Tags



di penghujung tahun yang lembab, perempuan itu masih menyelimuti diri dengan banyak bunga, mewarnai diri dengan pecahan merah muda; berharap di ujung jalan ia dihadiahi kejutan yang ia rupa-rupa. tak ada hari yang tak ia coba lunakan dengan segala pemakluman, memahami kesalahan dengan pertanda bahwa kita ialah manusia, meski pada nyatanya ia tertusuk pada jahitan luka yang ia coba redakan.

tak sekali ia mengumpulkan hujan di kedua matanya, menaruhnya dalam sebuah wadah di kedua tangannya dan mempersembahkan segala duka kepada Yang Maha Pemilik Rasa menghadap kiblat. ia paham betul, bahwa apa yang ia rasakan, hanyalah sebagian dari caraNya mencintainya. perempuan itu bersumpah atas nyawanya; untuk segala yang ada, sujud syukur tak kan habis ia sembahkan. 

bukan luka yang akan membunuh percaya atasNya, tapi dirinya sendirilah yang mampu menjadi musuh terbesarnya; jika saja, ia tak mampu mengendalikan amarah di kepala.

suatu hari yang tak lagi ganjil hadir, Tuhan memberinya jawaban atas doa-doanya selama ini. pria yang ia cintai, sudah seharusnya dibiarkan pergi, bersama langkah kaki yang ia pikir sudi melabuhkan akhir. ia kembali mematahkan langkah kaki. bukan hanya belati yang menorehnya kini, tapi serupa ada peledak yang telah lama mendiami diri; ia buncah, untuk kesekian kali.

ia menenggelamkan diri pada sumudra yang sunyi; agar ia tak melihat dalamnya sayatan yang ia toreh sendiri, agar ia tak lagi mendengar bantahan mengapa malam kerap terjadi, atau agar ia tak lagi mengingat warna pelangi. perempuan itu terkubur dalam liang yang ia ciptakan di jauh hari, ia bahkan tak mampu mengartikan luka itu sendiri. bukan hanya sekali ia coba membasahi perih dengan keikhlasan air yang mengalir, namun hujan telah lama berhenti; semestanya begitu nyeri, ia perlahan mati di kepalanya sendiri. 

pada februari yang basah, perempuan itu berdiri di atas cermin yang begitu malam; mencoba menerbangkan segala rasa yang buncah kepada Yang Maha Pemilik Segala. ia adalah milikNya, dan kepadaNyalah segala seharusnya pulang.

ia tak lagi peduli, jika kelak kerap buncah kembali atau mati untuk kesekian lagi, jika itu ialah satu-satunya cara untuk apa yang abadi; kehidupan setelah mati.

[ Premium Design Simply Cloaks Dress by: @claranolly_ID, artwork by @iitsibarani_ ]

Advertisements