Tags

Teruntukmu Tuan,

Kau tak pernah tahu, berapa kali hati saya berdecak kagum atas pesonamu. Memandangmu dari jauh, dan mencintaimu semakin utuh. Saya memang bukan perempuan yang kau nikahai untuk seluruh hidupmu, tapi saya yakin betul, kepada sayalah cintamu tak kan luruh.

Ketahuilah, tuan, bagaimana hujan berjatuhan tak hentinya di sela doa; ketika melihatmu menggigil tak karuan. Kau enggan menggeluh untuk banyak perihal, “saya baik-baik saja,” selalu itu yang kau katakan. Dan saya akan memeluk cemasmu dalam doa beralas sajadah, meski kau lebih banyak menggadu kepadaNya di gereja.

Tuan, percayalah. Saya mencintaimu lebih dari laki-laki manapun yang pernah ada. Air matamu ialah neraka yang meremukkan hati saya, sebab itu tawa ialah salah satu cara meredakan cemasmu yang tak henti-hentinya. Saya paham betul, badai semacam apa yang ada di kepalamu, tuan. Dan kau paham betul, betapa runtuhnya dunia saya, ketika tawamu mulai meredup dari permukaan. Sebab itu kau mengerahkan segala agar kakimu kembali berdiri tegap, hingga saya yakin kau akan selalu baik-baik saja.

Tuan, kita serupa daratan dan samudra. Hidup di bawah langit yang sama, meski berbeda tujuan. Kita ialah ketakutan bagi masing-masing kepala. Mencoba menjadi manusia pelupa, yang enggan mengingat perihal nama Tuhan kita yang beda; yang kapan saja dapat melepaskan genggaman kita. Kita saling mencinta, meski dengan cara berbeda.

Kita pernah saling mencaci, meski saling mencintai. Bukan hanya sekali saya memaksakan kaki berlari, mencoba melupakan apa-apa yang pernah dan segala kemungkinan terburuk yang kelak terjadi. Kau pun pernah mencoba beranjak pergi, ketika apa yang kerap kita dustai, mencekik lehermu sendiri. Tahukah kau tuan, butuh waktu puluhan musim untuk saya sadari; bahwa berlari bukanlah cara terbaik untuk mencintai, meski dengan alasan untuk kebaikan masing-masing.

Kita pernah hancur hingga lebur. Kita pun pernah utuh, meski harus membutakan mata dengan tawa yang berseru. Mencoba melupakan beda tak seburuk itu, dan itulah yang kerap kita harap; meski kita tahu, selamanya hanyalah kata-kata dalam kamus.

Jagalah kesehatanmu baik-baik, tuan. Waktu akan terus menggerus usia kita, bukankah kau pun ingin melihat bahagia memeluk saya, suatu kelak? Terima kasih untuk tetap hidup, di sela kesakitan-kesakitanmu yang berkepanjangan. Terima kasih untuk melumpuhkan langkah, ketika beda mencekik masing-masing leher kita.

Berjanjilah untuk merawat usia, hingga saya menuntaskan list panjang perihal membahagiakanmu kelak. Dan saya pun berjanji; meski cincin Tuhan melingkar di jemari, kau ialah satu-satunya lelaki, yang namanya tak kan pernah lekas dalam doa yang selalu saya cintai. Kau ialah cinta pertama yang enggan saya akhiri.

Berjanjilah untuk saling bertahan hingga saat itu tiba; di mana segala beda menjadi satu-satunya alasan untuk kita tetap bersama, bukan berpisah.

Tertanda,

perempuan yang lahir dari rahim seorang puan, yang kau ikat dengan janji suci.

IMG_2287