Tags

Hai, halo. Salam olah raga!

Hahaha. Saya bercanda. Saya tak bisa mendapatkan pembuka yang lebih baik dari itu. Tadinya mau menyapamu dengan kalimat, “halo kutil anoa!” atau “hai kerak lemper!” atau “hai hai cengtong lodeh!” eh gak ding, maunya “hai koko! Aaaaakkk! Aku ngefans banget sama kokoooo!” hahaha, tidak sih. Sesungguhnya mau saya sapa dengan “dear ironman,” tapi sepertinya terlalu berlebihan mengingat surat ini seharusnya menjadi surat yang membahagiakan.

Saya dengar kau sudah dekat dengan seseorang ya? Wah! Selamat! Makan-makan kita! Hazeg. Traktir cimol! Selamat ya. Ayo dong, segera diresmikan. Semoga dia perempuan yang selama ini kau cari ya. Amin. Saya yakin, dia pasti perempuan baik-baik, tidak suka merokok, tidak punya tato, pintar, cerdas, berpendidikan tinggi, cantik, menyenangkan, rajin menabung, dan juga membantu orangtua, bukan? Ah, sudah pasti dia memiliki apa-apa yang tidak saya miliki.

Terus kata kamu ketika membaca itu, “ya iyalah, tusuk cimol! Mana mungkin guweh jatuh hati kalau dia gak sesempurna itu! Mn mngkn gt wa zk ma u! hewwloow~ ngmpi?”

“Aelah, straples lemper bisaan aje. Wa uga tw kq, kl u smpt syg ma wa. Hzeg. Pd gilak wa, y. yoi. Pede mah boleh, kalau jadi orang ketiga tuh gak boleh. Mengerti kau Fernando Jose?” bantahku seketika.

“Ah, tidak Ciripa. Bangunlah. Berkacalah. Kau pikir kau pantas buat aku?” katamu kemudian.

Mendengar ucapanmu, saat itu saya pun pura-pura berubah menjadi panci di dapurnya Atun. Karena Atun ingin memasak sayur asem, maka ia pun menggunakan saya. Dibakarnya pantat saya dengan api-api yang menjulur dari tao-lo. Kau tahu tao-lo? Tao-lo itu kalau ada yang teriak minta bantuan. “AAAKKK TAO-LO!! AAKKK!” aelah centong cendol bisaan aje. ITU TOLONG WOY! oh gitu yak? ya maap. Tao-Lo itu salah satu kota di Jawa. ITU SOLO!!! Oh udah ganti nama ya? kok gak ngabarin saya ya? -..- Jadi Tao-Lo itu adalah topi yang dipakai saat jadi sarjana. ITU TOGAAAAA, WOOOY! etdah. JAUH WOY JAUH! *mamamin panci* Okay, jadi tao-lo adalah kompornya orang-orang Laos. Hazeg. Pinter ya aku? Yoi dong. Kan abis googling barusan. *digebuk*

Eh bentar, si atun ngapain pake kompornya orang Laos ya, dia pan orang betawi? Maap. -___-“

Okay kita lanjutkan surat ini. Saya ingin berterima kasih. Untuk sepanjang musim yang kau beri warna-warni. Terlebih hadirmu, membuat seorang perempuan lebih mencintai sang illahi. Entahlah kau gunakan apa untuk mewarnai, tawakah? Atau teguranmu kah? Atau perdebatan yang sering kita alami kah? Entahlah. Tidak mungkin kau gunakan pensil warna apalagi pensil alisku kan? Hahaha. Oh iya, terima kasih juga untuk kado yang kau berikan kemarin. Ketika saya bilang bahwa kadomu sangat berarti, kau tidak percaya bukan? Tentu saja berarti. Ada usaha di sana, ada perhatian di sana, ada saya yang ternyata kau ingat juga.

Segala yang berarti, terkadang tak mampu terlihat, tapi lebih banyak dirasakan. Segala yang berarti, tak pernah ada ukuran nominal. Segala yang berarti, ialah salah satu berkahNya, yang sudah seharusnya dijaga.

Oh iya, saya juga ingin meminta maaf. Maaf ya, kalau selama ini saya sering mem-bully-mu. Kau tahu? Hanya dengan cara itu terkadang saya bisa mencuri perhatianmu, atau tawamu. Ah, entahlah saya terlalu khawatir dengan isi kepalamu. Terkadang saya ingin sekali masuk ke dalamnya, dan mencari tahu perihal akar dari segala belukar di sana. Begitu ramai, meski nyatanya hanya sepi yang ada. Bahkan saya ingin sekali membangun rumah di sana. Kau tahu kan? Kelak saya akan menjadi arsitek yang hebat? Hahaha. *sombong* *biarin, wlee!* Tadinya saya ingin sekali membangun rumah, dengan pondasi paling kokoh yang ada di hatimu, mz. Tapi karena saya harus tahu diri, da aku mah apa atuh. Hanya sehelai uban di kumisnya Foke yang kerap dijatuhi upil. Hiks. Zkit hti eneng, bang. Jadinya saya hanya menyimpan rapat-rapat keinginan itu, dan hanya menghantui mimpi-mimpimu. Hihihihihihi. *ternyata saya siluman panci*

Saya minta maaf untuk itu.

Baik, sebelum kau mulai bosan. Sebaiknya kusudahi saja surat-yang-kesekian-kalinya-yang-saya-tujukan-untukmu ini. Oh iya, saya menuliskan beberapa tulisan sejak kita mulai mengenal dari tahun lalu. Beberapanya berbentuk sajak dan surat-surat. Kalau surat-surat sebelumnya tidak sampai ke tanganmu, katakan ya? Biar saya blender kangpos adimas-yang-ngatain-saya-masokis itu dengan sekali putar. Hah!

Baik-baik kamu ya. Dijaga kesehatannya, jangan jatuh sakit. Cita-citamu butuh kesehatan ekstra untuk dicapai semua, bukan? Hayo, jangan lupa dikasih hak badannya untuk istirahat ya. Saya juga masih mendoakan hal yang sama setiap harinya; agar kau berbagia, untuk apapun yang kau butuhkan. Baiklah Fulgoso, Marimar pamit undur diri dulu. Salam sejahtra! *dilindes*

Tertanda,

Bebek Kuning – Fans Nomor Wahid, dari Rawa Bokor.

NB: Sebenarnya saya ini masih bingung dengan diri sendiri. saya ini panci atau bebek kuning; yang pasti saya fans nomor wahidmu. AAAK KOKOOOH AAAK!

IMG_0242

Setiap malam, saya kerap melihat seorang perempuan tertunduk pada kegelisahannya, memayungi kesedihannya di kantung-kantung mata dan di atas sajadah. Kau tahu, tuan? Ia mencintai atas namaNya, sebab mengharap berkahNya. Perempuan itu mengikhlaskan segala kepadaNya meski sering patah berulang-ulang. Bukan inginnya untuk menyerah, bukan juga sebab lelah memaksa ia membunuh langkah; ialah sebab ia tak ingin keberadaannya hanya menjadi pengganggu cinta yang telah ada, dan ia harus tahu diri, bukan? Jika hadirnya tak pernah diinginkan. Seperti yang saya katakan sebelumnya, ia mencintai atas keikhlasan namaNya; selepas ini semua, ia hanya akan tetap mencintai lelaki yang ia cinta dengan doa yang tak berkurang kadarnya. Hingga Tuhan mengharuskan ia mengganti nama seseorang dalam doanya, dengan nama seseorang yang tepat menurutNya. Hingga saat itu tiba, percayalah hanya ada namamu dalam setiap doanya.

Bukankah, sebaik-baiknya mencintai ialah melalui doa, tuan?

Dan itu yang saya lakukan.