

Padamu saya belajar banyak, puan. Perihal menjadi kuat bukan hanya perkara membesarkan otot dan perkataan; ialah berada pada kecemasan yang berhasil ditakhlukkan. Perihal menjadi sabar bukan hanya perkara menanti senja yang kerap datang; ialah berada pada ketidakpastian yang tak lepas dari doa-doa. Perihal mencintai bukan hanya perkara hak milik dan memberikan segala, ialah berada pada doa dan keikhlasan.

Jika kelak seorang laki-laki bertanya, mengapa saya menjadi seorang perempuan yang begitu kuat menghadapi badai yang tak berkesudahan, begitu sabar menghadapi duka melalui doa-doa, atau begitu mencintai meski tak diinginkan; saya akan berkata, “ialah ibuku, yang mengajariku demikian.”

Saya mencintamu, puan.

Meski itu yang kerap saya dustakan.

Hormat saya,

Perempuan yang begitu bangga lahir dari rahimmu.

IMG_3192