tak ada yang mampu menjamin, bahwa cinta tak kan menyakiti bagi siapapun yang menerimanya —sebaik apapun cinta itu diberikan. tak juga ada yang mampu menjamin, cinta tak kan menyakiti bagi siapapun yang memberikannya —sebaik apapun cinta itu diciptakan.
bukan inginnya tuk berada di antara apa-apa yang begitu ia benci dan apa-apa yang selamanya kan ia cintai. bukan pula inginnya, menyayat belati di nadi seorang laki-laki; sedang ia merasa lebih mati dari ia yang disakiti.
tibalah perempuan ini pada sebuah hari-hari yang kerap membuat dirinya mencaci diri; di mana setiap malam ia lewati dengan mencemaskan esok hari, menanti pagi dengan berharap kecemasan kan membunuh dirinya sendiri. terkadang ia lupa, bahwa cemas tak kan berakhir hingga ia mengikhlaskan apa-apa yang sejatinya harus terjadi.
malam tak pernah menua di kepalanya, meski pagi ialah apa yang kerap ia sebut dalam doa-doa. di dadanya, ia kerap percaya, doa tak kan pernah sia-sia dan ia hanya perlu menghadiahi dirinya dengan lebih banyak lagi sabar; meski kecemasan tak kan lelah melumpuhkan langkah.
bisakah seseorang berikan jawaban, mengapa untuk bersujud kepadaNya, ia harus mencekik leher laki-laki yang menjadi napasnya? dan mengapa tawa hanya dijadikan pemanis buatan untuk asin air mata?
ia tak kan meminta Tuhan memaklumi noda yang ia buat, demi cahaya di wajah seseorang ia cinta. sebab ia pun percaya, bahwa Tuhan lebih paham dalam rahasia-rahasia yang tak kan pernah mampu ia artikan.
barangkali, benar. jika cinta hanyalah perihal keikhlasan. jika dengan mencintaiNya, ia diharuskan menusuk belati lebih dalam ke dada laki-laki yang ia cinta, dan terluka lebih dalam lagi. atau dengan mencintainya, ia diharuskan hancur dalam panas api yang tak berusia —sebab senyum ciptaanNya yang kerap ia rindukan. barangkali, sudah seharusnya keikhlasan ada untuk sebuah cinta; meski dengan mengorbankan dirinya.
satu hal yang kerap ia pertanyakan,

haruskah terluka hanya untuk mencinta?