shewolf

begitu banyak wajah yang ia lihat, tak mampu lagi tehitung angka; beberapa dipenuhi tanda tanya dan tembok-tembok yang begitu besar mencoba melindungi apa yang perlu dijaga, beberapa lainnya hanya berupa lembaran kaca yang mudah pecah, bahkan tak sedikit yang mencarinya di sela rupiah hingga melupa bagaimana wajah aslinya.

ia bukanlah perempuan berwajah indah, dengan malam di kepalanya yang ia coba hiasi dengan banyak bunga. ia bukan pula perempuan yang gemar mengumpulkan banyak wajah, hingga melupa bagaimana seharusnya merupa.

ada musim yang kini membuatnya lelah, di mana ketika gelap menjejakkan langkah, lehernya terjerat apa-apa yang kerap membuatnya sulit bernapas; sebab, setiap kali matanya tertutup rapat, ia dihantui luka yang kerap ia coba lupakan. baginya, lelap adalah samudra yang begitu ia rindukan, meski ia tahu akan terhanyut hingga ke dasar yang begitu pekat dan menakutkan, setelahnya.

jika saja ia boleh memohon satu hal kepada tuhan, ia hanya ingin terlelap dengan tenang, tanpa perlu kepalanya memutar apa-apa yang ingin ia lupa, dan membuatnya terjaga hingga pagi tiba.

jika saja pagi mampu menjamah bibirnya, barangkali, dadanya tak perlu disesaki tebing yang beraneka rupa. jika saja hujan dapat ditawar dengan tawa, barangkali hatinya tak perlu beku sedemikian lama. jika saja ia dicintai dengan semestinya, barangkali ia tak perlu menjadi siapa-siapa kecuali dirinya.

ia bukanlah perempuan berwajah indah, dengan malam di kepalanya yang ia coba hiasi dengan banyak bunga. ia bukan pula perempuan yang gemar mengumpulkan banyak wajah, hingga melupa bagaimana seharusnya merupa. ia hanya seorang perempuan yang mencoba bertahan dengan belati yang tertancap lama di dada, menjadikannya seorang perempuan berwajah malam yang menyerukan kesakitan dalam bisu yang tak berusia.