Yaa Allah,

 

Sebelum kaki-kaki takdirMu mengucurkan ujung yang utuh, biarkan keresahan memakamkan dirinya di kedua tanganku yang menengadah kepadaMu. Kerap kulihat candaMu melantangkan rindu yang menahun, membiarkan kesipusipuanku terpancar dari raut tatapanku. Kemudian sekali  waktu, Engkau melemahkan denyut nadiku, menyorakkan rinduMu dengan hujan di pelupuk mataku

Wahai, Engkau Maha Pemberi.

Sekalipun waktu mamasung lehernya sendiri, tak kan mampu aku menyinari matahari yang bersinar lebih terang dari sebuah puisi para bidadari. Adalah Engkau yang menyelamatiku dari  hari-hari yang kelak mati, meski seringnya keluhku yang Kau dapati. Adalah Engkau yang kerap menyeka hujan tak bertepi di pipi, meski perihnya kudapati dari belati di tanganku sendiri. Adalah Engkau yang merengkuh segala nyeri, meski hatiku mengharap ciptaanMu yang lain.

Ampuni aku yang tak tahu diri. Ketika panggilanMu, kerap kuanggap hanya serupa lilin; yang menerangi untuk kemudian mati. Bukankah hanya Engkau yang begitu tulus mencintai, ketika yang lainnya hanya lahir untuk kemudian beranjak pergi dalam ribuan langkah kaki? Ampuni aku yang melewati banyak musim dengan meleburkan banyak pelangi, hanya untuk mencari arti.

Wahai, Engkau Maha Pengasih.

Aku adalah perempuan kerap kau selimuti kasih. Malam tak pernah sepekat kopi, ia selalu hadir dengan prasasti-prasasti yang kerap membuatku tergelincir, pada warna yang begitu pagi. Konon, itu ialah salah satu caraMu mencintai, membiarkan ciptaanMu mati agar mengerti arti kehadiran lahir.

Yaa Allah, bisakah kupinta satu hal kali ini? Jika hari ini gerimis kembali membasahi nyeri di perempuan yang Kau cintai ini, jangan hukum ia di lain kali. Aku belajar mencintai dariMu Wahai Maha Pengasih; ketika mata bukanlah juru kunci perihal mencintai, ketika doa ialah sebaik-baiknya untuk mencintai. Dan ketika memaafkan jauh lebih baik daripada membiarkan iblis, merayakan kemenangannya melihat isi hati manusia dipenuhi rasa benci.

Biarkan hambaMu ini, belajar mengikhlaskan apa-apa yang tak pernah ia miliki. Sebab, ia pun sudah begitu mengerti; bahwa segalanya pun akan kembali, dan sebaik-baiknya pulang ialah kepada illahi.

Yaa Allah, Wahai Maha Segala Arti. Mencintai tak pernah seindah ini.

Ketika keresahan kubiarkan berkelakar menamatkan ingatan-ingatan, menjadikan aku pecinta kesakitan yang tamak. Sebab, semakin resah itu mencekikku erat, semakin hebat dekapanku merengkuh surgaMu kelak. Ialah kecintaanku padaMu, yang menjadikanku perempuan yang begitu mahir menjahit lukanya dengan banyak sabar. Ialah kecintaanku padaMu, yang menjadikan keikhlasanku sebagai mahkota. Ialah kecintaanku padaMu, yang menjadikanku hamba yang begitu Kau cinta.

Yaa Allah,

Biarkan cintaku hanya berotasi padaMu, dan biarkan hamba mencintaiMu sepanjang usia jiwaku. Sujud syukurku tak kan habis tertuju padaMu, dan kepadaMu lah sebaik-baiknya cintaku tertuju.

Terima kasih yaa Allah, untuk segala yang luput dari mata dan telinga. Terima kasih yaa Allah, untuk menempatkanku pada kebenaran agamaMu. Terima kasih yaa Allah, untuk cintaMu yang tak terukur dengan segala.

 

Alhamdulillah.

 

 

Tertanda,

Seorang Perempuan yang mengharapkan surgaMu kelak.