sajak-sajak berlompat-lompat serupa anak domba
menghitung dirinya hingga bulan terlelap
sebelum akhirnya leher tergantung menjadi pertanyaan-pertanyaan
puisiku hanya serupa remang malam di kafe-kafe murahan

kemudian aku kan melukis bintang
serupa binatang-binatang dalam buku gambar
menjadikan mereka kera atau gajah bercula empat di tengah pasar
hingga asing menjadi langkah
hingga asin tak serupa air mata

“tak ada lagi tempat. pergilah ke neraka!” dinding kamarku berseruan
mendapati luka tak henti-hentinya kugoreskan pada lidah yang tertutup rapat
lantaipun menolak gravitasi isi kepala
;yang tercecer sebab keraguan
pada norma rumah yang tak terawat
dadaku menyanyikan lagu kematian

tak ada lagi pena ataupun kuas
sebagai sarana pemuas keinginan yang mati muda
hanya ada aku dan tanda tanya
menikmati napas di dalam keranda

jika kelak kau bertanya,

ke mana perginya detak yang tak sempurna berwarna?

atau di mana makam perasaanku yang terlahir tanpa nama?
aku kan menjawab,

langkahnya telah lama patah, usiapun tak mampu membunuhnya

ia masih di detak yang sama;

rumah yang kau tinggalkan.