image

iDigraw by iitsibarani

Kulihat kau mengumpulkan kepak malam di wajah, menyimpul luka-luka dengan tatap hitam yang berdiam. Ada sayap yang kau patahkan di sela ikatan; yang terlepas sebab gema hatimu terlahir untuk binasa. Pekat sungguh pandai mendekapmu, menarikmu dalam ramai peluang, dan mengabadikan diri pada hati yang mendekap rahasia-rahasia. Ini bukan kali pertama, utuh cintamu tak pernah cukup bagi bintang yang mencintai kegelapan; yang kau tunggu namun tak pernah dinantikan. Namun doa-doamu masih saja deras untuk dilantangkan, sebab percaya, sebaik–baiknya mencintai ialah melalui Tuhan.

Berhentilah, wahai perempuan.
Darah di jantungmu belum berjeda. Biarkan ia yang kau cinta, tumbuh menuju cahaya yang ia terka. Sungguh kutahu, betapa pertanyaan-pertanyaan kau teriakan dalam kebisuan; menyihirnya dalam tungku goresan, untuk kemudian dijadikan lelucon oleh waktu yang lewat. Kau mencintai diam, seperti ia yang tak mampu melepas cintanya di balik samudra. Lalu, adakah adamu melapangkan dendam yang menggenggam hatinya? Jika kau benar mencintainya, biarkan doamu menjadi lentera untuknya; meski kelak, ia tak pernah menjadikanmu pulang.

Wahai perempuanku,
Sungguh ingin kupeluk dirimu lebih lama dari tahun-tahun yang sudah. Hujanmu kerap datang, membatu pada dingin ombak, dan aku selalu kehabisan napas; untuk memanusiakan jiwamu yang bayang. Bukan hanya sekali kau benturkan kepala, mencoba mengeluarkan isinya untuk kau pilah, namun tandas kekerapan di cemas berkepanjangan. Usia mulai usai, dan hutangmu tak kunjung sudah. Inginmu kerap memorakporandakan tujuan, hingga membuat langkahmu terdiam. Adakah ketakutan yang lebih menakutkan dari rasa takut itu sendiri? Jika iya, redam gelisahmu dengan percaya bahwa makna selalu ada dalam kehadiran; dan Tuhan memberimu kesempatan untuk menyampaikan arti sebuah kehidupan.

Kepada perempuan yang menyelipkan doa di balik jendela,
adakah senyap yang begitu indah, hingga kau menyelimuti duka dengan bersujud lebih lama? Bukan matahari tak menari di hulu hari yang padam, namun kau tutup sela rumah dengan hujan yang tak menua. Barangkali, bukan mereka atau ia yang butuh pelukan dari tulus pinta seorang hamba, namun kau yang butuh diseka matanya, agar tak lagi berjalan di tempat.

Percayalah, betapa kupaham, kabut melayukan kayu di rumah. Aku tahu kau tahu, genggaman tak selamanya menyelamatkan apa yang sejatinya retak. Namun memutuskan urat nadi tak kan membuat beda menjadi sama, ia tetap menjadi garis di batas keinginanan. Bisakah kita tetap saling menjawat kekhawatiran, meski dengan kematian yang berulang; hingga Tuhan meminta lepas?

Tahun baru telah tiba, berkurang satu umur yang tersisa.
Kuharap kesempatan tak lagi kau lelapkan dalam gulita, dan inginmu bukan hanya bunga tidur yang terlupakan. Kau pantas bahagia, meski rupamu tak pantas bersanding dengan bintang. Lukislah cakrawala yang bermuram-durja dengan banyak doa, barangkali, kau ialah fajar di cuaca paling hitam; yang kunanti untuk kembali berkobar.
Jika ada yang mematahkan langkahnya sebab kau belum sampai tujuan, rajutlah lebih banyak sabar; mereka hanya tak tahu, bagaimana kau berjalan dengan kaki yang melayu dan hati membeku, namun tetap melanjutkan hidup; mereka hanya tak tahu, harga mati sebuah upaya bertahan, meski kerapnya dibunuh dalam pengabaian; mereka hanya tak tahu, untuk bisa berada di hadapan, kau berulang tak bernyawa.

Kau adalah indah yang kulewatkan,
jika tak ada yang mencintaimu,
biarkan aku saja.