Tags

Tak semua kesempatan kedua berpeluang menjadi lebih baik, terkadang ia datang bukan sebagai suratan takdir untuk memperbaiki apa-apa yang sempat berakhir; ialah sebagai peringatan terakhir, bahwa beberapa hal memang tak seharusnya terulang kembali. Namun, ketika ia hadir sebagai suratan takdir; sekuat apapun kau coba untuk mengakhiri, ia kan tetap terlahir kembali.

Pertanyaannya ialah, bagaimana kau mengetahui bahwa beberapa hal memang sudah seharusnya berakhir ataukah ia ialah suratan takdir untuk kembali terlahir?

 

..

“Gue daritadi udah ngikutin mau lo ya, Tar. Disuruh pegangan tangan, gue ikutin. Disuruh meluk dan lebih mesra lagi, gue ikutin. Sekarang lo nyuruh gue nyium Clay? Otak lo di mana sih? Gue gak mau!” Tiba-tiba saja suara Lio mengagetkanku dari lamunanku. Ia langsung beranjak pergi meninggalkan lokasi pemotretan.

Melihat Lio yang tiba-tiba marah seperti itu, aku langsung  berlari menuju ke arah Tara. “Tar, ada apa sih?” Tanyaku cepat.

“Gue cuma nyuru mas Lio buat pose nyium mbak Clay, mbak. Emang gue salah apa? Lah, ini kan foto pre-wedd dia, masa iya dia gak mau nyium pasangannya sendiri? Udah ah, gue cape. Dari tadi juga dia susah banget disuruh foto mesra sama mbak Clay. Gue nyerahlah, mbak.” Ucapnya sambil mengambil peralatan kameranya, “guys, kita cabut!” ucap Tara kemudian kepada timnya dan beranjak pergi.

“Tar, please jangan gegabah dulu. Please gue mohon, lo jangan ikut emosi karena perkataan Lio. Gue mohon, Tar. Jangan kaya gini.”Pintaku sambil mengikutinya dari samping.

Tara menghentikan langkahnya, ia tertunduk sebentar sebelum akhirnya ia menatapku dengan tatapan tajam, “okay. Gue akan tunggu selama setengah jam, kalau sampe mas Lio masih ngambek juga dan gak mau ngelanjutin sesi berikutnya, gue cabut.”

“Tara… makasih ya?” ucapku lega.

“Kalau aja ini bukan project yang dikerjain mbak Nadia, kalau aja karena mbak Nadia yang udah baik banget selalu ngasih job ke gue dan tim, gue gak akan mau lakuin ini, ” sambungnya kemudian. “Guys, kita break dulu setengah jam.” Tara mengkomando timnya lagi, dan kemudian melanjutkan langkahnya ke tenda peristirahatan.

Tak lama kemudian, dengan sedikit berlari aku mulai mengejar langkah pergi Lio. Kususuri pohon-pohon pinus dan dengan cepat memutuskan kemungkinan arah perginya.

Lio, kamu ke mana sih?

Tak lama setelah aku berlari menyusuri deretan pohon-pohon pinus ini, langkahku tiba di parkiran mobil yang berada di utara hutan pinus ini. Mataku langsung tertuju pada Lio yang hendak masuk ke dalam mobil. Dengan cepat aku langsung berlari ke arahnya dan menahan pintu mobilnya.

“Mau ke mana?” Tanyaku dengan setengah berbungkuk dan napas yang terengah-engah.

“Pulang! Minggir!” katanya sambil mencoba menarik pintu mobilnya.

Dengan sigap aku langsung berdiri dan menahan pintu mobilnya. “Kamu tuh ya. Kaya anak kecil tahu gak sih, ngambek-ngambek kaya gini!”

Lio yang mendengar ucapanku langsung berhenti menarik pintu mobilnya dan menatapku dengan tatapannya yang tajam, “siapa yang kamu bilang kaya anak kecil?”

“Kamu!” jawabku singkat.

Lio langsung membuka lebar pintu mobilnya dan beranjak berdiri tepat di depanku, hingga dadanya hampir saja menabarak wajahku; membuat nyaliku ciut dan membuat langkahku mundur. Lio mencoba mengintimidasiku dengan tubuh tingginya yang memepet tubuhku hingga ke sisi samping mobilnya. Tanganku dengan serta merta langsung kusilangkan di depan dadaku, seakan-akan membuat pertahanan atas tubuhnya dan memalingkan wajahku ke samping. “Kalo lo jadi gue, terus lo harus nyium orang yang sama sekali gak lo cintai, apa lo mau? Hah?” Tanyanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku hanya menggeleng cepat mendengar pertanyaannya.

Apa? Lio tak mencintai Clay?

“Terus,” sambung Lio sambil melingkari tubuhku dengan kedua tangannya yang ia sandarkan di sisi samping mobilnya, “hanya karena gue menolak mencium orang yang gak gue cintai, dan memutuskan untuk  pergi, terus gue bisa disebut ngambek kaya anak kecil gitu? Hah? Jawab!” bentaknya sambil memukul keras mobilnya.

Aku tersentak dan kembali menggeleng cepat. “Ma… maksudku bukan gitu.” Ucapku dengan nada terbata-bata. “Aku minta maaf.” Ucapku sambil tertunduk.

“Maaf?” Tanyanya, aku mengangkat kepalaku dan memandangnya. Lio menutup pintu mobilnya dan menyandarkan punggungnya. Tak lama ia tertawa sinis dan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Ia kembali menatapku kembali dari samping, “kamu pikir maaf kamu itu bisa ngembaliin apa yang udah terjadi apa? Kamu pikir maaf kamu itu bisa ngebuat aku sama Clay gak jadi tunangan dan gak nikah, apa? Hah?” Tanyanya dengan nada yang lebih tenang dari sebelumnya.

Aku menurunkan kedua tanganku ke samping tubuhku, dan menaruh tatapanku jatuh ke tanah. “Maksudku bukan itu juga sih. Maksud aku, aku minta maaf karena udah bilang kamu ngambek dan kaya anak kecil.” Kataku sambil menendang kecil batu-batu yang tak jauh berada di dekat kakiku dan mengalihkan pandanganku. Kemudian aku menatapnya kembali.

Lio langsung membenarkan posisi tubuhnya berdiri, sambil berdeham dan merapikan rambutnya yang sama sekali tak berantakan. Kemudian ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana miliknya, “oh, aku pikir tadi kamu mau minta maaf masalah itu.” Lio kembali berdeham dan menatapku.

Aku hanya tertawa sekadarnya sambil menggeleng.

“Ya udah, kalau gitu. Aku mau pulang aja sekarang. Minggir!” Katanya sambil mencoba membuka pintu mobilnya.

“Ih, jangan dong.” Kataku sambil bergeser tepat di depan pintu mobilnya, mencoba menghadang niatnya untuk pergi.

“Mau kamu apa?”

“Mau aku? hmm… sekarang kamu kembali ke lokasi pemotretan dan lanjutin sesi berikutnya. Ya? Please.” Pintaku dengan wajah memelas.

“Eng-gak-ma-u! Minggir!” Jawabnya singkat sambil mencoba menggeser tubuhku dari depan pintu mobilnya.

Jawaban Lio kembali menarik urat-uratku ke wajah, membuatku mengepalkan tangan. “Salah gak kalo aku sekarang bilang kamu-kaya-anak-kecil?!” kataku sambil mengangkat kedua tanganku ke atas pinggang, dan mengarahkan wajahku ke arahnya.

Lio yang melihat sikapku, bukannya merasa takut ia malah makin mendekatkan wajahnya ke wajahku. Tidak, bibirnya ke bibirku lebih tepatnya. Melihat reaksinya, aku langsung melangkah mundur. Lio langsung menarik pundakku dan menyenderkannya kembali ke sisi mobil dengan cepat. Dengan cepat pula bibirnya sudah menyentuh bibirku. Semakin kuat aku mencoba menolak, semakin kuat pula Lio mengunci tubuhku ke dalam ciumannya.

Tidak Lio, apa yang kau lakukan? Kumohon, jangan hancurkan pertahananku selama ini lagi, dengan ciumanmu. Tidak Lio, tidak. Hentikan waktu kumohon, biarkan seperti ini selama yang kita bisa. Jangan lepaskan aku…

Apa?

“Lio!!!”

Aku dan Lio sontak terkejut mendengar nama Lio diteriaki tak jauh dari tempat kami berdua, dan lebih terkejut lagi ketika melihat pemilik dari suara itu.

“Mami?” Ucap Lio pelan.

“Clay?” Ucapku pelan dengan mata yang terbelalak, ketika melihatnya berdiri di samping maminya Lio. Tidak, bukan hanya ada Clay dan maminya Lio. Ada asistennya, tim manajemen, penata rias, tim wardrobe dan tim fotografer; okay, semuanya berada di sana. Menyaksikan kami berciuman.

Bagus sekali, Nad. Bagus sekali. Selamat atas gelar barumu, “Nadia – sang wedding organizer yang merebut pasangan kliennya sendiri” oh tidak, ada yang lebih baik lagi, “Nadia – sang sahabat yang tega merebut tunangan sahabatnya sendiri.” Good job, Nad. Good job!

Seketika aku langsung mendorong tubuh Lio menjauh. “Clay… aku bisa jelasin semuanya.” Kataku dengan mata masih terbelalak.

No, it is okay, Nad.” Ucapnya singkat sambil tersenyum ke arahku.

Oh, tidak. Mati kau, Nad. Clay marah besar, kau tahu itu!

“Nak,” Maminya Clay langsung terbata-bata berbicara kepada Clay, “mami minta maaf. Engg, hmm, Nadia itu emang udah lama naksir sama Lio. Makanya dia ngegoda Lio sampe segitunya. Jangan…”

“Cukup, mi! Lio selalu terima ya, atas semua yang mami minta. Dari hal kecil sampe ke pernikahan ini. Tapi Lio gak akan terima kalo sampe mami ngatain Nadia kaya gitu!” Tegas Lio memotong pembicaraan maminya dengan Clay.

“Lio… udah, gak apa-apa. Udah.” Pintaku sambil menahan dadanya mencoba menenangkannya. “Mami kamu benar. Aku yang memang ngegoda kamu, aku yang salah. Udah ya? Udah, cukup.” Kataku sambil menahan tangisku.

“Enggak! Mi, aku enggak mencintai Clay, dan aku gak akan menikahi Clay! Satu-satunya perempuan yang aku cintai dan yang ingin aku nikahi itu cuma Nadia! Selama ini cuma Nadia! Dan untuk yang terakhir kalinya aku tegaskan, aku gak mau pernikahan ini!”Tegasnya lagi dengan nada yang semakin meninggi.

“Lio, cukup!” Tegasku lagi. Mataku akhirnya tak lagi sanggup menahan air mataku sendiri. “cukup Lio, cukup” isakku kemudian.

“Aku juga tak menginginkan pernikahan ini.” Tiba-tiba saja Clay membuka suara. Ia yang tadinya tertunduk, mengangkat wajahnya sambil tersenyum. “Aku mencintai orang lain. Aku dan Alfa saling mencintai, lebih tepatnya. Untuk apa pernikahan ini, jika kita saling mencintai orang lain, Lio?” Air matanya mulai berjatuhan masih dengan senyumnya yang mengembang. “Oh, aku minta maaf. Kalau pernikahan ini harus ada hanya karena orangtua kita berteman baik, bukan? Benar begitu kan, mami?” Clay menatap mami yang tertunduk lemas,  “Oh, ya, tentu saja. Pernikahan ini juga harus ada hanya karena untuk keperluan pengalihan gosip dan pencitraan yang baik. Jika seorang Clay-sang-su-per-star menikah dengan seorang eksekutif muda yang sukses dengan bisnisnya di mana-mana, tentu saja itu akan menjadi pencitraan yang baik, bukan? daripada digosipkan jatuh cinta dengan personil boyband yang bukan hanya sudah tak laku lagi tapi juga masih berstatus suami orang. Benar begitu kan, mas Andil? Sang-penanggung-jawab-yang-merasa-punya-andil dari seorang Clara Lawrance de Bach – seorang gadis yang hanya menginginkan cinta dan hidup yang lebih sederhana, dan bukan kesempurnaan yang diatur hanya karena masih terikat kontrak.” Lanjutnya sambil menatap mas Andil dengan air matanya. “Clay mungkin masih terikat kontrak, mas. Clay paham betul kok. Tapi bukan berarti tim manajemen harus mengatur hidup Clay, bahkan sampai mengatur siapa yang akan Clay habiskan seumur hidupnya Clay, kan?” Lanjutnya kemudian dengan sedikit terisak.

“Clay!” Bentak mas Andil dengan kerasnya.

“Clay mencintai Alfa, mas. Bukan Lio, atau siapapun. Clay gak akan mau menyesal menikahi, dan terlebih, menghabiskan hidup Clay bersama orang yang sama sekali gak Clay cintai dan mencintai Clay. Clay lebih baik dituntut sama manajemen karena melanggar kontrak, daripada menyesal seumur hidup karena pernikahan ini dan mengorbankan anak di dalam kandungan Clay ini.” Ucap Clay dengan air mata yang membasahi senyumnya dan kemudian mengelus pelan perutnya.

Maminya Lio yang terkejut mendengar ucapan terakhir Clay langsung menatap Clay dengan tatapan tak percaya, “Apa?”

PLAK!

Tamparan keras dari tangan maminya Lio langsung membuat wajah Clay merah. Clay langsung mengarahkan kembali wajahnya ke arah maminya Lio sambil tersenyum.

Clay? Apa semua ini alasanmu terlihat sangat tertekan selama ini?

“Clay minta maaf ya, mi.” Clay menggenggam tangan maminya Clay. “Clay terpaksa membohongi mami dan kalian semua. Clay minta maaf karena gak bisa melanjutkan rencana pernikahan ini.”

Maminya Lio yang sudah dipenuhi dengan amarah melepaskan genggaman Clay dan tanpa bicara lebih banyak lagi, ia pun akhirnya beranjak pergi meninggalkan Clay yang tertunduk dengan air mata yang membasahi pipinya. Diikuti oleh asisten pribadi miliknya, maminya Lio akhirnya masuk ke dalam mobil dan melaju dengan cepat. Tak lama kemudian, mas Andil beserta tim manajemennya pun ikut beranjak pergi, dengan tatapan tak percaya dengan apa yang sudah dilakukan oleh Clay.

“Lio, mami…” Kataku pelan.

“Udah biarin aja. Nanti juga mami reda sendiri.”

“Tapi kan…”

“Bisa gak, sekali ini… aja, kamu percaya kalau aku yang mimpin jalan ke depan; dan bukan isi pikiranmu yang selalu berpikir macam-macam? Tidak semua yang kamu pikir itu benar, bisa aja semua itu hanya kecemasan kamu aja. Kenapa kamu harus maksa menciptakan kebahagiaan buat orang lain? Padahal itu bukan tugas kamu, itu tugas Tuhan. Kebahagiaan aku itu bukan pernikahan ini, Nad, tapi kamu. ”

Aku tertunduk dan tak tahu lagi harus berkata apa. Barangkali Lio benar. Cemasku sering kali mengecoh isi kepalaku sendiri; hingga kerap mengartikan banyak pertanda sebagai tanda bahaya. Barangkali, mengikhlaskan segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendak Illahi, ialah sebaik-baiknya yang kulakukan, ketika langkahku tak sanggup lagi dipaksa berlari. Dan saat ini, mempercayakan langkah kepada laki-laki yang kucintai untuk mengambil kendali, ialah yang terbaik.

Tak lama kemudian, Clay berjalan menuju ke arahku dan Lio, ia tersenyum dan memelukku. “Kamu beruntung, Nad. Lio laki-laki yang baik, ia bahkan berani memperjuangkan cintanya kembali sama kamu, meski sudah sejauh ini berjalan menjauh.” Bisiknya.

Apa? Aku?… yang beruntung?

Clay akhirnya melepaskan pelukannya dan menatap aku dan Lio secara bergantian dengan senyum haru. “Terima kasih ya? Kalian tuh secara gak langsung ngajarin aku, kalo cinta itu memang sudah seharusnya disuarakan. Kalo cinta itu memang tak seharusnya mendengar apa kata orang. Kalo cinta itu, memang sudah seharusnya diperjuangkan. Aku gak akan mau menyesal untuk yang kedua kalinya, terlebih menyesal seumur hidupku; hanya karena tak melakukan hal yang selama ini aku takutkan. Memperjuangkan cinta, dan kehilangan pekerjaanku. Aku sadar, aku lebih baik kehilangan pekerjaanku, daripada kehilangan cinta yang begitu tulus mencintaiku dan tentu saja, cinta yang kucintai. Alfa dan anak kami.” Ucap Clay sambil mengelus lembut perutnya yang sama sekali belum terlihat buncit. Clay menghela napasnya dan mengangkat kepalanya ke atas sebentar sebelum akhirnya tersenyum ke arahku dan Lio. “Aku pamit dulu ya? Aku gak mau kehilangan lebih banyak waktu lagi bersama Alfa. Dan aku rasa, ini saatnya buat kami berjuang bersama.” Ucapnya.

Aku hanya mengangguk pelan. Clay kemudian mencium kedua pipiku dan beranjak pergi menuju mobilnya. Ia tak henti-hentinya tersenyum dan melambai ke arah kami, hingga akhirnya mobilnya tak lagi terlihat dari tempat kami berdiri.

“Mbak Nad, kami pamit dulu ya?” Panggil Tara dari kejauhan, ia tersenyum kemudian. “Good luck sama mas Lio ya. Jangan lupa, sewa timku lagi buat pernikahan kalian nanti, ya. Hahaha.”

“Nad, gue pamit juga sekalian ya, gue kan bareng Tara soalnya. Lo balik sama Lio kan? Daag!” ucapnya sambil melambai dan dengan cepat masuk ke dalam mobil Tara.

“Eh, Lid! Tapi kan gue…”

Tiba-tiba saja Lio sudah mengulurkan tangan kanannya kepadaku, “go home. Shall we?” Pintanya.  Melihat juluran tangan Lio, membuatku tersipu malu menaruh tangan kiriku di atas tangannya. Lio mennggenggam tanganku dan mengantarkanku ke pintu mobilnya yang berada di seberang kami berdiri tadi. Kemudian Lio segera membuka pintu mobilnya dengan tangan kiri dan tersenyum kepadaku, “let’s get married, shall we?”

“Ih, apaan sih kamu!” ucapku sambil menapik tangannya kemudian, dan langsung menaruh tubuhku di kursi samping kemudi mobilnya sambil tersenyum malu. Lio hanya tertawa kecil sambil menutup pintu mobilnya. Tak lama kemudian, ia pun masuk dan duduk di samping kursiku.

Ia menatap ke arahku beberapa saat hingga membuatku menatapnya juga. “Aku serius. Menikahlah denganku.”

Ucapannya membuat bulu kudukku berdiri dan pipiku bersemu merah. Napas dan waktu seketika berhenti saat itu. Kugigit bibir bawahku sambil tetap menatapnya, “kamu ngelamar aku?” kataku bertanya dengan bodohnya. Lio mengangguk pelan. “Kamu tuh ya. Gak bisa lebih romantis lagi apa? Masa ngelamar aku caranya kaya gitu sih. Di mobil pula. Ish!”

“Loh, ini kan udah romantis. Di hutan pinus, pukul 11 lewat 11 menit pula,” katanya sambil menunjuk jam yang berada di mobilnya. Aku hanya tertawa dan menutup mulutku. Menutup kecanggunganku, lebih tepatnya.”Okay, aku akan ngelamar kamu secara resmi. Tapi jangan harap akan ada bunga atau hal-hal manis seperti yang kamu tonton di film-film itu. Kamu tahu kan, aku ini bukan tipe laki-laki romantis, aku ini laki-laki yang serius. Serius mau menikahi kamu.” Ucapnya sambil menatapku sebelum akhirnya ia menghidupkan mesin mobilnya dan pendingin udara.

Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya.

“Eh, parkiran udah kosong aja ya? Mereka udah balik semua ya?” Tanyanya sambil melihat ke arah luar jendela.

“Udah kayanya.” Kataku sambil ikut melihat ke sekitar mobil ini. “Kenapa emangnya?”

Lio tak menjawab pertanyaanku. Ia malah membuka swallow-tailed coat yang ia kenakan, yang kemudian dilanjutkan dengan membuka waistcoat yang melingkari tubuhnya. Kemudian Lio menaruhnya di kursi belakang dan membuat tubuhnya semakin dekat denganku, hingga bisa kucium aroma parfum yang bercampur dengan aroma tubuhnya yang maskulin

Melihat tubuh Lio sedekat itu, membuat tubuhku secara serta merta mundur dan kemudian menyilangkan kedua tanganku di depan dadaku. “Kamu mau ngapain?” Tanyaku curiga.

Lio yang melihat reaksiku bukannya menjawab dan membenarkan posisi duduknya, ia malah membuka kancing kemejanya. “Aku mau ngelanjutin yang tadi.”

Mendengar ucapannya tubuhku semakin mundur hingga ke pintu samping mobil. Lio yang melihatku seperti itu langsung tertawa dan menaruh kedua tangannya di atas kemudi. “Maksud aku, ngelanjutin yang tadi itu ya rencana kita pulang. Kamu ngapain ketakutan gitu? Hahahaha.”

Aku langsung berdahem dan membenarkan posisiku.“Ya, kamu abisan deket-deket kaya gitu.” Kataku kemudian sambil merapikan poni yang jatuh ke wajahku. Lio masih saja terpingkal-pingkal melihatku. “Ya, udah. Kita jadi pulang gak sih? Atau gak aku…”

“Atau gak apa? Kamu mau pulang sendiri? Kamu pikir di sini ada kendaraan umum yang lewat apa? Hahahaha.” Potongnya kemudian.

“Ya enggak sih. Abisan kamu ketawa terus. Aku kan…“

Lio kemudian berhenti tertawa dan langsung menyodorkan tubuhnya ke arahku kembali, membuatku seketika saja menutup mulut dan mataku. “Gitu aja ngambek. Katanya mau pulang, tapi malah gak pake seat belt.” Kudengar bunyi besi terpasang dari arah kiri bawahku. Kuintip asal dari suara itu, dan ternyata Lio telah memasangkan seat belt milikku. Kubuka pelan-pelan kedua mataku dan melihat ke arah Lio.

Lio masih menatapku tanpa ekspresi, “apa? Kamu takut dicium lagi sama aku ya?”

Aku hanya tersenyum sekadarnya menjawab pertanyaannya.

Lio mulai mendekatkan tubuhnya lagi kepadaku. “Kalo aku pengen nyium kamu lagi, boleh gak?”

Astaga, Lio! Pertanyaan macam apa itu? Err, bisa gak sih kamu langsung nyium aku aja tanpa pertanyaan semacam itu? Err. Kaya gini kan malah bikin aku tambah grogi! Kututup kedua mataku dan menghela napasku dengan sedikit berat.

“Aku artikan iya.” Katanya kemudian. Tepat ketika aku mencoba membuka mata, bibir Lio sudah menyentuh bibir bawahku.

Oh my God! Oh my God! Oh my God!

Ada yang berbeda dengan ciuman kali ini, bukan karena rasa mint dari lidahnya, bukan juga karena rasa coklat dari pemulas bibirku; tapi karena ciuman kami kali ini, tak memerlukan kecemasan yang biasanya membatasi segala ingin. Lio menciumi bibirku dengan sangat lembut, begitu lembut hingga membuatku ingin semakin dalam dan membiarkan tubuhku larut, ketika tangan kirinya menyelusuk masuk ke belakang leherku, melalui rambutku yang menutupi wajah, sedang tangan kanannya mendorong tubuhku merapat dengan tubuhnya. Begitu rapat, hingga bisa kurasakan jantung Lio semaking berdetak kencang, serupa detak milikku. Jika saja kumampu, aku ingin sekali membekukan waktu.

Entah berapa lama waktu yang kami habiskan untuk ciuman ini, akhirnya Lio melepaskan ciumannya dan memandang kedua mataku, sebelum akhirnya ia kembali mengecup bibirku dengan sangat lembut dan lama. Setelah Lio melepaskan ciumannya, ia mengecup lembut keningku dan kemudian memandang wajahku. “Wajah kamu kok merah?” Ucapnya sambil memegang wajahku dengan kedua tangannya. “Kenapa? Enak ya? Mau lagi?” Tanyanya usil.

“Ish! Apaan sih. Udah sana, sana! Nyetir yang bener!” Kataku sambil mendorong tubuhnya menjauh. Lio langsung tertawa sambil membenarkan posisi duduknya dan dengan segera melajukan mobilnya.

Tak beberapa lama kemudian, Lio memutarkan sebuah lagu yang tak asing di telingaku. “Kamu ingat lagu ini?” Tanyanya sambil melihat ke arahku.

See the sunrise

Know it’s time for us to pack up all the past

And find what truly lasts

If everything has been written down, so why worry, we say

It’s you and me with a little left of sanity

If life is ever changing, so why worry, we say

It’s still you and I with silly smile as we wave goodbye

                “Lagu yang selalu kamu paksa buat aku dengerin terus. Hahaha.” Sambungnya lagi sambil sesekali melihat ke arahku. Aku hanya tersenyum dan terlarut dalam lirik yang dinyanyikan oleh penulis kesukaanku.

And how will it be? Sometimes we just can’t see

A neighbor, a lover, a joker

Or a friend you can count on forever?

How tragic, how happy, how sorry?

The sun’s still up and life remains a mystery

So, would it be nice to sit back in silence?

Despite all the wisdom and the fantasies

Having you close to my heart as I say a little grace

 Kusandarkan tubuh dan kepalaku menghadap ke arah Lio. “I’m thankful for this moment, cause I know that you grow a day older and see how this sentimental fool can be. I love you.” Kunyanyikan potongan lirik dari lagu yang kami dengarkan. Lio melihatku ke arahku, kemudian ia langsung menarik tangan kiriku dengan tangan kanannya dan diciumnya punggung tanganku. Lalu, ia menaruh tanganku  di dekat persneling dan menggenggamnya sambil sesekali tersenyum dan melihat ke arahku.

“If everything has been written down, so why worry, we say. It’s you and me with a little left of sanity.” Ucapnya kemudian melanjutkan potongan terakhir lirik lagu itu tanpa nada, yang membuat kami mengembangkan senyum penuh haru menyetujui kalimat terakhir di lagu tersebut.

Lio mengembalikan fokusnya pada jalan,sedang aku hanya mampu menatapnya dari samping. Bisa kulihat pohon-pohon pinus yang begitu cepat terlewati di belakang sosok Lio, seakan-akan pohon-pohon itu adalah masalah yang terjadi di antara kami. Jika melihatnya satu persatu, tentu saja terlihat banyak dan perjalanan akan terasa lebih jauh lagi; karena hanya terfokus pada masing-masing pohon, dan bukan tujuan kami sebenarnya. Namun, semakin cepat dan semakin lama, pohon-pohon yang ada bahkan tak terlihat lagi. Barangkali, perjalanan kami pun masih begitu jauh; tapi dengan kami saling mengeratkan genggaman, sebanyak apapun pohon pinus yang ada atau sejauh apapun perjalanan kami di depan; tak kan berarti apa-apa, sebab bersama selama yang ada, ialah satu-satunya tujuan.

Barangkali, perjalanan kita masih begitu jauh, Lio. Perjuangan kita pun masih akan begitu sangat panjang. Aku tak lagi peduli. Sekarang aku mengerti, bahwa beberapa hal memang sudah seharusnya berakhir, untuk akhirnya kembali lahir –meskipun segala lahir sudah ditakdirkan kelak berakhir, kuharap kau dan aku hanya kan berakhir ketika napas kita saling terhenti dan kembali terlahir di surgaNya nanti.

Terima kasih, Lio. Terima kasih untuk tetap kembali, tak peduli kulepaskan berkali-kali. Terima kasih untuk tak menyerah, meski segalanya terlihat tak mungkin. Dan terima kasih, untuk cinta yang tak mengenal akhir. Aku mencintaimu, kemarin, kini, dan jutaan nanti.

 

Source Image: tumblr.com

Source Image: tumblr.com