terkadang kau merasa begitu lelah untuk merasa lelah, bukan karena harimu yang tak berwarna bunga, ataupun sepanjang hari yang membuat tubuhmu berkeringat. hingga kau ingin sekali terlelap begitu saja, tanpa perlu mengeja ingatan.


tak jarang kau ingin sekali melukis malam, dengan nyanyian para malaikat; menyerukan namaNya dan berharap lelahmu mereda. namun tak jarang, langkahmu begitu erat menggenggam dunia, hingga melupa ini hanyalah jalan menuju apa yang kelak kekal.


kau tahu, bukan mereka yang kerap membuatmu tak bernyawa; tapi ialah dirimu sendiri yang memaksakan pelangi tiba dengan banyak pagi di kepala, meski kau tahu, bukan kau yang dijadikan pulang sejak awal.


kau ingin sekali membiarkan lidah berfungsi sempurna, atau bahkan membiarkan musim membawa luka hingga ujung dunia; agar pelukan lebih mudah direntangkan siapa saja, atau setidaknya, kau diberikan telinga untuk sekali saja. namun kau begitu merasa lelah, sebab tak sedikit yang hanya memberikan banyak muka dan bukan karena peduli kau hampir sekarat.


untuk detik yang banyak berkorban atas nama pelajaran; kau membiasakan luka dan membahasakan diam. tak sedikit yang menggoreskan belati hingga isi kepalamu keluar, atau bahkan kau membungkam kecewa dengan banyak pemakluman; bahwa kesalahan, yang menjadikan siapa saja manusia. namun kau lupa, sayang; kau pun hanyalah manusia, yang bisa terdarah dengan pisau yang menancap di dada. barangkali kau ingin sekali menenggelamkan malam dan menyerukan segala kesakitan, agar mereka tak lagi membuat kakimu patah untuk kesekian kalinya; namun kau merasa begitu lelah, bahkan hanya untuk berkata tidak.


kau memilih diam, dan membiarkan segala; sebab lelah sudah hilang makna, entah sejak kapan.