Tags

Ada yang lebih baik dari sekadar keinginan, ialah kegigihan menetapkan langkah melaju ke tujuan. barangkali, masing-masing kita pun tak hanya perlu membuka mata dan telinga, tapi juga mendengarkan apa yang hati kita kerap dustakan.

pertanyaanya hanya satu, maukah kita?

..

Setelah cukup puas mengeluarkan isi perutku, segera saja kucari kembali Clay. Lactacyd Feminine Wipes miliknya masih di tanganku. Setelah mencari-cari di antara kerumunan orang di rumahnya itu, kudapati sosok Clay di taman dekat kolam renang dengan dekorasi taman yang begitu romantis. Clay sepertinya sedang bersama seorang laki-laki berjas hitam yang,  okay, dengan mesranya bersanda-gurau.

Dasar Clay! Pantesan aja aku ditinggalin, Alfa udah dateng toh. Hufth.

Source Image: weddbook.com

Source Image: weddbook.com

Dengan mengumpat-umpat aku menghampiri mereka. Akan kubuat Clay terkejut dengan kehadiranku tiba-tiba dari belakang Alfa, pikirku. “Olla, Clay!” sergapku tiba-tiba dari balik laki-laki itu, Clay terkejut. Yes! Benerkan dia terkejut!

Laki-laki yang berjas hitam itupun berbalik badan, “Nad?”

“Lio… ?”

Baiklah, Nad. Di sini bukan kau yang membuat Clay terkejut, tapi malah dirimulah yang membuat dirimu sendiri terkejut. Baiklah, Nad. Baiklah.Rencana yang sempurna!

“Loh, kalian sudah saling kenal?” Tanya Clay kemudian, membuatku tersadar dan segera membuang tatapan terkejutku melihat Lio.

“Ya. Tentu saja, kami saling kenal, tapi itu dulu. Dulu sekali.” Jawab Lio dengan cepat dengan sedikit memincingkan matanya menatapku.

Aku terdiam dan menundukkan kepala, serupa apa yang kulakukan di kedai kopi saat terakhir kali kami bertemu.

“Aak! Bagus dong, berarti aku gak perlu lagi kenalin kalian. Nad, Lio ini yang aku bilang tunangan aku.” Clay memeluk lengan Lio dengan mesranya.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum memaksa.

“Kamu katanya mau ambilin hadiah buat aku? Mana?” Tanya Clay.

Hadiah pertunangan kamu? Aku bahkan gak yakin, apa ini hadiah yang benar kuberikan atau tidak, Clay. Aku pikir… aku pikir tunanganmu adalah Alfa…

“Ah, iya. Aku ambilin sekarang aja ya?” kataku mencari-cari alasan untuk pergi dari hadapan mereka.

Ya, Tuhan… telan aku ke bumi saja, Tuhan… kumohon…

                Clay mengangguk, “okay. Aku tunggu di sini ya?”

“Ah, iya. Okay. Sebentar ya.” Mataku mencuri-curi lihat ke arah Lio, tatapan marahnya masih sama seperti yang terakhir kali kulihat. Segera saja kuberbalik badan dan berlari kecil menjauhi mereka.

Seandainya saja bisa, seandainya saja, aku bisa pulang saat ini juga… Yaa Tuhan…

..

                Kulihat lagi kado yang sudah kubungkus cantik berwarna putih, yang masih berdiam di jok motorku. Lama sekali. Aku benar-benar tak yakin, apa aku harus memberikannya atau tidak. Karena tentu saja, kado ini salah alamat. Ah, iya. Ini  Lactacyd Feminine Wipes punya Clay, malah lupa aku kembalikan tadi, kataku dalam hati.

Source Image: yvonneandherplayground.blogspot.com

Source Image: yvonneandherplayground.blogspot.com

Kalau Clay bertunangan dengan Lio, terus, kenapa yang dipajang malah foto dia sama Alfa? Hmm, mungkin Clay sama Alfa Cuma sahabatan deket aja kali, ya? Atau gimana sih sebenernya hubungan dia sama Alfa? Argh! Fokus, Nad! Fokus! Sekarang yang perlu kamu pikirin itu, gimana caranya kamu bersikap di depan Clay dan Lio! Tidak.. bukan itu… apa hatimu baik-baik saja, Nad?

“Ngapain kamu ke sini?” tiba-tiba suara seseorang mengangetkanku.

“Lio? Kamu ngapain juga ke sini?”

“Loh, ini acara pertunanganku. Terserah aku dong, mau datang ke mana aja. Sekarang jawab pertanyaan aku, ngapain kamu di sini? Kamu sengaja kan?”

“Hah? Sengaja? Maksud kamu?”

“Sengaja datang ke acara pertunanganku karena pengen ngerusak hidupku lagi.” Tuduhnya.

Aku mengendus tak percaya dengan apa yang dikatakannya, “kamu tuh ya. Gak berubah! Masih sukanya nuduh yang enggak-enggak.”

“Oh, karena aku suka nuduh kamu yang enggak-enggak, akhirnya kamu milih buat jatuh cinta sama laki-laki lain? Iya, gitu?”

Aku terdiam. Serupa terakhir kali, napasku kini seakan-akan lupa caranya untuk bernapas kembali. “Sudahlah, kamu gak akan pernah ngerti.”

“Maksud kamu?” Aku kembali terdiam, langkah Lio mendakat, seketika langkahku mundur. “Maksud kamu, aku gak ngerti dengan keputusan kamu buat mengakhiri  hubungan kita, hanya karena kamu jatuh cinta sama laki-laki lain, iya?”

Aku hanya tertawa menyeringai mendengar ucapannya. Jantungku kembali seperti diremas sangat erat, membuatku semakin sulit untuk bernapas.

“Terus mana? Mana laki-laki yang kamu bilang bisa buat kamu jatuh cinta itu? Hmm? Mana? Gak sekalian gitu, pamerin ke aku? Kan pas tuh, kamu bawa saat hari pertunangan aku.”

Lio, aku tahu kau marah. Tapi, percayalah… bukan hanya kau yang merasakan sakit di sini. Bukan perkara mudah, mengikhlaskan orang yang kau cintai. Bencilah aku, Lio. Bencilah…

                Kututup jok motorku, dan dengan segera menghidupkan mesinnya, “tolong bilang ke Clay, aku pulang duluan. Ada urusan mendadak.” Kataku sambil menaiki motorku.

“Gak mau! Bilang aja sendiri! Kamu siapa? Berani-beraninya nyuruh aku.”

“Hufth. Iya, terserah kamu ajalah. Aku pergi.” Kataku sebelum akhirnya melajukan kendaraanku secepat mungkin.

“Terus aja kamu pergi! Terus! Pergi sesukamu itu emang hobimu kan?!” teriaknya dari jauh.

Sebaik apapun kucoba menutup rapat telingaku, teriakan Lio masih saja melemahkan denyut jantungku. Upayaku melaju, ternyata hanya membawaku kepada apa yang telah berlalu.

Sudah kubilang, Clay. Kau memang beruntung.

..

                Hari ini kuputuskan untuk menemui Clay, aku benar-benar merasa sungkan ketika kemarin memutuskan untuk pergi begitu saja dan tak memberikannya alasan apa-apa. Kuberanikan mengetuk pintu kamarnya, dan memanggil namanya. Namun selang beberapa menit, aku tak juga mendapat jawaban dari dalam kamarnya. Seharusnya Clay ada di dalam kamarnya, seperti apa yang dibilang oleh asisten rumah tangganya tadi. Tapi sampai sekarang, Clay tak juga memberikan jawaban.

Apa Clay marah? Pikirku.

“Clay?” kuketuk kembali pintu kamarnya, tak ada jawaban. “Aku masuk ya? Clay?” kuketuk lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke dalam dengan sangat perlahan, mataku tertegun melihat seisi kamarnya. Entah ada berapa puluh lembaran kertas putih berbentuk remasan bola, berhamburan di lantai kayu miliknya. Sofa dengan bantal-bantalnya sudah tak lagi di keadaan semula, seperti yang terakhir kali aku ke sini. Rak-rak buku sudah tergeletak di atas lantai, dengan buku-buku yang tersebar di seluruh ruangan ini bersama pecahan guci dan vas.

Ada apa dengan, Clay? Apa dia semarah ini, karena kemarin aku menghilang begitu saja? Pikirku.

Kakiku sedikit berjinjit, menghindari pecahan guci dan vas yang berada di lantai dan menuju kasur, ketika kudapati Clay tergeletak di atas kasur yang sudah tak jelas lagi bentuknya. Kuputuskan untuk duduk di pinggir kasur, di dekat kepala Clay. Clay masih mengenakan gaun kebaya yang ia gunakan tadi malam, bedanya, gaun itu sudah banyak robekan entah karena apa. Clay sepertinya masih tertidur. Kurapikan rambut-rambut yang menutup sebagian wajahnya yang menghadap ke arahku. Seketika hidungku tak kuat mendapati bau alkohol yang begitu keras tercium dari tubuhnya.

Tak lama Clay terbangun karena terkejut dengan tanganku yang merapikan rambutnya. “Eh, Nad? Kamu di sini?” ucapnya setengah sadar sambil menarik tanganku dan menaruh di atas pipinya.

“Hmm, iya. Aku mau minta maaf soal semalam. Hilang gitu aja. Maaf ya?”

“Ah, udah. Gak usah dipikirin! Aku aja gak mikirin acara tadi malam kok. Mihihihi.” Jawabnya dengan nada yang masih setengah sadar.

“Clay, kamu kenapa sih?”

Matanya yang tadi sempat tertutup, melihat ke arahku dengan mata setengah terbuka. “Kenapa apanya?”

“Ini, kamarmu. Kamu. Semua ini ada apa sebenernya? Kamu kenapa?” Clay hanya tertawa, namun tak menjawab pertanyaanku. Kuperhatikan lagi wajah Clay, riasan mata dan wajahnya, sudah tak jelas lagi bentuknya. “Kamu abis nangis ya?”

“Ih, sotoy!” tungkasnya sambil kembali memejamkan matanya.

“Itu, eyeliner kamu sampe bleber gitu di pipi, kalo bukan abis nangis, abis ngapain? Emang bisa apa matanya ileran?”

Clay kembali tertawa, “kamu itu ya, paling bisa ngebuat aku ketawa.”

“Kamu abis berantem… sama Lio?” Tanyaku dengan sedikit berhati-hati.

Clay menggeleng, “aku abis berantem sama diri aku sendiri.”

“Hah?”

“Tapi boong! Mihihihi.” Clay membalikan badannya, hingga wajahnya menghadap langit-langit kamarnya. “Kita jalan-jalan, yuk?” Clay mencoba membuka matanya dan menatap kosong ke arah langit-langit.

“Ke mana?”

“Ke mana aja. Kita shopping, makan ice cream, nonton bioskop, dan melakukan kegilaan-kegilaan yang seperti kita lakuin dulu. Yuk?” pintanya dengan bersemangat.

“Loh, emang kamu bisa? Bisa emangnya tanpa perlu nyamar-nyamar?”

“Serahin semuanya sama aku!” jawabnya sambil beranjak dari kasur, tubuhnya gontai lagi hampir terjatuh di kasur.

Langsung saja kupapah tubuhnya, “eh eh, kamu yakin bisa? Gak mau istirahat aja?”

“Mihihihi, masih pusing ternyata. Hadududu… sebentar.” Clay menarik napasnya dan membuangnya kemudian, seperti mencoba mengumpulkan tenaga untuk bisa beranjak dari kasurnya.

Langsung saja tanpa berpikir panjang, aku berlari ke arah sebaliknya, “sini, aku bantu?” kataku sambil memapah tubuhnya yang penuh dengan bau alkohol itu untuk berdiri dan menuju kamar mandi. Setelah membuka pintu kamar mandi, aku sedikit terkejut, karena kamar mandinya harus melalui toilet room yang berisikan lemari-lemari tanam untuk baju, tas, sepatu bahkan sampai ke aksesoris miliknya, dengan sofa yang begitu nyaman di tengah-tengan dan kaca yang hampir menutupi hampir seluruh ruangan ini. Ketika mendekati sofa, tubuh Clay semakin gontai terjatuh.

“Aku udah gak kuat, Nad…” dijatuhkan tubuhnya ke sofa berwarna putih itu. Kubenarkan posisi tubuhnya agar memenuhi sofa dan menaruh bantal di bawah kepalanya. Tak lama, Clay benar-benar kembali tertidur.

Apa yang sebenarnya terjadi, Clay? Bukankah seharusnya kau bahagia? Kau beruntung, Clay. Kau memiliki segala yang gak aku punya,segala yang ingin sekali kumiliki, tapi kenapa kau seperti ini?

“Tunggu di sini ya, Clay. Aku beresin dulu semuanya.” Kataku sambil mengelus lembut dahinya, dan memutuskan untuk beranjak pergi dari toilet room miliknya.

Segera kucari beberapa asisten rumah tangga milik Clay dan meminta mereka untuk membantuku membereskan kamar milik Clay. Entah mengapa, aku malah merasa iba kepada perempuan yang ternyata akan memiliki laki-laki yang sangat kucintai. Bukankah seharusnya aku membencinya?

..

                Membereskan ruang seluas 4 kali kamar tidur di rumahku ini, ternyata memakan waktu hampir dua jam. Luar biasa. Ketika kamar tidur milik Clay sudah kembali rapi, namun sepertinya ada yang kurang. Kuperhatikan kembali seisi kamar, setelah beberapa asisten rumah tangga meninggalkan kamar milik Clay. Apa yang kurang, ya? Pikirku. Ah, iya! Di mana frame foto Clay dan Alfa ya? Kucari ke sekitar kamar hingga ke bawah kolong rak, meja, atau sofa; sebelum akhirnya aku menyerah dan memutuskan untuk menjemput Clay kembali.

Clay masih tertidur pulas di sofa, ketika aku kembali ke toilet room miliknya. Masih, dengan bau alkohol yang begitu kuat dari tubuhnya. Tanpa berpikir panjang, segera saja kuberanjak ke kamar mandinya, mencari wadah untuk air hangat yang akan kugunakan untuk membersihkan badannya. Kulihat sekitar, dan menemukan akuarium kosong yang tadinya berisi recehan. “Ini tabungannya, Clay? Dasar aneh.” Aku cekikikan sendiri dan menaruh isi dari akuarium itu ke handuk putih yang tergantung tak jauh dari sana, yang kuletakkan di dekat wastafel sebelumnya. “Eh, ini wastafel ada air hangatnya juga ya?” tanyaku pada diri sendiri ketika melihat tanda merah dan biru di samping kran wastafel miliknya. “Cakep! Kita ambil air hangatnya dari sini aja. Ahay!” Setelah mengambil cukup air hangat, segera saja kugunakan handuk kecil yang tersedia di sana dan sedikit sabun cair miliknya untuk membersihkan tubuh Clay.

Setelah membersihkan tubuhnya, segera saja kugantikan pakaian yang digunakan Clay dan mengikat rambutnya menjadi satu; sebelum akhirnya kupapah tubuh Clay ke kamar tidurnya kembali. Setelah tubuh Clay sudah berada di posisi yang benar di atas kasur, ia terisak.

“Clay?” Panggilku. Tak ada jawaban. Clay hanya terisak dan kemudian menangis. Kulihat dengan seksama wajah Clay, matanya tertutup, tapi air matanya masih saja mengalir.

Clay, ada apa denganmu? Kenapa kau sesedih ini? Apa yang terjadi? Harusnya kau berbahagia, Clay. Kau dan Lio, seharusnya kalian berbahagia, biar tangis adalah bagianku.

Ada apa, Clay?

..

                Setelah hari itu, Clay tak benar-benar menjelaskan apa yang terjadi. Clay kembali menghubungiku kembali, hanya untuk memintaku mengurus pernikahannya. Ya, pernikahannya dengan Lio. Dari sekian kebodohan yang pernah aku lakukan, entah kenapa menawarkan diri menjadi  wedding organizer untuk pernikahan Clay, adalah penyesalan terbesarku.

Setelah hari pertunangan itu, ada yang berbeda dari Clay. Bisa kulihat dari pertemuan-pertemuan yang terjadi di antara kami, aku kehilangan sosok Clay yang ceria. Ia berubah menjadi perempuan pemurung. Tak ada lagi canda, bahkan pembicaraanku dengannya tak lebih dari sekadar membahas pernikahannya. Beberapa kali pertemuan yang seharusnya dilakukan tim wedding organizer milikku dengannya, seringnya kandas oleh aktivitas syutingnya yang semakin hari semakin tak masuk akal saja.

Hingga pertemuan-pertemuan penting yang seharusnya dilakukan bersamanya, akhirnya pun harus digantikan oleh tim manajemennya. Bukan hanya perkara memilih vendor yang akan digunakan saat pernikahan, atau pemilihan gedung yang akan digunakan. Pertemuan penting yang di mana, sudah seharusnya kedua mempelai lah yang hadir untuk memutuskan; semuanya malah  diatur dan diputuskan oleh tim manajemen Clay. Dari mulai pemilihan desainer yang akan membuat gaun pernikahan dan pakaian seragam keluarga, testing food, hingga pemilihan gaun-gaun yang digunakan nanti ketika hari-H –yang sudah seharusnya, dilakukan oleh Clay dan Lio sendiri, bukan tim manajemen Clay.

Aku sempat berpikir, sebenarnya yang menikah itu Clay dengan Lio, atau tim manajemen Clay dengan Lio sih? Argh! Benar-benar gak masuk akal!

Sore ini, aku meminta dengan sangat untuk Clay bisa hadir. “Ini fitting gaun yang akan kamu pakai, loh. Apa iya, tim manajemen kamu juga yang fitting? Bukan kamu? Ayolah, Clay. Ada beberapa hal yang gak akan pernah bisa tim manajemenmu gantikan. Kumohon, Clay.” Pintaku siang tadi di telepon. Lama sekali Clay terdiam, sebelum akhirnya ia menyetujui permintaanku.

Aku masih menunggu Clay di ruang tunggu butik. Entah sudah berapa kali harus kubatalkan janji di butik ini, hanya karena kesibukan Clay yang-melebihi-kesibukan-presiden itu. Sebagai desainer paling tersohor di negeri ini, tentu saja bukan perkara mudah, untuk membuat janji bertemu. Dan aku tak tahu lagi, bagaimana caranya aku meminta maaf dan memohon-mohon untuk dibuatkan lagi janji untuk fitting, jika kali ini Clay kembali membatalkan pertemuan ini. Aku harap Wedding Organizerku tak ikut masuk Black List di butik ini.

“Hey!” seketika suara perempuan mengagetkanku.

“Ah… akhirnya kamu datang juga, Clay. Syukurlah.” Kataku lega.

Clay langsung memelukku, “maafin aku ya, Nad.”

Aku melepaskan pelukannya, “udah gak usah dipikirin. Kesel sih aku sebenernya, sama tim manajemen kamu lebih tepatnya, apa-apa mereka, apa-apa diputusin sama mereka. Err.”

Clay hanya tersenyum kecut, “begitulah… kehidupanku, Nad.”

“Ya udah, gak apa-apa. Yang penting sekarang kamu udah dateng, yuk fitting sekarang. Udah ditunggu.” Ajakku kemudian.

“Sebentar, aku mau minta maaf juga karena harus ngebawa mereka ikut serta.”

“Mereka? Siapa?” tanyaku kemudian, karena aku tak melihat siapa-siapa selain asisten pribadi miliknya di belakang Clay.

Tak lama Clay membuka pintu masuk butik, segerombolan orang dengan kamera di tangannya langsung mengabadikan seisi ruangan ini, hingga membuat terkejut seisi ruang tunggu.

“Kamu… bawa wartawan?” tanyaku tanpa bersuara.

“Maaf ya?” pintanya tanpa suara juga.

Dari sebelum, saat, dan selesai fitting; Clay masih terus saja direkam dan melakukan beberapa wawancara. Sesekali ia akan melihat ke arahku dengan muka murung, seakan-akan berkata, “tolong aku.”

“Gimana perasaan kamu Clay, setelah fitting gaun pernikahan kamu?” Tanya salah satu wartawan di sela wawancara.

“Bikin gak sabar sampai hari-H. Hahahah.” Jawabnya singkat.

“Calon suami yang kamu masih rahasiakan itu, kok gak ikut fitting hari ini Clay? Kalian gak lagi berantem kan?”

Ah, terima kasih mbak wartawan. Baru saja aku mau menanyakan hal yang sama.

“Loh, namanya juga masih dirahasiakan. Masa iya mau dikeluarin sekarang, entar gak surprise dong? Hahahaha.” Jawab Clay dengan entengnya.

Ada yang berbeda dengan tawa milikmu, Clay. Ada yang beda, Clay.

 

Setelah prosesi wawancara usai dan seluruh wartawan pergi dari butik ini, Clay mendekatiku. “Makasih ya, Nad. Aku gak tahu gimana ini jadinya, kalo bukan kamu yang jadi Wedding Organizer-nya.”

“Apaan banget sih, kamu. Kalo bukan aku, ya orang lainlah yang akan kerjain.”

Clay hanya tertunduk dan tersenyum, “oh iya. Lio sudah fitting?” tanyanya kemudian.

Hmm, belum. Kata timku sih, dia gak mau ditemenin fitting. Katanya dia bisa ke sini sendiri. Ya udah.”

“Oh gitu.” Ucapnya dengan senyum yang sedikit sinis. “Aku pikir malah, dia gak akan mau datang.”

“Maksud kamu?”

“Ah, sudah lupakan.” Clay melirik sebentar asisten pribadinya, “Oh ya, selain fitting, apalagi yang harus banget aku lakuin sendiri?”

“Foto prewedd.” Kataku sambil tersenyum lebar.

“Okay. Terus?”

“Ya selain itu, ya pernikahan itu sendiri. Harus kamu yang lakuin, harus kamu yang ada di depan penghulu sama Lio, bukan tim manajemen kamu. Hahahaha.” Candaku mencoba mencairkan suasana. Clay tak menanggapi dan hanya terdiam dalam tundukkannya. “Gak lucu ya? Okay, maap.”

“Aku harus kembali ke lokasi syuting. Kalau ada apa-apa, hubungin ke asisten pribadi aku aja ya? Takutnya aku gak sempet pegang hape.” Pintanya.

“Siap, laksanakan!” kataku kemudian.

“Ya udah, aku balik duluan ya.”

“Okay, hati-hati.”

Clay hanya tersenyum dan beranjak pergi.

“Clay!” panggilku.

Clay membalikkan badannya kembali ke arahku, “iya?”

“Jaga diri baik-baik ya?” kataku pelan.

Clay menghampiriku kembali, dan menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Aku tertegun, melihat tindakannya. “Makasih banget ya, Nad. Makasih… banget.” Bisiknya.

Setelah kejadian yang cukup melodramatis itu, Clay akhirnya pergi. Kuambil tas yang berada di atas sofa di ruang tunggu itu, sebelum akhirnya telepon selularku memberikan notifikasi pesan masuk dari salah satu timku.

Mbak Nad, Mas Lio katanya mau ke sana sekarang. Mbak Nad masih di sana kan? Tolong sekalian buatin janji bisa ndak?

Belum sempat kututup pesan masuk itu, aroma jeruk mandarin dan petit grain, serta aroma rumput laut dan bunga lavender tercium di ruangan ini. aroma khas yang begitu tak asing.

“Kamu?”

Kepalaku langsung terangkat mencari sumber suara itu, “Lio?”

“Buatkan saya janji.” Ucapnya dengan nada datar.

Segera saja kuberanjak dari kursi, “Hmm, baik. Sebentar ya.” Lio hanya mengangguk tanpa mau melihat ke arahku. Langsung saja, langkahku kupercepat menuju meja resepsionis dan meminta bantuan untuk menambah jam fitting yang sebentar lagi berakhir, dengan sedikit memohon.

“Sudah gak bisa, mbak. Soalnya habis ini, sudah jam fitting customer lain. Kalau mau, buat janji fitting lagi di hari… sebentar,” ucap perempuan yang bertugas di resepsionis, sambil membuka buku catatannya, “hari kamis, minggu depan. Gimana?” tanyanya kemudian.

Segera saja kulihat jam di tanganku, “emm, masih ada sisa waktu 15 menit dari yang dijanjikan tapi kan, mbak? Kalau saya mau memakai waktu 15 menit itu untuk fitting pengantin prianya, masih bisa dong seharusnya, ya kan mbak?”

“Masih bisa sih. Tapi sebentar, saya coba hubungi asisten Madam dulu ya.”

“Baik, mbak. Terima kasih. Saya mohon bantuannya ya.”

“Sama-sama, mbak.” Ucapnya sambil mengambil telepon yang tergeletak di atas mejanya.

Segera saja kuhampiri kembali Lio dengan sedikit berlari kecil, “Lio, maaf menunggu lama. Tadi aku udah bilang sih sama mereka, biar kamu bisa gunain sisa waktu fitting sebelumnya, biar kamu bisa fitting.” Kataku dengan napas tersengal-sengal .

“Oke, terus?” tanyanya masih dengan nada datar.

“Ya, sekarang kita harus nunggu dulu. Mbak resepsionisnya masih nyoba ngehubungin asisten desainernya dulu sih, apa mereka bisa atau enggak.”

“Loh, jadi ini belum pasti? Kenapa saya harus pake sisa waktu? Kenapa kamu gak bisa buatin janji baru? Gimana sih kerjanya gak bener!”

Aku terdiam beberapa detik, sebelum akhirnya Lio memutuskan untuk pergi.

“Mbak Nad!” Teriak resepsionis tadi dari kejauhan. Aku menoleh ke arahnya dan segera berjalan cepat menuju meja resepsionis.

“Iya, mbak? Gimana jadinya?” Tanyaku.

“Kata asisten Madam, beliau masih bisa. Kalau mau, langsung ke lantai 2 aja ya, mbak. Ditunggu di sana sekarang.”

“Oh, gitu. Oke, baik mbak. Terima kasih, ya.” Kataku kemudian, dan dengan segera mengejar Lio yang sudah pergi terlebih dahulu ke luar butik.

Setibanya di luar, aku mencari ke sekitar parkir mobil. Mencari sosok Lio yang aku harap, masih belum meninggalkan tempat ini. Kupercepat langkahku mencari dengan seksama mobil yang biasa digunakan Lio.

“Lio?” kataku pelan ketika melihat mobil Lio sedang mencoba keluar dari parkiran. Tanpa berpikir panjang, segera saja kuberlari menuju ke arahnya. “Lio, Lio aku mohon. Kamu jangan pergi dulu. Aku mohon.” Kataku sambil mengetuk kaca jendela mobilnya.

Lio langsung membuka kaca jendela mobilnya, “apa lagi sih?” Tanyanya dengan nada tinggi.

“Kita masih punya waktu beberapa belas menit untuk fitting pakaianmu, tadi aku udah dikasih tahu resepsionisnya kalau kita masih bisa menggunakan sisa waktu dari janji yang kita buat sebelumnya. Aku mohon, keluarlah.” Pintaku dengan suara tersengal-sengal.

Lio langsung membuka pintu mobilnya dan berdiri di hadapanku, membuat keringat yang tadinya hanya karena aku berlari ke sana-sini menjadi lebih banyak lagi. Dadaku berdetak semakin kencang, berada sedekat ini lagi dengan Lio.

“Seperti ini? Terus mau kamu apa lagi? Fitting dan menikah sesuai rencana yang ada? Iya? Apa lagi? Apa lagi yang harus aku lakuin demi apa yang kamu mau? Apa selama ini kepergianku karena keinginanmu itu, masih kurang? IYA?” Lio meninggikan nada suaranya. Jarak kami terlalu dekat, hingga bisa kurasakan deru napasnya di keningku.

Mendengar ucapan Lio, membuatku naik pitam. Kuberanikan menatap wajahnya, “kamu pikir ini hal yang mudah aku lakuin apa? Aku bukan hanya melihat kamu menikah, tapi aku juga yang menyiapkan seluruuuuh kebutuhan pernikahan kamu! Aku gak habis pikir ya, ini itu pernikahan siapa sebenernya. Kenapa gak kamu, gak Clay, semuanya gak bener-bener bersemangat mempersiapkan hari penting buat kalian berdua! Aku cuma minta kamu fitting, apa sesulit itu? Hah?” Bisa kurasakan keringatku semakin deras mengalir di belakang punggungku, dan panas di sekitar pipiku mulai menjalar ke ubun-ubun kepalaku.

Tidak, tidak. Aku harus menahan emosiku. Aku tidak boleh terbawa emosi dan membiarkan dia tahu alasanku yang sebenarnya. Tidak. Tahan, Nad. Tahan.

“Loh? Aku mau nikah atau enggak, gak ada hubungannya sama kamu kan? Gak ngaruh juga di kamu kan? Toh kamu juga cintanya sama laki-laki lain. Mau aku atau Clay semangat atau enggak, itu juga bukan urusan kamu! Toh kamu di sini kerjanya emang buat nyiapin semua kebutuhan pernikahan, bukan buat mikirin semangat atau enggaknya aku dan Clay!”

Kukepal tanganku dengan kencang dan menundukkan kepalaku, “aku mohon, sekarang kamu fitting dulu, baru kita lanjutin pembicaraan kita ini.” Pintaku dengan nada yang semakin merendah.

“Aku pegang janjimu ini!” Lio langsung kembali ke dalam mobil dan memarkirkannya kembali ke tempat semula. Lio tak bicara apa-apa, ia hanya langsung menuju masuk ke dalam butik, sedang aku, hanya bisa mengikuti bayangannya.

Sesampainya di dalam, kami langsung menuju ke lantai 2. Lio fitting sesuai dengan rencana. Tanpa banyak bicara. Tak ada raut senang di wajahnya.

Kau pasti sudah gila. Kau bahkan tak tahu lagi harus merasa seperti apa, bahkan rasa sakit itu sendiripun semakin asing untukmu. Mempersiapkan pernikahan orang yang kau cintai… dengan orang lain? Kau pasti sudah gila, Nad…

“Okay. Cukup untuk hari ini ya. Mbak Nad?” panggil Madam.

“Eh, hmm. Iya, Madam?” ucapku sembari menggembalikan fokusku.

“Tinggal fitting terakhir lagi berarti ya buat kedua mempelai.” Ucap Madam sambil menuju ke ursi meja kerjanya.

“Oh, gitu. Okay. Kapan kira-kira kami bisa kembali lagi untuk fitting terakhir ya, Madam?”

Madam merebahkan tubuhnya di kursi itu dan memejamkan matanya sebentar sebelum akhirnya berkata, “nanti asisten saya yang akan menghubungi mbak Nad secepatnya.”

“Oh, gitu. Baiklah. Kalau begitu, kami pamit pergi dulu ya. Terima kasih untuk waktunya, Madam.” Kataku kemudian. Lio tak berbicara sedikitpun dan hanya berlalu begitu saja meninggalkan ruangan itu. “Eh, umm. Maafkan ya, Madam.” Kataku sambil menunjuk sikap Lio yang tidak menyenangkan itu.

“Iya, gak apa-apa. Kembali kasih ya, mbak Nad.” Ucapnya sambil tersenyum dan menuliskan sesuatu di meja kerjanya. Segera saja aku pamit keluar dan mengejar Lio yang sudah terlebih dahulu pergi.

Sampai di depan butik, mataku kembali ke parkiran di mana Lio tadi sempat memarkirkan kendaraannya. Ketika hendak aku menuju ke sana, tiba-tiba suara Lio mengagetkanku dari arah samping.

“Kita harus bicara.” Lio tanpa menunggu persetujuanku langsung saja menggenggam tanganku dan menarikku menuju ke mobilnya.

Tidak. Ini ide yang buruk, Nad. Nad?

[bersambung]