image

Selalu ada satu waktu, di mana dadamu terlalu bergemuruh sedang kau tersesat di kepala. Menutup mata seakan tak ada lagi jalan, mematahkan usia di pekat langkah; sebab hujan di mata tak lagi mengenal napas. Yang hanya kau tahu ialah, kematian hanya sebatas jengkal.

Kau selalu merasa, bahwa duka hanya milikmu seorang, dan tak pernah berhak meski hanya sesesap tawa. Bahagia bagimu telah mati muda di hari yang sudah. Sebab, darah telah terpecah di nama Tuhan yang beda, dan rumah -yang kerap kau rindukan- tak pernah terasa pulang; sebab cinta yang melupa padam telah abadi dalam doa, terabaikan dalam langkah kepergian, dan tak mampu hidup di jiwa selain ia.

Mereka mencerca dan melepas, seakan perjalanan tak berharga dalam ingatan.
Bukan nominal yang kau perlukan, hanya sebatas genggaman untuk sebuah perjuangan; sebab kakimu tak pernah melayu untuk menyatukan apa yang sejatinya retak, namun kau hanya sebatas jelaga di tengah kota. Dekapmu tak pernah melelapkan duka seseorang, sebab kaulah keinginan yang tak terdengar; dan kau memotong lidah kata-kata, sebelum mereka dilahirkan.

Betapa kau ingin malam menancapkan belati di dada, hingga esok tak lagi ada; namun kau malah membunuh segala upaya, sebab kau harus tetap bernapas untuk menyelesaikan peran, sebab tujuan tak usai dengan menutup usia, sebab kau percaya Tuhan tak pernah menutup mata.

Dalam dzikir kau sebut namaNya,
menyulam temali dalam doa;
agar Tuhan melunakkan hati yang mengeras akan kebenaran,
agar Tuhan memadamkan keinginan yang ganjil pada keseharusan
agar Tuhan menyelamatkan mereka yang kau cinta.

Kemudian,
Apa kau berpikir?
Bahwa barangkali, kaulah yang perlu diselamatkan dalam doa?