Tags

: Zenna Sabrina

Terkadang aku mendapati diri menuangkan malam pada isi kepala yang tak mengenal diam, perlahan dan begitu dalam menikamku tanpa mengenal jarum jam. Pada detik berikutnya, sepi serupa remahan roti yang nenek enggan habisi, ia tercecer di sela bibir dan sepanjang jalan hendak kulalui. Hingga potongan-potongan episode yang kupikir telah mati kembali bangkit, ia layaknya hantu-hantu yang enggan pergi sebab emosi masih menuhankan diri. Kau tahu, apa yang paling kutakuti? Ialah isi kepalaku sendiri. Ia mampu menikam siapa saja yang ingin kusakiti, atau barangkali, menjadi belati yang siap membunuh tuannya sendiri.

Pada gelap yang kupikir kekal tak beranjak dari lidah, atau gerimis yang tak mengenal angka-angka; Tuhan menghadiahi aku seorang perempuan di balik cermin yang berbeda. Ia tak berwajah serupa, namun terkadang aku melihat patahan yang sama dalam langkah dan senyumnya, dan syukurku tak ingin beranjak dari sajadah, sebab ia kusebut sahabat. Zenna Sabrina, terima kasih untuk tepat tiba di tempat.

Kau dan aku, bukanlah perempuan yang pandai menyederhanakan isi kepala, terlebih isi semesta yang penuh rahasia di dada. Bukan sekali, aku gagal menerjemahkan luka yang ada; dan kau akan membantuku menyusun patahan langkah, hingga kutemukan apa yang sengaja ingin kulupakan. Begitupun sebaliknya. Percayalah sayang, kita hanya kerap melupa kalau kita bukanlah orang yang pelupa. Bukankah itu hanyalah pilihan kita, agar duka tak perlu menjadi raja yang kita sembah?

Kita serupa lidah yang sengaja Tuhan ciptakan untuk masing-masing kepala, membahasakan rahasia-rahasia dengan kalimat yang tepat; meski, tanpa perlu banyak bercakap. Sepasang mata kita ialah cara kita berbicara lebih banyak, dengan hati yang gemar bersolek di masing-masing kaca.

Entahlah sayang, kita berada di satu garis bintang yang sama, namun jarang kulihat gelap menggerogoti isi cakrawalamu yang menawan. Kau memiliki segala, yang ingin kupunya; dan bukan hanya sekali saja, aku menginginkan warna yang sama. Barangkali, aku tak semahir dirimu dalam melukiskan awan, hingga hujan gemar sekali memeluk bumiku erat. Katakan padaku sekali saja, bahwa kelak sebuah musim akan tiba, dengan bahagia yang enggan menua – saat itu, kuasku tak perlu lagi patah, sebab tawa menjadi satu-satunya alasan mengapa langitku berwajah cerah. Ah tidak. Kuharap musim itu akan tiba bukan hanya untukku saja, tapi tepat diciptakan untukmu juga.

Zenna Sabrina, terima kasih untuk tiba dan tak beranjak dari awal kaca berada di antara kita. Terima kasih untuk lahir dan berjuang menyelamati diri hingga hari ini datang. Jika bukan karena adanya kau, sudah bisa kupastikan hanya aku seorang yang merasa paling waras di antara yang lainya. Terima kasih untuk menjadi perempuan yang selalu berkata, “Aku siap nelpon, kalau iit sudah siap cerita.” Dan bukan memaksa lidahku berkata apa-apa sedang isi kepalau entah berada di mana.

Sudah lepas hari kelima, dan kuharap doa-doa tak pernah mengenal kata terlambat untuk tiba.
Zenna Sabrina. Tetaplah merasa waras, ketika manusia lainnya mengganggap kita gila. Kau tahu, kita memliki apa-apa yang sudah seharusnya dirahasiakan; dan tetaplah menjadi perempuan di luar logika, sebab Tuhan selalu melukiskan tujuan indah atas alasanNya menciptakan kita. Tetaplah merindukan aku, sebab kalau kita bertemu, yang ada kita hanya bertengkar saja terus.
EH BEGIMANAH? Bhakhakhak.

Ketika kau lupa caranya memfungsikan lidah, sedang hatimu diguyur oleh ketiadaan; kabari aku ya, aku takut lupa kalau kau ada. Bhakhakhakhak.

Atas nama PAKSA (Persatuan Aquarius Keren Seantero Alam),
Saya mohon diri dulu. Terima kasih. Salam olahraga!

Tertanda
Perempuan yang kerap lupa menyayangimu,
iitsibarani.

PS: Kalau rasa sayang kita pudar hanya karena sifat pelupa-yang-sengaja-kita-ciptakan, saya rasa kita tak mungkin berhasil ada hingga sekarang. Okay, karena kemarinan kamu ulangtahun saya akan kasih makan egomu; saya sayang kamu, Zenna Sabrina.