kau ialah pagi pada malam bulan keempat, yang kupikir telah tandas pada dingin cangkir tehku yang berusia. padamu, kusaksikan hijau di lahan gersang –menjelma tawa dan nyanyian ayat-ayatNya. seandainya bisa, kulipat dan kusimpan tatap mata di kali pertama sepanjang ingin Tuhan; namun,
kapalmu kerap berlayar sebelum matahari kupeluk dalam pangkuan
membuatku mencarimu dalam jarum jam
atau isi kepala

maka kubiarkan segala yang kau tuju memilikimu. berlayarlah, sejauh yang kau mampu. berlayarlah, meski ombak merayumu tuk bersatu. berlayarlah, hingga di akhir labuhmu hanya berotasi padaku.

kelak, jika jam dindingmu tak lagi melahirkan makna, kan kukirimkan sepotong senja dengan aroma pantai yang kau rindukan. dengan harapan yang mampu kau leburkan bersama samudra. barangkali di sana, tuan, kecemasan kan merenggang nyawa di hitungan kedua. kayuh kembali perahumu, dalam bias rasa takut paling laut.

dalam dekapNya, kau berada
melalui doa-doa yang melupa rasa lelah
menjagamu di tiap langkah

tak usah kau lempar dadu, menghitung kemungkinan dalam bising yang tak kau namakan. percayalah, Tuhan begitu mencintaimu
melalui aku –perempuan dalam ingatan yang terlupa.

image

Tulisan ini didedikasikan kepada R.A.F

Selamat bertambah usia,
Semoga Allah melindungimu dalam berkahNya.
Aamiin.