image

kita tak ubahnya serupa kereta tua, yang diwarna berulang demi memanjakan isi kepala dan mata. tak peduli sehebat apa kala usia masih dalam hitungan, waktu selalu dapat melumpuhkan apa-apa yang pernah dibanggakan.

kita ialah kereta tua pada kelas menengah ke bawah, dengan mesin yang tak lagi muda, namun berharap membantu mereka yang menahan rasa lapar demi mencapai tujuan, atau setidaknya menjadi ingatan panjang bagi siapapun yang hanya ingin menukar malam dengan isi celana mereka.

kita kan terus menaruh kepala di depan, melupa bahwa warna hanya mengubah karat menjadi tak terlihat –bukan mengubah mesin yang perlahan merenta sebab putaran jam dan luka yang kerap dibiarkan ada. pada stasiun di mana lampu-lampu telah dimatikan, akhirnya langkah kita terhenti sebab kesedihan-kesedihan yang tak juga menua. kita menjadi penyebab utama amarah mereka –manusia dengan masing-masing keinginan, yang tak peduli kecemasan kerap mengubah diri menjadi hujan tak berkesudahan di dada kita–, sebab air mata kita hanya menjadi penunda atas keinginan di ujung telunjuk mereka. terkadang mereka lupa, kita ialah perjalanan yang tak mampu mereka gantikan dengan selembar uang, dan dicerca dengan mudah ketika tujuan mereka diubah paksa; sebab kita pernah dinantikan tiba, ketika hati mereka terlunta.

kemudian berbagai upaya dilakukan untuk melunakan duka; dengan atau tanpa bantuan, toh pada akhirnya kita harus membawa segala yang ikut serta ke stasiun di mana di detik berikutnya, kita hanya menjadi kenangan yang ingin dihapus segera.

kita hanyalah kereta tua;
yang pernah begitu dinantikan, untuk kemudian dilupakan.

barangkali kita hanya punya dua pilihan;
melaju hingga mesin tak lagi berfungsi apa-apa, atau mematikan langkah dan menjadi bagian ingatan yang terlupa.