Tags

Tak semua kesempatan kedua berpeluang menjadi lebih baik, terkadang ia datang bukan sebagai suratan takdir untuk memperbaiki apa-apa yang sempat berakhir; ialah sebagai peringatan terakhir, bahwa beberapa hal memang tak seharusnya terulang kembali.

Source Image: restaurantengine.com

Source Image: restaurantengine.com

“Udah? Segini aja?”

“Aku minta maaf.” Kepalaku masih saja tertunduk, menatap kosong secangkir kopi yang telah dingin entah sejak kapan.

Argh!” kepalan tangannya memukul cukup keras meja kami, hingga membuat tatapan kaget dari orang-orang sekitar kami. Aku bahkan bisa melihat dari ekor mataku, orang yang duduk di samping meja kami, seakan-akan bertanya melalui tatapannya, mengapa laki-laki yang duduk di sampingku ini melakukan hal itu. Seketika kuhembuskan napas panjang, berharap tak ada keributan yang mungkin terjadi setelah ini.

Kuangkat sedikit wajahku, mencoba mencari tahu apa yang wajahnya katakan. Laki-laki itu masih menggepalkan tangannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku tahu, ia akan marah seperti ini.

Lionel San Antonio, laki-laki yang membuatku menutup hati untuk laki-laki lain, beberapa tahun belakangan ini. Laki-laki yang membuatku memahami, bercinta bukan hanya perkara kenaifan semata dua hati yang saling mencinta;  ialah bagaimana menyatukan perasaan dengan kenyataan yang ada.

Lio mendekatkan tubuhnya ke arahku, segera saja kukembalikan  tatapanku ke cangkir di depanku ini dan kembali menunduk. Ia menghembuskan napas panjang,  mengurungku dalam tatapan tajamnya, dan seraya sedikit berbisik, “aku mau kamu beri aku satu… aja alasan, kenapa kita harus udahan sampe di sini?”

Seandainya kau tahu alasanku pergi, kau tak kan mau untuk melepaskanku, Lio. Percayalah, inilah yang terbaik untukmu, yang terbaik yang bisa kulakukan. Aku sudah tahu semuanya, Lio…

Dahiku mengernyit dengan bibir yang terbuka, mencoba mencari alasan yang sudah kupersiapkan sebelumnya, alasan yang mungkin bisa diterimanya dengan baik. “A… aku,” kutarik napasku panjang, menahannya untuk beberapa detik, hingga terasa napasku pun mencekik leherku sendiri. “Aku jatuh cinta dengan laki-laki lain!”

Wait, what? Are you serious, Nad? Kamu gak bisa nyari alasan yang lebih baik lagi, apa? Seharusnya kamu tinggal bilang, kalau kamu harus belajar ke luar negeri dan kamu gak kuat kalau harus berhubungan jarak jauh. Gampangkan? Gak perlu nyakitin dia juga kan? Dasar Nadia bodoh! Apa yang baru saja kamu lakukan? Argh! Bodoh! Bodoh! Bodoh!

“Hah?” Lio mengernyitkan dahinya seakan-akan tak percaya dengan apa yang baru saja kukatakan. “Jatuh cinta… sama laki-laki lain?” tanyanya dengan sedikit terbata-bata, tak lama ia menyenderkan punggungnya ke kursi dengan tatapan yang mengawang-awang. Tak lama ia tertawa dengan nada sinis, “bisa kamu ya?” ia kembali tertawa namun kali ini tawanya menjelaskan sekali kemarahannya, “saat kamu sama aku, bisa-bisanya kamu jatuh cinta sama laki-laki lain?”

Ingin sekali rasanya kutampar bibirku sendiri, dan menghantam habis tubuhku ini; karena sudah sangat bodoh mencari alasan. Dengan perlahan kuanggukkan kepalaku, “iya… Aku minta maaf.”

“Kamu lucu banget, Nad.” Lio mengambil handphone selular yang dari tadi hanya tergeletak di atas meja, dan kemudian beranjak berdiri. “Makasih ya, dan selamat.”

Kepalaku masih saja tertunduk, namun kali ini kepalaku tertunduk lebih dalam, hingga hanya bisa kulihat langkah kaki laki-laki yang sangat kucintai pergi, tanpa melihat wajahnya untuk yang terakhir kali. Aku tak mampu membaca pertanda, akankah sesal menghantuiku kelak atau tidak; yang kutahu, inilah yang terbaik yang bisa kulakukan.

Lio, Maafkan aku.

Mungkin, kelak tak perlu lagi ada untuk kita. Mungkin, menyakitimu seperti inipun ialah sebaik-baiknya upaya mencintaimu yang kuikhlaskan untuk sudah. Dan mungkin, dengan membunuh segala kemungkinan untuk kita; ialah satu-satunya cara memungkinkan kau untuk bahagia.

Bencilah aku, Lio.

Kuangkat kepalaku ke langit-langit kedai kopi ini, menahan aliran mataku terjatuh. Entah sudah keberapa kali, tarikan dan hembusan napas panjangku sore ini tiba; yang kutahu, dadaku semakin sesak, seakan-akan ada remasan kuat di jantungku. Kubuang pandanganku ke arah luar kedai yang hanya berbatas tanaman-tanaman, untuk sampai ke trotoar jalan. Sore di Little Tokyo ini begitu ramai, orang-orang berlalu lalang dengan tujuan di kaki mereka; dan mataku hanya tertuju kepada laki-laki berkemeja putih yang masuk ke dalam mobil sportnya dengan emosi yang bergejolak dan dengan segera melajukan mobilnya, seakan-akan ia memang harus meninggalkan apa-apa yang lalu, dan melaju dengan tujuan baru.

Selamat tinggal, Lio. Berbahagialah.

Kuangkat tangan kiriku, dan menenggelamkan sebagian wajahku ke dalam jemari. Mata dan bibirku tertutup rapat, napasku seakan-akan lupa caranya untuk bernapas. Isi kepalaku mulai mempermainkanku dengan ingatan-ingatan yang membuatku mengutuk diri sendiri.  Ini jauh dari apa yang kubayangkan sebelumnya, rasanya lebih sakit dari yang kuperkirakan.

“Nadia?” seketika, suara perempuan dengan tepukan di bahu melumat habis lamunanku. Kulihat asal dari suara tersebut, seorang perempuan dengan gaun bercorak bunga-bunga, berkacamata hitam dengan Floppy Hat berwarna khaki tersenyum sangat lebar ke arahku.

“Maaf, siapa ya?” tanyaku.

Dibuka kacamata hitam dan Floppy hat-nya dengan melihat kearah kanan-kiri, seakan-akan mewaspadai agar orang-orang di sekitarnya tak melihat. “Ini aku!” dipakainya kembali kacamata dan Floppy Hat-nya dengan cepat, masih dengan melihat ke arah sekitar sesekali.

“Clay?” sontak kukencangkan nada suaraku.

Clay segera menutup mulutku rapat. “Psst…” Matanya kembali awas melihat sekitar, kemudian menarik tangannya dengan perlahan dari mulutku.  “Mihihihi, kamu ngapain di sini?” Tawanya yang menggemaskan akhirnya kembali kudengar setelah beberapa tahun menghilang dari telingaku.

“Aku?” tanyaku kebingungan mencari alasan yang tepat.

Aku habis menghancurkan hati orang yang sangat kucintai, Clay. Aku bodoh sekali, bukan?

“Engg, aku ada urusan tadi, tapi udah kelar sih.” Jawabku.

Iya, kelar banget, Clay. Kelar sudah semuanya.

“Kamu ngapain di sini?” Tanyaku.

“Kita ngobrolnya lanjut di mobilku aja, gimana? Yuk?” Ajaknya sambil beranjak berdiri dan menarik tanganku dengan cepat.

Akhirnya kami meninggalkan kedai kopi tersebut tak beberapa lama kemudian. “Kamu ke sini naik apa?” tanyanya.

“Ngangkot, biasalah. Hahaha.” Jawabku sambil tertawa.

“Baguslah. Kamu ikut aku aja ya.” Pintanya.

Setelah itu Clay tak banyak bicara, ia hanya menundukkan wajah, sambil awas memperhatikan agar orang-orang yang kami lewati, tak mengenalinya. Langkah kami menuju sebuah parkiran yang berada tak jauh dari kedai tempat kami bertemu.

“Aaak! Nadia, aku kangen!” Clay langsung menarik tubuhku ke dalam pelukannya ketika kami berdua sudah berada di dalam mobil sedan mewah berwarna putih, miliknya.

Kupeluk erat tubuh Clay, “aku juga, Clay. Aku kangen banget!”  Wangi strawberi dan campange dari tubuhnya menyeruak di hidungku. Begitu segar, sangat sesuai dengan kepribadiannya. “Tunggu sebentar, kudorong tubuh Clay menjauh dari tubuhku. Clay menatapku dengan tanda tanya di wajahnya. “DKNY Be Delicious ya?” tebakku cepat.

“Parfumku? Tanyanya. Aku hanya mengangguk. “Ih, dasar kamu ya! Gak berubah! Dari dulu masih pinter aja nebak parfum orang!” Clay menekan-nekan pinggangku, membuatku geli. Seketika kami tenggelam dalam tawa. Dengan masih tertawa geli, Clay mulai memasang sabuk pengaman, menghidupkan mesin mobilnya dan mulai melajukan kendaraannya.

“Kamu tadi belom jawab, loh.” Kataku sambil mengenakan sabuk pengaman milikku.

“Jawab apa?” tanyanya sambil melihat ke arahku sebentar, sebelum akhirnya tatapannya penuh difokuskan ke jalan.

“Kamu tadi ngapain di sini? Terus kok bisa-bisanya sampe ngeliat aku?”

“Oh, yang itu. Mihihi, iya. Aku tadi abis ada syuting di sekitaran sini. Pas mau ke parkiran, eh ngeliat kamu dari luar kedai, yaudah makanya aku samperin deh kamu.”

Cie, yang arteis papan atas,” kataku meledek.

Ih, apa-apaan sih kamu, Nad. Mihihi, artis papan penggilesan, maksud kamu?” Sontak kami kembali tenggalam dalam tawa.

“Clay… Clay. Edan ya, kamu. Terakhir kita komunikasi beberapa tahun yang lalu kan, kamu masih baru banget merintis dunia artis kalo gak salah. Sekarang udah jadi artis dengan bayaran termahal per-episode kan?”

“Ih…. Apaan sih. Sotoy deh kamu.”

Yey, aku sibuk-sibuk gini kan sering nonton inpotaimen. Dari berita tentang bayaran kamu yang ampun-ampunan sampe gossip kedekatan kamu dengan si artis A, B, C sampe Z juga aku tahu. Wlee.”

Idih! Kamu mirip ibu-ibu ya, segala gossip di infotaiment hapal banget kayanya. Mihihi. Eh iya, by the way, sorry ya. Waktu itu kita sempat benar-benar lost contact.”

“Nah iya. Aku pengen tanya, waktu itu kenapa kamu ngilang sih? Aku hubungin semua nomor kontak kamu sampe ke nomor rumah, semuanya gak bisa dihubungin. Aku sampe khawatir banget. Takutnya kamu kenapa-kenapa.”

“Iya, Nad. Jadi dari awal aku masuk ke dunia entertainment ini, banyak banget yang gak suka sama aku; hanya karena aku langsung jadi pemeran utama film layar lebar waktu itu. Banyak yang suka terror. Makanya aku dipaksa sama managemen, untuk ngeganti semua nomor kontakku. Bodohnya, pas aku mau ngabarin kamu, eh aku kelupaan terus karena kegiatan syuting yang gila-gilaan. Sampe keburu akhirnya hapenya sempet hilang pas di lokasi syuting, aku jadi bingung deh mau nyari kontak kamu. Maaf ya?” pintanya dengan sedikit memanyunkan bibirnya.

“Oh gitu. Aelah, ya udah sih. Gapapa, yang penting kan sekarang kita ketemu lagi. Uwh, seneng…” kataku sambil memeluknya dari samping. Kulepaskan pelukanku tak lama kemudian, agar ia tak terganggu dengan pelukanku.

“Oh iya, Nad. Aku punya kabar gembira!”

“Apa? Apa?” tanyaku tak sabar.

“Aku…  pertengahan bulan ini… “ Clay menggigit bibirnya dengan gemas, sambil sesekali melihat ke arahku.

“Iya, pertengahan bulan ini kamu kenapa? Kenapa? Buru ih bilang!” kataku tak sabaran.

“Guess what?” kembali ia melirik ke arahku, “Aku tunangan! Aak!” Nada suaranya mengencang seraya teriakannya.

“Hah? Serius? Aak!” kugoyang-goyangkan tubuh Clay, saking bahagianya. “Sama siapa??? Sama salah satu personil boyband The Flick itu bukan? Si Alfa ya? Iya kan? Hayo, ngaku!” kataku sambil menggelitik pinggangnya.

Clay tertawa lepas, namun menggelengkan kepalanya. “Aku akan kenalin kamu secara langsung, pas acara pertunangan aku. Makanya kamu wajib dateng. Awas aja gak dateng!”

“Dateng ke pertunangan kamu? Dih, Ogah banget!” kataku.

Dih, kok ogah sih?” Clay memanyunkan kembali bibirnya, dan ya, masih saja terlihat cantik.

“Ogah banget gak dateng ke acara yang begitu penting buat sahabatku.” Langsung saja kupeluk Clay dari samping, membuatnya menggerutu kesal, sedang aku hanya tertawa-tawa saja melihat tingkahnya yang lucu.

Kulepas pelukanku darinya, dan mulai memperhatikan Clay dari samping, dengan sedikit berdecak kagum. Clay benar-benar perempuan yang sangat beruntung. Dengan kecantikan fisik campuran Indonesia – Belanda, ditunjang juga dengan bakat yang dimilikinya, memang bukan hal sulit untuknya menjadi seorang artis. Benar-benar beruntung, hingga dengan segala  yang ia miliki, bukan hal yang sulit juga untuknya mendapatkan seseorang yang mencintainya.

“Clara Lawrance de Bach, kamu beruntung sekali. Aku bahagia sekali mendengar berita ini, dan aku iri. Hufth.”

“Ih, apaan sih. Kamu tuh yang beruntung. Kamu gak perlu jadi alien untuk bisa jalan-jalan di tempat ramai seperti ini, kaya aku. Kamu juga gak perlu dituntut siapa-siapa untuk menjadi apa-apa, kamu bebas menentukan pilihanmu sendiri, mengejar apapun yang kamu mau, dan aku yang seharusnya iri sama kamu.”

“Ah, iya juga sih,” kataku tertunduk sambil tersenyum sedikit kecut, “tapi entahlah, Clay. Firasatku bilang, kamu lebih beruntung dari apa yang ada sekarang ini.”

Ish. Masih aja kamu ya, memprediksi masa depan hanya berdasarkan firasat. Hih! Kamu ganti profesi aja gih, jadi dukun.”

Aku tertawa mendengar ucapannya, barangkali, Clay benar. Entah kenapa, aku begitu percaya dengan segala pertanda yang alam coba katakan, membaca segalanya dengan lebih dalam, hingga hati kecilku sering sekali mengatakan apa-apa yang belum juga terjadi. Satu hal yang begitu kubenci perihal kepandaianku membaca pertanda, ialah beberapa di antaranya menunjukkan aku kepada hal-hal buruk yang kemungkinan akan terjadi. Pertemuan ini, misalnya.

Apa?

..

                “Kamu mau ke mana?” Tanyaku, ketika Clay tiba-tiba saja beranjak berdiri, di tengah tawa yang berhamburan di ruangan ini.

“Mau mandi. Dua jam lagi aku ada syuting buat film layar lebar yang baru.”

“Widih, susye yee yang ngartis mah. Hahaha.” Kataku meledek.

Dilemparnya bantal sofa  berwarna putih yang ada di dekatnya, ke arah mukaku. “Auk ah!” Clay berlalu menuju ke kamar mandi di ujung kamar tidurnya sambil menggerutu kecil. Melihatnya seperti itu, tawaku malah semakin meledak-ledak.

Clay mengajakku ke rumahnya, setelah pertemuan kami di Little Tokyo sore tadi. Layaknya dua sahabat yang sudah lama sekali tak bertukar kabar, cerita dari mulut kami, seperti tak ada habis-habisnya.

Setelah Clay hilang di balik pintu kamar mandi, kulihat ke sekitar. Ruang tidur miliknya, bertema putih gading. Wallpaper bercorak daun oak keemasan tipis menutupi hampir sebagian ruangan ini, dengan furniture berwarna senada; membuat kamar tidur miliknya ini semakin luas dan juga bersih. Ada yang menarik perhatianku, sebuah bingkai foto berwarna keemasan yang berada di meja kecil samping tempat tidurnya. Kuputuskan untuk beranjak dari sofa, dan mencari tahu, siapa laki-laki yang dari jauh kulihat sedang memeluk Clay dengan sangat erat. Kuambil bingkai foto itu sambil duduk di pinggir tempat tidur miliknya, hingga kakiku seperti menendang sebuah kotak berwarna putih di bawah meja kecil itu.

“Eh, apa ini?” kutaruh kembali bingkai foto yang belum sempat kulihat tadi ke tempat semula, dan mencari tahu isi dari kotak putih tersebut. Kubuka bubble wrap yang menutupi permukaan kotak tersebut dan menemukan botol berwarna putih-hijau tersusun rapi di dalamnya. Kuambil salah satu botol tersebut,  “Lactacyd All Day Fresh? Si Clay pake ini?”

Source image: luzindazhou.blogspot.sg

Source image: luzindazhou.blogspot.sg

“Nad? Lagi ngapain?”

Suara Clay dari arah belakang mengangetkanku, “Eh, Clay… ini, kamu pake Lactacyd?” tanyaku sambil menunjukkan botol yang kupegang.

“Iya. Hahaha, emang kenapa?” tanyanya sambil menghampiriku hanya dengan balutan handuk di tubuhnya.

“Edan ya. Kalo jadi artis emang harus gitu banget ya? Sampe isi daleman kudu bersih. Hahaha.”

“Heh! Mau artis atau bukan, yang namanya organ intim itu ya emang harus dirawat. Apalagi perempuan, wajib bangetlah dirawat. Aset, bok!” tawa kami kembali buncah di ruangan, Clay akhirnya duduk di sampingku. “Makanya, aku pake Lactacyd, buat ngebantu aku ngerawat organ intim,” sambungnya lagi.

“Kenapa harus Lactacyd?”

“Kenapa harus Latcacyd? Jadi gini, sebenernya Tuhan itu sudah mendesain manusia sudah sangat sempurna, menurut aku. Karena apa? Karena sebenernya, di dalam tubuh kita ini seperti mesin yang dengan sempurna memiliki fungsi masing-masing untuk mengurus tubuh kita sendiri.”

“Hubungannya apa sama Lactacyd?”

“Mihihihi, dengerin dulu!”

Okay, okay.  Aku dengerin.” Kubenarkan dudukanku dan mengarahkan tubuhku ke arahnya.

“Gini loh, sebagai perempuan, kita wajib banget menjaga pH organ intim agar selalu rendah, gimana caranya? Caranya ya dengan meningkatkan keasamannya. Kamu gak tahu kan, kalo di organ intim kita ini punya lapisan pelindung alami yang bersifat asam?” tanyanya, aku hanya menggeleng cepat. “Nah itu, pelindung alami yang bersifat asam itu dimiliki semua perempuan sebenernya, fungsinya ya biar organ intim kita gak mudah infeksi. Kalo kita bisa meningkatkan tingkat keasaman yang ada di pelindung alami itu dengan baik, otomatis pelindung alami itu akan menghasilkan bakteri baik juga, yang disebut lactobacillus.”

“Oh, lactobacillus.”

“Tahu kan?”

“Enggak.” Jawabku singkat.

Ish! Kamu nih ya, aku lagi serius juga!” Clay mencubit pinggangku, membuatku tertawa-tawa melihat dirinya yang kesal. “Intinya pokonya, lactobacillus inilah yang akan menghambat pertumbuhan bakteri jahat, yang biasanya menyebabkan infeksi. Tapi… biasanya… karena banyak faktor, ngebuat tingkat keasaman di organ intim jadi berkurang, otomatis dong, kalo tingkat keasaman berkurang, pertumbuhan lactobacillus-nya juga terhambat, nah makanya sering banget kan ada yang ngeluh bau gak sedaplah, pembengkakan di daerah intimlah, atau bahkan sampai gatal-gatal. Salah satu penyebabnya yang lain itu ya karena perubahan hormon, gak seimbangnya tingkat pH, atau berkurangnya tingkat keasaman. Nah, di Lactacyd inilah semua masalah bisa diatasi. Soalnya di setiap Lactacyd, menghasilkan asam laktat yang tadi aku sebutin berguna banget buat meningkatkan keasaman pelindung alami, biar lactobacillus bisa terus dihasilkan. Itu sebabnya, kenapa aku milih Lactacyd.”

“Widih, kamu mirip mbak-mbak SPG yang di lagi jualan ya.” Ledekku.

“Mihihihi, sial. Aku gini-gini, Brand Ambassador Lactacyd loh.” Tungkasnya.

Wogh! Pantes! Lurus bener ngejelasin Lactacyd, macam tol Cipali; gak kelar-kelar lurusnya.”

“Mihihihi, apaan banget tol Cipali. itu awalnya… ke sininya, setelah aku cobain, ternyata emang bener-bener bagus buat ngerawat daerah organ intim aku. Makanya, aku kasih tahu kamu. Ya kali, aku promosi sama sahabatku sendiri, kalo gak bener-bener bagus. Ogah banget kalo aku sampe promosi barang berkualitas buruk sama sahabatku sendiri, sampe gak dibayar lagi. Hahaha.”

“Iya juga sih. Hahaha. Nah, terus? Ini kamu udah selesai mandi? handukan doang gini. Kok cepet?”

“Belom… hampir sih. aku mau ngambil Lactacyd, Lactacyd di kamar mandiku udah habis soalnya. Ini makanya mau ambil.” Katanya sambil mengambil botol Lactacyd di tanganku sambil berlari kecil ke arah kamar mandi lagi.

“Dih, diambil. Aku malingin sekotak Lactacyd-mu ya?”

Wogh! Awas aja kalo berani, aku jambak kamu!” teriaknya dari dalam kamar mandi. Aku hanya tertawa. Tiba-tiba Clay membuka lagi pintu kamar mandinya dan melonggok dari dalam, “eh tapi, kamu kalo mau nyoba, ambil aja. Persediaanku masih banyak kok, tapi jangan semuanya! Awas kamu!”

“Asik! Oke, baiklah. Makasih, Clay. Muah!”

Huek!” Clay berpura-pura muntah melihatku menciumnya lewat udara, ditutupnya kembali pintu kamar mandinya dengan cepat. Kemudian, kuambil satu botol Latcacyd All Day Fresh yang ada di dalam kotak putih tersebut, dan mataku kembali jatuh pada frame foto yang belum sempat kulihat tadi. Kutaruh botol Latcacyd itu di sampingku, dan mengambil frame foto tersebut.

“Ini bukannya Alfa ya?” kataku pelan, ketika melihat laki-laki yang memeluk Clay dari belakang, dengan mesranya. Jadi, Clay akan bertunangan dengan Alfa? Tanyaku dalam hati. Ternyata gossip di infotaiment beneran. Hihihi. Duh Clay, sok rahasia-rahasiaan deh kamu sama aku,  ketebak kan siapa tunanganmu itu.

Kamu beruntung sekali, Clay.

..

“Jam 8 malam acaranya udah dimulai, kamu dateng jam 7 aja ya. Biar bisa ngobrol banyak dan aku kenalin langsung sama tunanganku.” Suara Clay yang renyah terdengar sangat menyebalkan sekali di seberang telepon, ketika kebawelannya mengingatkanku kambuh.

“Iye, bawel!”

Okay, I’ll see you soon, ‘aight?”

Aight! Aight! Aight, captain!” jawabku sambil menirukan kartun kesukaan kami berdua, Clay tertawa sebentar sebelum akhirnya memutuskan sambungan teleponnya. Tatapanku kembali pada gambar yang kubuat, duplikasi foto yang ada di bingkai foto milik Clay, di kamarnya.

Hihi, you’ll be surprise, my dear Clay.

..

“Nad!” teriak Clara sambil melambai dari kejauhan ketika mendapatiku masuk ke dalam ruangan yang sudah didekorasi bertema warna kesukaannya, putih. Ia berjalan ke arahku dari arah taman dengan menggunakan gaun kebaya modern berwarna putih. Clay langsung memelukku yang kusambut dengan sangat senang.

“Selamat ya, Clay sayang.” Kataku sambil menciumi pipinya.

Ish. Tunangannya aja belom, udah dikasih selamat aja.” Katanya sambil mendelikkan matanya ke atas.

“Hahaha, maksud aku selamat, akhirnya kamu diiket juga hari ini.”

Ish, nyebelin ya.” Katanya sambil mencubit pipiku dengan gemas.

“Hahahah, ampun!” kataku seraya menarik wajahku dari cubitannya. “Edan ya, mau masuk ke sini aja udah berasa artis banget aku. Pake acara difotoin segala, terus diamanin sama body guard kamu yang gede-gede itu, biar bisa masuk ke sini lagi. Fiuh.”

Clay tertawa, “masih banyak ya wartawan di depan?”

“Banget! Kamu emang gak mau mereka masuk sini atau gimana sih?”

“Sengaja gak aku bolehin masuk. Kamu tahu? Seharusnya acara inipun mereka gak perlu tahu.”

“Lah terus?”

“Mau aku undang wartawan masuk atau enggak,” Clay merendahkan suaranya dan berbisik, “aku yakin banget kok, ada mata-mata mereka di salah satu undanganku ini.” Clay mendelik ke arah sekitar dan mencoba tersenyum. “Well, you are here already! Aku lega kamu datang.”

“Kamu cantik sekali, Clay.” Kataku sambil tersenyum.

Wogh, harus dong! Ini kan hari pertunanganku!”

“Hahahah, bisaan banget. Eh iya, Clay. Bisa kali, entar nikahannya biar WO aku aja yang kerjain. Kan mayan gitu, profil WO-ku bisa nambah ratenya karena ngerjain wedding arteiiis papan atas. Hahaha,” ledekku.

“Eh, iya juga ya? Daripada bayar orang, mending bayar kamu ya? Dapet diskon tapi kan?” Clay menyenggolku dengan tangannya sambil manaik-naikan alisnya.

“Ah, cincailah. Asal fix mah, harga nego.” Jawabku.

“Asik! Entar aku omongin sama tunanganku deh.”

“Eh, iya. Tunanganmu mana?” tanyaku kemudian.

Air muka Clay langsung berubah murung, “hmm, gak tahu, Nad. Masih macet kayanya, makanya belum sampe.”

Kulihat jarum jam di tanganku, “masih 45 menit lagi, Clay. Jangan khawatir gitu ah. Eh iya, aku bawa hadiah loh buat kamu.”

“Mana? Mana?” tanyanya bersemangat.

“Duh, ketinggalan di jok motor.” Kataku sambil menepuk dahiku sendiri. “Aku ambilin dulu apa?”

“Boleh, boleh. Kalo gak ngerepotin sih.” Katanya.

“Gak ngerepotin kok, tapi aku boleh numpang ke toilet dulu, gak? Aku kebelet pipis banget dari tadi.” Kataku sambil memegangi perutku.

“Kenapa gak bilang?? Ih, kamu nih ya. Ayo ikut aku!” Clay menarikku ke arah samping belakang rumahnya, dan menyuruhku untuk masuk ke dalam toiletnya.

“Loh, kamu ngapain ikut?” Tanyaku ketika Clay mau masuk ke dalam toilet bersamaku.

Clay membuka lebar pintu toilet tersebut, dan cukup terkejut melihat toilet di dalam toilet. “kamu pikir cuma 1 toilet doang apa? Hih!” katanya seraya masuk ke dalam.

“Edan emang orang kaya ya? Ini toilet rumah atau toilet mall sih? Sampe punya 3 bilik segala?” kataku sambil berdecak kagum melihat isi toilet yang tak jauh berbeda dengan mall-mall besar di Jakarta.

“Duh, please deh. Ini rumah kan yang nempatin gak cuma satu-dua orang. Ada keluargaku, ada pengurus rumah sampe karyawan rumah. Ini sebenernya toilet pengurus sama karyawan rumah, hehe, maaf ya aku bawanya ke sini, abis kalo di toilet depan, pasti rame banget sama tamu-tamu undangan.”

“Oh, okay.” Kataku santai sambil mengeluarkan tisu basah dari dalam tasku.

“Tisu basah buat apaan, Nad?” tanyanya.

“Buat ngelap organ intimku lah. Masa iya buat ngelap muka kamu! Hahahaha.”

“Duh, Nad! Mau sampe kapan sih kamu gak perhatian gitu sama organ intim sendiri? Jangan pake tisu basah macam itu ah, apalagi yang wangi-wangi begitu. Gak bagus tahu buat organ intim kamu! Ini,” Clay segera mengambil tisu basah yang serupa dengan milikku dan memberikannya kepadaku. “Pake ini aja.”

Source Image: ukhtiana.files.wordpress.com

Source Image: ukhtiana.files.wordpress.com

Lah, ini mah sama aja! Tisu basah juga!” tungkasku.

Yey, nih anak dibilangin juga. Ya bedalah, jelas! Ini Lactacyd Feminine Wipes, tisu basah yang emang didesain khusus buat organ intim kewanitaan. Nih, pake!”

Ish, dasar ya. Mentang-mentang Brand Ambassadornya Lactacyd, apa-apa pakenya Lactacyd.” Kataku sinis, sambil mengambil tisu basah itu.

“Mihihihi, kamu nih suka banget nyindir-nyindir aku sih. Sana buruan pipisnya!”

“Iya, bawel!” kataku sambil berlalu dan menghilang di balik salah satu bilik toilet. “Clay?”

“Iya?” jawabnya.

“Aku kayanya mules deh, pup dulu gak apa-apa kan?”

Err, Nadia! Terus aku disuruh nyium bau pup kamu, gitu?”

Aku tertawa, namun tawaku malah membuat isi perutku ikut berhamburan keluar serta mengeluarkan bunyi yang jauh dari kata indah.

ARGH! NADIA!” teriak Clay, dan aku malah makin tertawa. Tak lama aku mendengar langkah kakinya pergi dari ruangan itu dan suara pintu tertutup. Tawaku semakin kencang berhamburan di ruangan itu, serupa isi perutku yang berhamburan ke dalam toilet.

OH MY GOD! Ah…

..

                Setelah cukup puas mengeluarkan isi perutku, segera saja kucari kembali Clay. Lactacyd Feminine Wipes miliknya masih di tanganku. Setelah mencari-cari di antara kerumunan orang di rumahnya itu, kudapati sosok Clay di taman dekat kolam renang yang didekorasi sangat romantis dengan lilin-lilin yang mengambang di atasnya. Clay sepertinya sedang bersama seorang laki-laki berjas hitam yang,  okay, dengan mesranya bersanda-gurau.

Dasar Clay! Pantesan aja aku ditinggalin, Alfa udah dateng toh. Hufth.

Dengan mengumpat-umpat aku menghampiri mereka. Akan kubuat Clay terkejut dengan kehadiranku tiba-tiba dari belakang Alfa, pikirku. “Olla, Clay!” sergapku tiba-tiba dari balik laki-laki itu, Clay terkejut. Yes! Benerkan dia terkejut!

Laki-laki yang berjas hitam itupun berbalik badan, “Nad?”

“Lio… ?”

[bersambung]