Tags

; Evans Suryani Sibarani

 

Betapa kupaham kecemasan-kecemasan yang tergelincir dari sendu tatapan, yang gemanya paling bisu di antara senyuman dan tawa. Dengan detik yang berdetak lebih cepat, kau perlahan muak oleh suara-suara di telinga dan kepala; perihal rahim yang belum mampu membaca kehidupan atau perihal apa-apa saja yang menjadi pembenaran atas persepsi-persepsi manusia. Berangkali, apa-apa yang kau dengar serupa desis ular; mengancam satu persatu langkah, sebab kau tahu, jika saja salah kakimu melangkah, ada jiwa yang terbunuh perlahan.

Sayang. Kau, aku, dan mereka; memang berada di bawah langit yang sama, tapi bukankah masing-masing memiliki musim yang berbeda? Berjalanlah ke mana seharusnya kau berada. Kemas segala cemas, dan berdansalah di tengah hujan yang bermukim di kantung mata. Percayalah, bahwa sesungguhnya manusia lebih butuh tepat daripada cepat. Dan untuk sanda gurauNya, bersyukurlah sebab kau di selamatkan dari banyak kejatuhan yang mungkin lebih buruk dari yang seharusnya.

Pada suatu petang, barangkali kau akan terkejut pada fragmen-fragmen cuaca di luar nalar; ketika isi kepalamu telah mahir menyisir harapan, dengan dada yang meriwayatkan doa-doa. Percayalah pada kelakNya yang jauh lebih indah dari apapun yang kau inginkan.

Kepada perempuan yang mencoba menerjemahkan warna-warna pucat di sebuah taman, bersandarlah meski sekadar. Kesabaran memang tak serupa orang tua yang duduk di kursi goyang, dan menanti ajal di depan mata. Sungguh aku pun percaya, kakimu lebih lincah mengayunkan diri ke tujuan. Namun, aku ialah perempuan yang mencintaimu lebih dari sebuah kalimat, yang kerap memakamkan lelah untuk menyertakanmu di setiap doa. Dan surat ini hanyalah satu dan kesekian pengingat, bahwa pelukanku masih menjadi rumah yang hangat; meski kini seseorang yang kau sebut imam, telah menjadi rumah di mana segala pulangmu berada.

 

 

Tertanda,

Iitsibarani.

 

 

IMG_5563