lama sekali jendela itu tertutup. seorang perempuan, mengunci diri dengan gelap yang bergelantungan di setiap sudut ruang. sebuah pintu juga telah hilang guna, dengan kunci yang ia remukkan di dada.

pada april ke lima belas di abad dua puluh, sebuah sinar memaksa masuk dari sudut jendela. menggoda perempuan itu dengan banyak tawa dan harap. tanpa ia sadar, inginnya untuk menutup rapat jendela perlahan kandas. ia membuka dan mengintip dari belakang tirai kamar, sebuah cahaya tiba serupa apa yang telah lama ia pinta dalam doa. begitu indah, hingga membawanya kembali pada alunan indah ayat suci yang lama ia lupakan.

ia tak sadar, ia jatuh cinta.

bukan karena pesona, tapi ialah karena cahaya itu menghangatkan apa-apa yang telah lama beku tak berkesudahan. ia tak sadar, ia jatuh cinta, hingga airmata menjadi pengingat segala yang ia pikir tak pernah ada.

betapa ia tahu diri betapa usang bergelayutan di dinding-dinding rumah, dan hanya cahaya berjiwa jingga yang mampu memeluk gelap dalam kepala dan menamakan dirinya rumah ternyaman.

cahaya itu selalu tiba, entah karena inginnya atau karena jendela yang perempuan itu buka. ini bukan lagi perkara bahagia, tapi ialah perkara syukur yang tak berusia. cahaya itu selalu tiba, tepat setelah doa-doa yang perempuan itu coba panjatkan. cahaya itu selalu tiba, meski tak hanya sekali ia mencoba menutup kembali jendela.

adakah cahaya itu kan hiasi setiap sudut ruang, dan membiarkan perempuan itu ikhlas membuka apa-apa saja yang lama tertutup rapat; pintu dan jendela rumah.
barangkali, inilah yang disebut penantian dengan doa-doa yang tak mengenal jumlah. ia hanya mampu bersujud lebih lama, menggadahkan tangan seraya meminta; bahwa cahaya kan tinggal bukan hanya tiba dan menghilang.