Cillaheliosn2 Final

Apa yang kau tahu perihal semestaku, tuan? Ketika dadaku kau sesaki dengan tanda Tanya yang berkepanjangan, dan musim-musim yang kerap tak pernah menjanjikan pagi di esoknya. Di mataku, dunia tak lagi berwarna, hanya ada hitam dan putih yang menjelma menjadi apa saja; meski mereka bilang, kanvasku berwarna paling indah yang pernah ada.

Jika saja sabar masih kau dekap, barangkali tak perlu kupatahkan langkah; dan tak ada kata sia-sia dalam penantian. Jika saja aku yang mampu membuatmu bertahan, barangkali tak kan ada hati lain yang kau puja. Jika saja kita yang kau inginkan, barangkali tak perlu banyak jika yang menghajar habis kepalaku paling malam.

Aku bukanlah perempuan yang pandai memuja apa-apa yang kau punya, bukan juga perempuan yang menghiasi wajah dengan banyak rupiah; namun, doaku tak pernah kandas, meski seringnya genggamanku yang kau lepas.

Habis sudah inginku atas kita. Bukan, bukan karena cintaku akanmu telah tutup usia; ialah sebab cintaku yang teramat, hingga kepergianku adalah langkah yang paling tepat. Berbahagialah dengan hati yang kau pikir sempurna, dan aku akan merayakan kematian -yang kau dan aku sebut- kita, dengan puisi berpita gulita.

Kau tahu tuan, di pusara ini, bukanlah bunga yang menghiasi di atasnya; ialah langkah pergiku yang telah lama kau nantikan. Di dalam sana, telah kukuburkan ingin dan mimpi yang pernah kita warna bersama. Maafkan, untuk kerasnya hatiku menujumu; hingga melupa mereka telah lama tak bernyawa.

Tuan, tak perlu lagi kata maaf kau gelar di lidah. Kita telah usai, tepat ketika namaku kau hapus dalam doa.