asing-yang-kekal

sumber: https://www.foap.com

Di antara jarak yang tak surut, ada kisah yang terkubur. Perihal nyeri di antara buku-buku; yang enggan kau baca pun kau sentuh. Ke pada (si)apa, hatimu hanyut? Pada kayu-kayu yang kau bakar di setiap helai rambutku? Atau pada sinar yang kau genggam semu? Sementara keterasingan dengan fasih kita pintal satu persatu; adakah sedikit detakmu tersisa untuk sebuah rindu? Malam telah mencaciku berulang, meminta daun di belakang telinga untuk membisu pada gundah. Dan kau tak jua bergegas pulang, pada pintu yang tak kau kenal lagi namanya.

Seharusnya, tak kau biarkan belati yang menghujam dadaku membuatmu terluka. Bukankah kematianku ialah bahagia yang kau upayakan? Tuhan mungkin akan murka, sebab aku masih mencintaimu meski kau menginginkan jiwaku tak lagi berusia.

Di sini, aku masih menatap redup; pada peristiwa-peristiwa yang kau gores dengan hasrat yang menggebu. Dan aku tak lagi tahu, sejauh apa kau menghilang dalam rahasia-rahasia samudra. Ingin sekali kupasung hari-hari yang menggelantung di gelapnya tanya, lewat notasi yang hilang di antara kata-kata; sebab makna tak lagi berwarna, sejak gulita kau jadikan mahkota.

Aku membasuh jejakmu dengan air mata, di mana takdir terkadang menamparku dengan latah. Sebab, namamu tak jua lekas dari doa –yang kubacakan di figura-figura lama. Jika kelak tak kau lihat aku di antara jendela, barangkali, telah habis gerimis di kedua mata –yang diseka hangat oleh pagi yang nyata. Pada episode ini, mungkin wajahmu ialah asing yang kekal –yang tak kan lagi kuberi ruang di ingatan.

 

Barangkali, inginku ialah apa yang kau sebut sia-sia;

Maka demikian, kisah ini menjadi sudah.