Tags

Sampai di depan butik, mataku kembali ke parkiran di mana Lio tadi sempat memarkirkan kendaraannya. Ketika hendak aku menuju ke sana, tiba-tiba suara Lio mengagetkanku dari arah samping.

“Kita harus bicara.” Lio tanpa menunggu persetujuanku langsung saja menggenggam tanganku dan menarikku menuju ke mobilnya.

Tidak. Ini ide yang buruk, Nad. Nad?

 

Genggaman Lio begitu kuat. Aku tahu ini mungkin bukan ide yang baik mengikutinya dan melanjutkan pembicaraan tadi. Tapi aku juga tak bisa menarik tanganku dan berkata tidak, ketika Lio melakukan ini semua.

Genggam aku sekuatmu, Lio. Kumohon, jangan lepaskan aku semudah aku melepaskanmu.

 

Lio memaksaku untuk masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kemudinya. Aku hanya mngikutinya dan tak melawan. Aku tahu ini akan jadi kebodohanku lainnya, karena aku pun tak tahu harus berkata apa untuk pertanyaan-pertanyaan yang mungkin Lio tanyakan kepadaku.

Lio masuk ke dalam mobil, duduk di sampingku dan menyalakan mobil dan pendingin udara. Tiba-tiba Lio menguncinya semua pintu mobil, aku sontak terkejut. “Kenapa harus dikunci?” tanyaku.

“Biar kamu gak bisa seenaknya ninggalin aku kaya yang sebelum-sebelumnya.”

Aku terdiam. Lio terdiam. Kami sama-sama bersandar di kursi kami masing-masing, hingga satu-satunya suara yang kami dengar hanyalah napas kami berdua di sana. Lio menaruh tangan kanannya di atas kemudi. Lampu-lampu dari parkiran memasuki sebagian dalam mobil, membuatku melihat semakin jelas genggaman Lio yang erat di atas kemudi. Aku bahkan dapat melihat urat-urat yang menjulur di sekitar tangannya hingga kemeja Lio yang terlipat hingga ke siku. Pandanganku terhenti ketika mendapati Lio memenjarakan wajahku dalam tatapan tajamnya, seketika aku mampu merasakan wajahku bersemu malu dan membuat pandanganku terjatuh pada diriku sendiri.

“Kamu abis pulang kerja ya?” Tanyaku mencoba memecahkan keheningan yang ada.

Wait, what? Pertanyaan macam apa itu, Nad? Kamu gak bisa nyari pertanyaan yang jauh lebih baik lagi apa? Ya jelaslah dia baru pulang kerja. Ini weekdays dan kamu sendiri melihat kan kalau dia memakai pakaian kerja? Argh! You’re such a stupid bitch!

“Gak usah ngalihin pembicaraan!” Tegasnya. Kepalaku makin tertunduk mendengar ucapannya. “Sekarang jawab pertanyaanku,” pintanya sambil mengarahkan tubuhnya ke arahku, “apa alasan kamu yang sebenernya?”

“Jadi wedding organizer kamu?” tanyaku sambil mencuri pandang melewati ekor mataku, “ya, aku sama Clay emang udah sahabat lama. Dan kami akhirnya baru ketemu lagi dan karena tahu dia mau tunangan, ya jelaslah dia pasti akan nikah kan? Ya, aku pikir aku kan…”

“BUKAN ITU!” tegasnya, kali ini nada suaranya meninggi, membuatku sedikit terkejut dan memberanikan diri menatap matanya; seakan-akan bertanya, lalu apa? Lio menutup matanya sambil menghembuskan napasnya dengan tak sabar, kemudian menatapku kembali dengan tatapan tajamnya. Tatapan, yang membuatku ingin memasrahkan diri untuk terpenjara selamanya di sana. “Kenapa kamu meminta kita berakhir saat itu? Apa alasan kamu sebenernya? Jawab aku!”

Aku terdiam, menggigit sebagian bibirku dan mencoba menghembuskan napas dengan pelan-pelan. “Kamu kan sudah tahu,” kataku sambil menarik napasku dengan cepat. “Aku jatuh cinta dengan laki-laki lain.” Jawabku sambil mengalihkan pandanganku ke luar jendela mobil.

“Bohong!”

Aku langsung menatapnya dengan tatapan terkejut.

“Aku sempet percaya ya, waktu kamu bilang kamu jatuh cinta dengan laki-laki lain saat itu. Aku benar-benar marah saat itu. Marah sama kamu, marah sama diri aku sendiri. Dan aku gak habis-habisnya menyalahkan diriku sendiri, kenapa aku begitu pengecutnya sebagai seorang laki-laki yang gak bisa memperjuangkan kamu di keluargaku sendiri.” Lio sempat terdiam dan menundukkan kepalanya, “hingga aku berpikir,” Lio menghembuskan napasnya dan menatapku kembali, “kalo mungkin itu alasan kamu jatuh cinta dengan laki-laki lain.”

Aku masih saja terdiam menatapnya, Lio tersenyum ke arahku dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tapi ke sininya, aku semakin yakin… Ada sesuatu yang kamu tutupi, sesuatu yang ngebuat akhirnya kamu harus menyerah dengan hubungan kita. Apa aku benar?”

Mulutku sedikit ternganga mendengar ucapannya. “A… aku….”

Tidak, tidak Nad. Kau tak bisa mengatakannya sekarang, tidak Nad. Kalau kau mengatakannya sekarang, semua yang kau lakukan akan sia-sia.

                “Ya udahlah, Lio. Kenapa kamu harus mempermasalahkannya sekarang sih? Toh, sekarang kamu udah sama Clay, kan?” kataku sambil melihat ke arahnya dengan nada meninggi, “toh, kamu sudah tunangan sama dia, kan?” kataku lagi sambil melihat ke arah jari manis di tangan kanannya. “toh, kamu sebentar lagi juga akan menikah dengan Clay, kan?” kataku dengan menurunkan nada suaraku dan kemudian menjatuhkan tatapanku kembali ke diriku sendiri.

“Aku gak mungkin menerima Clay, kalo kamu gak ninggalin aku gitu aja dan hanya karena kamu jatuh cinta dengan laki-laki lain, Nad!” tegasnya sambil memukul kemudi.

Mataku langsung tertutup rapat, dadaku semakin sesak; seakan-akan ada gemuruh hebat di dalamnya. “Seharusnya kamu bisa lebih berani, Lio! Seharusnya kamu gak ngebuat aku semakin ragu setiap harinya! Seharusnya kamu bisa perjuangin aku di keluarga kamu, Lio! Seharusnya…” ucapanku terhenti, ketika mendapati air mataku terjatuh di tangan yang kukepalkan di atas pahaku. Napasku mulai tak beraturan, dadaku semakin sesak tak karuan. Tiba-tiba bisa kurasakan jemari seseorang menghapus air mataku di pipi. Kubuka mataku, dan terkejut melihat wajah Lio tak lebih dari segenggam jemari. Aku bisa mencium aroma parfum yang tercampur dengan aroma tubuh Lio dengan sangat baik, aroma yang mampu membuatku bertekuk lutut untuk jatuh di pelukannya. Jemari Lio masih menghapus air mata di wajahku, dengan matanya yang sayu, perlahan Lio menutup matanya dan mulai menjatuhkan bibirnya di bibirku.

Tidak! Lio, kumohon! Jangan menciumku! Tidak!

Pertahananku selama ini seketika saja hancur, ikut melebur dalam ciumannya yang begitu lembut. Aku bisa merasakan keringat di sekujur tubuhku berdatangan bersamaan dengan degup jantungku yang semakin kencang berdetak. Beberapa saat, bisa kurasakan juga tubuhku terdiam dengan napas yang tertahan, saat jemari tangan kanan Lio menyelusup rambutku menuju leher belakangku, sedang jemari tangannya memeluk pipiku, dan menarikku lebih jauh ke dalam ciumannya. Begitu dalam, hingga mampu kurasakan janggut tipis milik Lio menggelitik daguku. Aku seperti terhipnotis, mataku membelalak; melihat Lio menciumku begitu saja.

Setelah membiarkan diriku terbuai dengan ciumannya, aku langsung tersadar dan mendorong tubuhnya menjauh. Napasku tersenggal-senggal. Lio terkejut mendapati sikapku, dan merenggangkan jemari-jemarinya seketika. Air mataku kembali terjatuh kali ini. Tidak, bukan karena tak suka dengan apa yang dilakukannya; tapi karena aku menangisi diriku sendiri yang tak bisa membiarkan diriku terjatuh pada laki-laki yang begitu kucintai. Lio kembali menatapku dan menghapus air mataku dengan jemarinya. Kedua tangannya menggenggam erat wajahku dan mengarahkannya ke wajahnya. “Maafkan aku.” Ucapnya dengan nada sendu. Aku menatapnya dengan tidak jelas, mataku terlalu penuh dengan air yang menggenang. Mendengar ucapannya, aku semakin terisak dan menangis lebih banyak lagi.

Tidak Lio, ini bukan salahmu. Aku yang harusnya meminta maaf. Aku yang begitu pengecut! Aku yang tak berani mempertahankanmu, aku yang melepaskanmu…

                Melihatku seperti itu, Lio langsung menenggelamkan kepalaku dalam pelukannya, begitu erat; hingga bisa kudengar detak jantungnya dengan jelas. “Aku mencintai orang lain, Lio. Aku mencintai orang lain! Lepaskan aku, kumohon…” Pintaku dengan terisak dan mendorong-dorong tubuhnya dengan tak bertenaga. Lio tak mengindahkan ucapanku, ia bahkan semakin erat menenggelamkanku dalam peluknya.

“Kumohon, jangan sakiti dirimu seperti ini,” bisiknya pelan. “Maafkan aku, Nad. Maafkan aku…”

                Isakku mereda, “seandainya pun aku tak jatuh cinta dengan laki-laki lain, seandainya pun kita kembali, kamu juga gak akan bisa memperjuangkan aku kan?” Tanyaku dengan nada mengintimidasi. Pelukan Lio merenggang, hingga membuat tawaku terdengar sangat menyedihkan sekali. “Sudah kuduga jawabannya.” Kataku lagi dengan tawa yang kupaksakan. “Lepaskan aku.” Kataku kemudian, sambil menahan isakku.

“Tidak.”

“Lepaskan kataku!” tegasku sambil mendorong kuat tubuhnya menjauh.

Lio terperanjat melihatku melepaskan pelukannya. Ditaruhnya tangan kanannya di dekat jendela mobil yang berada di sampingku, sedang tangan kirinya ditaruh di senderan tangan di antara kami; hingga tubuhnya mengelilingi tubuhku. Lio menghela napasnya dan tertunduk. “Apa maumu sebenarnya?” Tanyanya sambil menatapku kembali.

“Mauku?” Tanyaku, Lio hanya menarik napasnya dalam dan menatapku dengan tajam. “Mauku, kamu lepasin aku dan menikahlah dengan Clay.” Kataku sambil menatapnya kedua matanya.

“Benar itu yang kamu mau?” tanyanya meyakinkan.

“Iya,” jawabku cepat.

Lio menghela napasnya sambil menutup kembali matanya, sebelum akhirnya memukul kepalan tangannya di pinggir kaca jendela mobil. Lio kembali menatapku dengan sedikit geram, “aku tanya sekali lagi,” Lio terdiam sebentar dengan bibirnya yang terbuka, “benar itu yang kamu mau?”

Napasku kembali terlupa bagaimana caranya bernapas, tertahan cukup lama tanpa memalingkan tatapanku kepadanya. “Iya.”

Kulihat urat-urat wajah yang tadinya menjalar kuat di wajahnya, melemah. Lio menjatuhkan pandangannya dan menghela napasnya dengan sangat kuat. Tanpa melihat ke arahku, tangan kanan Lio membuka kunci pintu yang berada di samping kiriku. Ia kemudian membukakan pintu mobil itu, dan menggembalikan tubuhnya di tempatnya semula. Tangan kanannya kembali menggenggam erat kemudi di depannya. “Pergilah.” Katanya kemudian, dengan nada yang begitu datar.

Aku sempat terdiam, sebelum akhirnya memutuskan untuk beranjak keluar dari mobilnya.

“Melepaskan kamu dan menikahi Clay, itu kan yang kamu mau? aku akan melakukannya.” Ucapnya sesaat sebelum aku menutup pintu mobil miliknya.

Aku tertunduk dalam diam, ketika Lio akhirnya melajukan mobilnya meninggalkanku di parkiran. Hingga suara mobil Lio tak lagi terdengar, aku masih saja tak beranjak. Masih terdiam dan membiarkan segalanya kembali sudah. Aku bahkan tak tahu lagi, apa yang kurasakan saat ini. Barangkali, inilah yang terbaik. Ataukah, barangkali tidak…

Aku tak pernah benar-benar tahu jawabannya.

..

 

Setelah kejadian malam itu, Lio benar-benar menghindariku. Bahkan untuk fitting selanjutnya pun, ia sengaja menggambil hari yang berbeda dan meminta kepada timku agar membiarkannya fitting sendiri tanpa ditemani oleh pihak wedding organizer milikku. Bagiku, dengan sikap Lio yang seperti ini, membuatku semakin mudah melepaskannya. Meskipun terkadang, entahlah, ada rasa sakit yang tak mampu lagi kudefinisikan di dalam dadaku; dengan adanya jarak yang semakin jauh di antara kami berdua.

Bukankah ini seharusya lebih mudah bagimu, Nad? Dengan Lio membencimu dan melepaskanmu, bukankah seharusnya itu lebih mudah bagimu untuk melepaskannya? Lalu, untuk apa rasa sakit itu ada, Nad?

“Semua akan baik-baik saja.” Bisikku kemudian pada diriku sendiri.

Aku tahu. Semua akan baik-baik saja, tentu saja. Barangkali, semua pun akan terjadi seperti yang kau mau. Lio melepaskanmu, kemudian ia menikah dengan Clay, dan semua akan baik-baik saja seperti yang sudah direncanakan. Pertanyaanku adalah, apakah kau baik-baik saja?

 

Barangkali, aku tak kan baik-baik saja.

Barangkali, itu yang terbaik.

 

..

 

Bagiku, waktu kian mencekik leherku sendiri. Semua persiapan untuk pernikahan mereka pun sudah hampir selesai. Namun dengan kesibukan Clay yang masih tak masuk akal bagiku, dan juga kesibukan Lio –entah dia benar-benar sibuk, atau itu hanya sebagai alasannya untuk menghindariku–, membuat kesempatan untuk pre-wedding photoshoot masih saja belum menemukan waktu yang tepat. Padahal waktu yang tersisa hanya tinggal sebulan, sebelum tanggal pernikahan mereka.

Dari tema, wardrobe, hingga make up artist yang diperlukan untuk pengambilan foto pre-wedding sudah ditentukan –tentu saja, semuanya diputuskan oleh tim manajemen Clay–, Clay dan Lio hanya tinggal datang dan melakukan pemotretan. Tapi kesibukan, selalu menjadi senjata mereka untuk membatalkan waktu yang telah dipersiapkan.

“Saya mohon dengan sangat, agar pre-wedding photoshot dimasukan dalam schedule Clay. Saya tidak peduli sesibuk apa, atau sepadat apa schedule-nya, Clay harus bisa pemotretan akhir pecan ini.” Tegasku sore itu lewat sambungan telepon. Mas Andil, salah satu tim manajemen Clay, sempat terdiam lama, sebelum akhirnya ia mengiyakan permintaanku.

“Saya juga minta satu hal lagi. Saya sudah kehabisan cara untuk meminta waktu dari Lio. Saya mohon, tim anda bisa melakukan hal yang sama dengan Lio. Saya tidak peduli bagaimana caranya, kedua mempelai harus bisa hadir saat pemotretan nanti.” Tegasku lagi.

“Tapi, mbak? Saya…”

“Saya tidak mau tahu. Kalau sampai keduanya tidak hadir lagi di pemotretan akhir minggu ini, saya dan tim wedding organizer saya dengan berat hati harus memutuskan kontrak kerjasama kita.” Kataku kemudian.

Tak ada suara dari seberang sambungan, hanya terdengar helaan napas sebelum akhirnya mas Andil mengiyakan kembali permintaanku dan memutuskan sambungan telepon. Kusenderkan tubuhku di kursi, mengetuk-ketuk pulpen di atas meja kerjaku, dan melambungkan pandanganku ke luar jendela ruangan yang menampilkan lampu-lampu jalanan ibukota. Aku bahkan tak tahu, harus berpikir apa saat ini.

“Lo kuat banget ya?” Suara seorang perempuan dari arah pintu ruanganku mengejutkanku.

“Eh, Lidia. Hahaha, apaan sih. Dateng-dateng ngomong kaya gitu.”

Lidia yang tadinya hanya menyender di pinggir pintu akhirnya mendekatiku dan duduk di samping meja kerjaku. Tubuhnya menghadap ke arah jendela kaca yang menghadap ke luar.

“Nad… Nad. Gue tuh udah curiga pas lo kasih tau gue dan tim, kalo next project kita itu pernikahan Clay dan Lio a.k.a mantan lo itu.”

“Maksud lo?”

“Lo gak banyak cerita dari awal lo balikan sama Lio sampe lo berdua putus, terus tahu-tahu lo nerima job pernikahan mereka? Hahaha, lucu.”

“Bentar-bentar gue semakin gak paham deh maksud lo.” Kataku sambil beranjak berdiri dan duduk di sampingnya.

Lidia, adalah sahabat yang kutemukan saat membentuk tim wedding organizer ini beberapa tahun yang lalu. Kecocokan kami dalam berbagai hal, membuatku semakin nyaman menjadikannya salah seorang sahabatku.

Lidia menatapku dari samping dan mengintimidasiku dengan senyumannya, “Nadiaran Lafta Maharani, sahabat tercintaku yang pinter tapi suka goblok; lo mau sampe kapan sih ngebohongin hati lo sendiri? Hah?” Ucapnya sambil menghela napas cepat dan memalingkan pandangannya kembali ke luar jendela.

Aku terperanjat diam mendengar ucapannya, dan ikut memalingkan wajahku ke luar jendela. “Gue juga gak tahu, Lid. Sampe semuanya jadi baik-baik aja, mungkin.” Jawabku seadanya.

Ckckck… gak usah senaif itulah, Nad. Lo pikir keputusan lo itu yang terbaik buat semuanya? Iya kalo yang terbaik buat semuanya, kalo nyatanya enggak?”

“Entahlah, Lid. Entahlah.” Jawabku sambil menghela napas ke atas dan menahan tubuhku dengan kedua tanganku di atas meja.

“Kalo boleh gue nebak, lo sebenernya udah tahu pernikahan ini sebelum lo mutusin Lio, iya kan?”

Aku tersenyum dan mulai tertawa sekadarnya mendengar tebakan Lidia. “Sotoy, ah!”

“Yang masih jadi pertanyaan gue, Lio itu selingkuh dari lo, atau lo itu cuma selingkuhannya si Lio sih?” tanyanya kemudian sambil memalingkan wajahnya ke arahku.

Mendengar pertanyaannya sontak aku pun langsung menatapnya. “Who knows?”

..

Source Image: wheretoget.it

Source Image: wheretoget.it

Kakiku masih saja melangkah menyusuri hutan pinus ini. Daun-daun kering ikut terseret oleh gaun putih yang kukenakan, bisa kurasakan sinar matahari sore memeluk tubuhku ikhlas. Pada musim yang kusebut dalam tanggalan, langkahku tak jua melaju ke depan; namun tertinggal dalam halaman pertama. Di tanganku, sebuah palet dengan warna yang kaya menanti tuk digunakan. tak ada kanvas di sana, hanya kuas yang memintaku tuk berdansa dalam hitungan ketiga.

Jemariku seakan-akan lebih paham bagaimana indah dilukiskan, ia mulai memainkan warna pada kuas yang kugenggam; mencoba mewarnai hutan pinus yang telah abadi dilukis Tuhan. Semakin kuat kuwarnai apa yang tertangkap mata, semakin tunggal warna yang ada. Tak ada putih maupun hitam, warnaku terlahir sebagai abu-abu yang menyesakkan dada; hingga warna tunggal itu kemudian jatuh menitik pada bumi, mengubahnya menjadi seorang laki-laki. Tubuhnya yang berwarna tunggal, menatapku dengan rasa sesal. Tak ada kata-kata yang terlahir dari lidah, hanya tatapannya yang kian berkata “tidak.”

“Lio?” kataku pelan. Kulepaskan kuas dan palet yang tergenggam di tangan, mencoba menyentuhnya lebih dekat. Lebih dekat, namun hanya pekat yang melebur di dadanya; menjadikannya tak lebih dari sekadar kanvas yang gagal kuwarna. Ia mencium keningku paling kelam, hingga membuat langit semakin geram. Tak ada suara, hanya detaknya yang kudengar semakin melemah.

“Lio?” Panggilku lagi, sebelum akhirnya warna-warna itu semakin terhempas, bersama hampa yang kutahu berada di depan; melumatnya dalam keinginanku yang kupikir tak sekadar. Malam seketika jatuh di dekapan, membuat langkahku patah untuk kesekian.

 

“Nad?”

Seketika mataku terbuka, “Eh, Lid?” kataku kemudian sambil mencoba beranjak.

“Lo gak tidur pasti semaleman ya? Sampe ketiduran gitu.”

“Firasat gue gak enak nih, Lid.” Kataku sambil membenarkan posisi dudukku.

“Ah, jangan macem-macem deh ngomongnya. Hari ini pre-wedding photoshoot, dan gue harap pikiran lo itu gak ngebuat apa-apa yang seharusnya gak ada, jadi ada. Jadi ada masalah, misalnya.” Sindirnya sambil memperhatikan buku catatannya.

“Sialan. Lo pikir otak gue isinya cuma buat masalah apa?” Kataku sambil mencubit pinggangnya.

Lidia hanya tertawa memaksa sekadarnya dan memandangku dengan tatapannya yang mengintimidasi, “emang iya.” Jawabnya singkat.

“Sial!” Kataku sambil tertawa, “ eh iya, Lid. Persiapan udah sampe mana?”

“Tim photografernya udah oke, properti photoshoot juga udah beres, sampe tenda buat ganti baju dan make up juga udah kok. Tinggal nunggu mereka doang nih.” Jawabnya sambil melihat jam kulit yang melingkar di tangan kanannya.

“Hmm. Ya udah, coba gue hubungin mereka dulu deh.”

“Cakep! Gitu ngapa dari tadi. Jangan tidur di mobil doang kerjaannya, mentang-mentang bos!” sindirnya lagi.

“Kampret! Shoo! Shoo! Pergi sana.” Usirku kemudian. Lidia langsung beranjak pergi sambil tertawa puas. Langsung saja kuambil telepon selularku yang kutaruh di saku celanaku, namun isi kepalaku mulai mempertanyakan arti dari mimpi yang kualami tadi dan hanya terdiam setelahnya.

“Nad!” Panggil Lidia dari luar mobil. Kepalaku langsung kujulurkan keluar dan mendapati Lidia berada di tenda ruang ganti, yang letaknya tak jauh dari mobil ini.

“Woy? Ngapa dah?” tanyaku. Lidia hanya menunjuk ke arah utara dari posisiku saat ini. Mataku langsung mencari sesuatu yang Lidia tunjuk dan mendapati Clay bersama tim manajemen dan asisten pribadinya berjalan mendekati lokasi pemotretan. Dari jauh Clay langsung melambaikan tangannya kepadaku, yang kemudian kubalas dengan melambai ke arahnya. Segera saja kuberanjak keluar dari mobil dan mendekati Clay.

“Ah, thank you, God. You’re here!” kataku dengan leganya. Seperti biasa, Clay langsung saja memelukku dan menciumi kedua pipiku.

“I am.” Ucapnya singkat. “Jadi, aku harus pake yang mana dulu nih?” tanyanya dengan senyum –yang kubaca dari wajahnya– sedikit terpaksa.

“Ah, iya. Lid! Lo tunjukin Clay ya, baju mana aja yang dia harus pake dulu.” Kataku pada Lidia. “Nanti Lidia yang tunjukin, kamu ke sana aja langsung ya? Entar sekalian make up  di sana.

Emm, tim manajemenku udah bawa make up artist sendiri.” Ucapnya sambil menunjuk ke arah Grace, seorang make up artist  yang memang sudah punya kredibilitas tinggi di mata artis-artis negeri ini. “Maaf ya?” pinta Clay dengan raut yang cukup sedih.

Alisku langsung terangkat dengan kepalaku yang ikut mengangguk. “Ah, gitu? Ya udah. Gak apa-apa.” Jawabku kemudian sambil tersenyum. “Ya udah, gih sana siap-siap. Biar efektif waktunya.”

“Makasih ya?” Clay tersenyum sebelum akhirnya berlalu menuju tenda ruang ganti. Mas Andil yang berada di belakang Clay dari tadi langsung menyapaku.

“Mbak Nad. Apa kabar?” tanyanya sambil tersenyum dan menjulurkan tangannya.

Kusambut juluran tangannya, “baik, mas. By the way, bukannya dulu kita udah sempet deal ya, masalah make up artist?” sindirku dengan suara sedikit berbisik, agar Grace yang berdiri tak jauh dari sana, tak perlu mendengarnya. Kulepaskan kemudian genggaman tangannya.

“Ahaha, iya mbak. Maaf ya, saya lupa konfirmasi. Ini permintaan big boss, maunya yang terbaik aja buat si Clay.”

“Ah, yang terbaik?” tanyaku dengan nada mengintimidasi.

Lah, make up artist yang dulu kita setujui juga yang terbaik, mas. Mas-nya sih enak, sayanya yang gak enak sama make up artist yang saya bawa. Masa iya dia udah ke sini, terus gak jadi kerja? Hufth.

“Nilai deal, gak ada yang berubah kok, mbak. Make up artist yang kami bawa, jadi tanggungan kami kok. Dan make up artist make up artist yang mbak Nad bawa, tetep dibayar kok.”

“Oh, gitu? Baguslah.” Ucapku singkat sambil menghela napas. “Oh, iya. Lio gimana? Kok dia belom dateng? Kita udah bicarain ini sebelumnya loh, mas.” Sindirku lagi.

Mas Andil kemudian menundukkan kepalanya dan menghela napasnya, “saya sudah coba bujuk Mas Lio sih, mbak. Cuma saya juga gak yakin, apa mas Lio bener dateng atau enggak hari ini.” Mendengar ucapannya, aku hanya tersenyum sinis. “Akhirnya saya coba hubungi mamanya, kata beliau sih, beliau sendiri yang akan membujuk anaknya. Entahlah mbak, saya juga bingung sekarang. Kalau sampai mbak Nad mutusin kontrak, dan pernikahan ini gagal, sudah tentu ini akan mempengaruhi image Clay. Dan tentu saja, ini akan mengganggu karirnya.” Lanjutnya kemudian.

Mendengar hal itu, membuatku sedikit terkejut. Aku bahkan tak memikirkan karir Clay, dan asal bicara saja mau memutuskan kontrak kerjasama. Kutatap Clay yang berdiri dengan gaun yang akan ia kenakan di pemotretan nanti. Tatapannya kosong, wajahnya pun hanya datar-datar saja menatap ke arah cermin besar di depannya.

“Mbak Nad,” panggil Tara, salah satu tim photografer. Kepalaku langsung memutar mencari arah suaranya, “Kita ambil foto mbak Clay dulu aja kali ya? Sambil nunggu mas Lio dateng.” katanya.

Aku memberikan jempolku ke arahnya, “oke!”

monique-lhuillier-lace-wedding-dresses-07

Selang hampir satu setengah jam kemudian, Clay yang tadi sudah mengenakan gaun, kini sudah semakin cantik dengan riasan dan hair do yang sesuai dengan tema yang sudah aku dan –tim manajemen- Clay sepakati sebelumnya. Dengan mengambil romantisme hutan pinus, Clay akan semakin cantik dengan gaun brokat pernikahan berwarna putih yang menjuntai ke bawah lengkap dengan mahkota bunga di kepalanya, ketika Lio menggenggam tangannya menyusuri hutan pinus ini.

Clay akhirnya memulai pemotretan untuk dirinya sendiri, yang tentu saja Lio juga harus melakukan sesi pemotretan seperti ini; sebelum akhirnya nanti berada dalam satu frame. Aku memantau sesi pemotretan tak jauh dari sana. Betapa cantiknya Clay dengan gaun yang ia gunakan saat ini, aku bahkan membayangkan jika aku mengenakan gaun yang sama dengan yang digunakan Clay saat ini. Aku bahkan membayangkan jika saja aku yang berada di posisi Clay saat ini, menjadi calon mempelai yang melakukan sesi pre-wedding shoot­ ­­dengan Lio sebagai calon mempelai laki-lakinya.

 

Selang beberapa lama, sesi pemotretan untuk Clay pun sudah berakhir. Clay kembali ke dalam tenda untuk beristirahat sambil menunggu kehadiran Lio di lokasi ini.

“Mbak Nad, Mas Lio belom dateng juga?” Tanya Tara sambil membereskan lensa-lensa yang ia gunakan tadi.

Aku semakin cemas melihat jam di tanganku. Waktu sudah semakin siang, matahari pukul Sembilan pagi pun sudah hampir usai. Namun Lio belum juga bisa dihubungi. “Belom, Tar. Aku coba hubungi lagi deh.” Kataku sambil melakukan panggilan ke nomor Lio.

“Maaf, nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silakan menghubungi beberapa saat lagi.”

Keputuskan sambungan teleponnya, dan menghela napas kesal.

Lio, kamu di mana? Kumohon, datanglah hari ini. Aku tak mengerti hubunganmu dengan Clay seburuk apa, tapi bisakah kau tak egois dan memikirkan juga kehidupan Clay jika semua ini gagal hanya karena rasa marahmu kepadaku?

Kualihkan pandanganku ke arah Clay yang sedang terduduk diam, menatap kosong. Entah apa yang ada di kepalanya sekarang, tapi aku benar-benar merasa iba dengannya saat ini.

Kau tak seberuntung itu. Benar kan, Clay?